Dunia itu dua suara, tersurat dengan banyak pena kekuasaan

Selasa, 22 September 2015

Indonesia: Bersyukurlah..

Kakek saya, pria generasi 1920-an yang merupakan angkatan ke IV IPB (dahulu masih bergabung dengan Universitas Indonesia), suatu hari bercerita mengenai pengalamannya bersama dosen warga negara Belanda. Dosen tersebut bertanya kepada kakek saya mengapa beliau hendak menuntut ilmu menggeluti bidang kehutanan. Dengan polos, kakek saya berujar bahwa Indonesia kaya akan hutan dan memang inilah satu satunya kesempatan yang ia miliki untuk bersekolah. Perlu diketahui bahwa kakek saya dapat kuliah di IPB karena beasiswa dinas dari kementerian kehutanan saat itu. Selanjunya, sang dosen mengutarakan pendapatnya.....

"Enak kalian yang tinggal di Indonesia, sungguh banyak yang dapat kalian kerjakan. Berbeda dengan di negara kami yang kecil dan tidak banyak hal yang bisa kami kerjakan."

Dosen tersebut berpendapat bahwa beruntunglah kakek saya, teman teman nya, dan seluruh mahasiswa Indonesia (serta rakyatnya) atas kemerdekaan Indonesia dan terlahir sebagai bangsa Indonesia. Banyak yang mampu dikerjakan di tanah ini. Sang bule pun melanjutkan, bahwa di tanah kelahirannya sudah terlalu banyak hal yang dikerjakan, sehingga inovasi terhambat dan teknologi (saat itu) belum dapat dikembangkan

Bingung. Orang Belanda berpikir bahwa Indonesia beruntung (saat itu) padahal baru saja lepas dari penjajahan. Bingung

Dan saya pun kembali bingung ketika hingga hari ini (memang benar) banyak hal yang harus dikerjakan, dan bingung untuk mengerjakannya. Seolah berteriak, "gue mesti mulai darimana sih?"

Ketika menulis ini, saya baru saja turun dari metromini 640 untuk mencapai Stasiun Sudirman. Malam itu perjalanan dari Semanggi-Sudirman 'diusik' oleh pria setengah baya yang ngamen dengan berpuisi.

Puisi?

Duta SO7 berpikir bahwa puisi adalah sebuah bintang. Elok dan indah. Namun mendengarnya di bus kota? Bahkan hampir tidak terdengar suara pria tersebut. Dan menurut saya, pria tersebut amat sangat sungguh bingung dengan hidup

Mungkin terbesit dalam pikirannya, "Apa lagi yang harus ku perbuat untuk menyambung hidup?" dan berpuisi (mungkin) menjadi pilihannya karena sejujurnya saya pun baru sekali mendengar seorang pengamen mencari nafkah di hutan beton dengan puisi dalam bus kota. Inisiatif dan menjadi beda sebenarnya adalah sebuah kreativitas, namun kali ini hal tersebut membingungkan saya

Di sisi lain, kehidupan kantor saya selalu berwarna dan warna warna tersebut penuh masalah dan solusi. Selalu saja terasa kekurangan di sana sini, baik itu berupa teknologi maupun sumber daya manusia. Hal hal remeh sungguh diabaikan di sana dengan dalih tiada manusia yang hendak mengerjakan. Apa pekerjaannya? Mengirim surat, membereskan meja, ataupun menara letak ruang kerja? Sejujurnya saya pun tidak ingin habis waktu untuk mengerjakan itu semua karena banyak hal lain yang harus saya kerjakan. Namun tidak bisakah pria yang berpuisi tersebut melakukannya?

Dari sudut mata pria tersebut, mungkin ia bingung apa yang dapat ia kerjakan. Dari sudut mata saya, saya bingung mengapa pria pria seperti itu, yang berbadan sehat, tidak dapat kesempatan untuk mengerjakan hal hal 'remeh' di kantor? Dan tebak sendiri, kira-kira pria tersebut akan amat sangat bingung gak ya kalo tau di kehidupan kantor saya sungguh banyak hal yang dapat ia kerjakan?

Jika sudah begini, setelah 69 tahun merdeka, saya rasa dosen dari Belanda tersebut tidak salah jika memiliki hipotesa bahwa amat sangat banyak hal yang dapat dikerjakan disini (dan dapat menjadi uang).

Contoh lainnya: Siapa diantara kalian yang mengembalikan set dashboard makanan di restoran fast food ke tempat penampungan? Saya yakin amat sedikit, karena di Indonesia hal tersebut dapat menjadi pekerjaan bagi mereka-mereka yang membutuhkan. Di Singapura (dan mungkin negara lainnya), hal tersebut dikerjakan sendiri oleh sang pemakan ayam dan pemakan burger, sehingga tidak diperlukan lagi banyak waiter untuk membereskannya

Masih bingung apa yang harus dikerjakan?

Minggu, 24 Mei 2015

Selamanya Pertama

Sejak awal zaman, manusia selalu memperbincangkan keperawanan sebagai tolok ukur seorang wanita dalam aktivitas seksualnya. Keperawanan seringkali menjadi objek bahasan sosial, yang apapun artinya, bila tidak sesuai dengan umur maupun status sosial, akan menjadi perbincangan positif dan negatif.

Dari sudut pandang guem gue cuma berpikir bahwa keperawanan itu adalah "awal", yang kebetulannya ada pada sesuatu yang seringkali dianggap sakral dalam kehidupan manusia dan agama. Padahal, selalu ada yang pertama, kan, untuk semua hal?

Bahkan yang kedua pun adalah yang pertama

Ketika lahir seorang anak kedua dari keluarga sederhana, maka anak kedua itu adalah "anak kedua pertama" dan "satu-satu nya anak kedua di keluarga tersebut", yang juga menjadi "adik pertama" dari sang kakak.

Ketika Rossi finish di urutan kedua di Le Mans, Prancis, 2015, maka itu adalah "pertama kalinya Rossi finish di urutan kedua di tahun 2015.

Ketika Anda pindah ke kantor baru, baik itu kantor kedua ataupun ketiga dalam karir Anda, maka tetaplah hari pertama kerja Anda akan menjadi "hari pertama bekerja di kantor baru".

Seringkali orang lupa bahwa waktu itu tidak dapat di ulang. Oh, sorry, gue salah: Orang terlampau ingat bahwa waktu tidak dapat di ulang, sehingga mereka melupakan arti dari kata-kata sakti tersebut. Manisnya sesuatu akan hilang ketika seluruh makanan Anda adalah manisan. Tidak terlihatnya gajah di depan muka adalah hal yang biasa apabila memang sudah terlampau dekat dan terlampau sering.

Kealfaan  manusia akan fakta ini seringkali berujung pada penyesalan, yang kemudian disusun dalam suatu kalimat (agak) bodoh: "Penyesalan selalu datang di akhir". Well, menurut saya, tidak akan ada akhir karena segala sesuatu adalah hal pertama dalam hidup. Yang mungkin membalikkan kalimat (agak) bodoh ini mungkin cuma satu: Pembelajaran. Namun, apakah segala sesuatu yang berjalan dalam hidup ini sama persis dengan apa yang dipelajari pada masa lalu? Big no.

Seseorang yang beriman akan bergumam bahwa apabila penyesalan terjadi, setelah melalui best effort (dengan segala prediksi dan teori-teori), maka itu adalah ujian dari Yang Maha Kuasa, dan inilah satu-satunya jalan untuk mensyukuri hidup.

Ketika menghadapi hari, yang harus dilakukan adalah memotivasi diri sendiri bahwa hari ini tidak akan pernah sama dari hari sebelumnya, dimana kita sudah belajar dari hari hari sebelumnya untuk menghadapi hari selanjutnya, sehingga seluruh hal "pertama" akan menjadi debut yang mengesankan kita semua. Siap untuk menghadapi yang pertama?

Minggu, 15 Maret 2015

Muka Sosial: Realita atau Digital Semata?

Seorang teman pernah bilang bahwa semua yang di posting di dunia maya adalah hanya cover baik nya aja. Seluruh yang terpampang disana hanyalah sisi  kehidupan yang ingin dipamerkan ke penduduk dunia ini (atau mungkin sebagian dari penduduk dunia ini), yang mana bisa jadi itu merupakan bestfriend, co-workers, bosses, atau mungkin temen lama dari jaman SD yang udah lamaaaaaa banget ga ketemu dan akhirnya kembali “berteman” di dunia maya karena dua alasan: Gak enak kalau gak approve friend request-nya, atau temen lo itu udah gak kalah eksis dan menarik hidupnya sehingga lo merasa harus catch up lagi dengan kehidupannya sekarang.

“Eh, jelaslah kalo apa yang lo liat disitu (sebuah jejaring sosial dengan lambang "P") cuma yang bagus-bagusnya aja. Mana mau mereka share sama lo kalo lagi susah”

Gue cuma bisa bilang, ada benernya juga nih kesimpulan. Malahan hampir sepenuhnya benar, sampai gue mengingat kadang ada temen yang emang hobi nya share hal-hal konyol dan cenderung bersifat “memalukan” di mata orang kebanyakan,  yang mungkin di mata dia hal itu bersifat “anjrit kocak banget nih”.

Sebenarnya, jejaring sosial sendiri hingga hari ini masih belum menembus seluruh kalangan masyarakat, atau dalam kata lain gue masih memiliki banyak temen yang tidak (atau mungkin belum) merasakan manfaat dari dunia maya. Beberapa rekan masih ada yang dengan batu nya mempercayai bahwa teknik melamar kerja yang paling efektif adalah door to door macam Si Doel, dengan menenteng hard copy curriculum vitae dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, atau mungkin dari booth satu ke booth lainnya dalam event-event jobfair yang marak diselenggarakan, ketika sebagian teman lebih dulu berpikir, “Emang itu lowongan ga bisa lo temuin di twitter?”

Dari hal ini gue melihat sebenarnya perilaku orang berselancar di dunia maya dengan kekhususan jejaring sosial itu dibagi menjadi beberapa kategori besar utama:

Aktivis Kehidupan
Tipikal orang ini ialah tipikal yang seringkali dapat memprediksi the future after this social networks. Mereka adalah orang-orang yang setelah aplikasi tersebut ramai maka akan segera berpikir, “OMG I’m done with this shit, what’s next?” ketika akun private nya mulai dipenuhi kicauan berbau perdanganan lokal, bahkan oleh temannya sendiri. Orang ini berpikir apapun dalam hidupnya, baik menarik maupun tidak, akan mereka share ke teman-temannya, dan (mungkin) seringkali tidak menyadari (atau tidak menggubris) bahwa banyak temannya di luar sana yang sudah berpikir “Anjir gini gini doang pake di post deh, maunya apa sih?!”.

Go With The Flow
Ini adalah golongan kebanyakan umat manusia saat ini (walau gue belom pernah melakukan research) terutama apabila mereka adalah Gen Y.  Ketika para Aktivis Kehidupan sudah beralih ke jejaring paling update, maka mereka akan mulai membuat account juga, dan bergaul dengan para Aktivis Kehidupan lalu mendorong orang-orang kudet di luar sana untuk join dengan mereka dengan mempromosikan jejaring sosial ini. Sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh para Aktivis Kehidupan. Terlalu banyak variasi dalam golongan ini, dan beberapa diantara mereka seringkali melakukan efesiensi dalam membandingkan “sejak kapan sih gue main ini?” dengan “gue udah berapa kali posting ya sejak pertama kali main?”, dan akan coba menyesuaikan hal tersebut secara berkala, agar tidak terlihat bergeser ke arah Aktivis Kehidupan maupun Silent Reader (yang akan kita bahas setelah ini).

Silent Reader
Yang terakhir adalah tipikal orang kudet tapi tidak tertinggal. Mereka tipikal orang-orang yang sudah terinformasi apa yang booming sejak lama, namun menyangsikan kegagahan dan kehebatannya sehingga menghabiskan banyak waktu untuk menganalisa “Buat apa sih gue main itu?” hingga akhirnya menyerah terhadap dominasi dan tekanan khalayak luas dalam superioritas jejaring sosial, lalu bikin akun dimana salah satu hal paling konyolnya disebabkan oleh perubahan status: pacaran!

Dari tiga golongan utama yang gue share di atas, at the end of the day semuanya bergabung pada jejaring sosial, dan kehidupannya terukut dari: jumlah posting, apa yang di posting, kapan melakukan posting, daaaaaan sebagainya yang menjurus pada satu kesimpulan bagi yang memperhatikannya: apa sih tujuan dia melakukan posting tersebut?

Kode? Atau jangan-jangan, terpaksa?

Jika gue boleh berpendapat, hari gini, 2015, ketika seluruh kebebasan berpendapat (yang bertanggung jawab, tentunya) dapat disuarakan oleh siapa saja, even itu mencak-mencak terhadap Presiden negara ini, maka tidak seharusnya aktivitas jejaring sosial dilakukan dengan terpaksa. Bener ga?

Dalam perjalanan gue menggunakan jejaring sosial, gue selalu share apa yang memang pengen gue share, dan gue sendiri menggolongkan diri gue dalam kelompok orang-orang “Go With The Flow”, yang melakukan efesiensi dan tidak begitu memperdulikan spam-spam pedagangan lokal.

Tentunya, sungguh sah apabila orang menggunakan jejaring sosial untuk tujuan tertentu: kampanye politik, beropini tentang hak asasi, memperjuangkan demokrasi, hingga flirting sana dan sini. It’s your own expression and nobody can’t stop you, unless you breaking a life-rule. Namun yang gue sayangkan hari ini ialah beberapa orang menggunakan jejaring sosial karena terpaksa.

Kok tau? Iya, karena gue kenal orang-orang itu, dan gue yakin beberapa diantara mereka tidak mengerti mengapa mereka harus menggunakan jejaring sosial tersebut, dan/atau posting hal hal yang tidak mereka inginkan,, apalagi karena faktor eksternal.

Ada beberapa teman gue yang menggunakan jejaring sosialnya hanya untuk berpacaran: posting apa yang mereka lakukan bersama pacarnya, yang bahkan dilakukan oleh pacarnya sendiri, bukan sang pemilik akun. Sebagian dari beberapa teman gue itu malah mengaku bahwa mereka tidak mengerti mengapa pacarnya menghendaki hal seperti itu. Sebagian dari orang-orang yang tidak mengerti ini pun berpikir kembali, “They kill their own market, don’t they?”, dan beberapa orang yang berpikir demikian, parahnya, tetap menemukan pacar mereka berselingkuh setelah melakukan perilaku tersebut.

Bukan mau suudzon, tapi banyak kan diantara kalian yang ketika melihat akun sosial temen kalian dan mendapati isinya seperti album perpacaran semata?

Gue tidak merasa hal ini adalah satu-satunya concern gue dalam memperhatikan perilaku manusia di jejaring sosial. Sejak Facebook booming pada pertengahan dekade kemarin, dan setelah The Social Network yang menceritakan perjalanan Mark Zuckerberg dalam menciptakan Facebook, jejaring sosial selalu menciptakan kawan dan lawan.

Maka gue rasa pantas bila hari ini kita semua harus kembali mempertanyakan, benarkan apa yang terlihat di jejaring sosial selama ini adalah fakta, realita, atau jangan-jangan hanya fana digital semata?

Minggu, 27 Juli 2014

Cepat Tepat

Sejak kecil, setiap orang rasanya ingin segera besar. Anak kecil pun seringkali menerima pertanyaan, “Kalo udah gede mau jadi apa?”. Mungkin sang penanya ingin menumbuhkan mimpi di setiap jiwa jiwa muda itu, atau mungkin juga sepenuhnya penasaran apakah cita-cita mereka. Namun apapun tujuan sang penanya, saya yakin mayoritas setiap anak kecil ingin segera tumbuh besar.

Ketika bocah lelaki ingin segera mengendarai motor dan mobil, maka bocah perempuan ingin segera jago masak ataupun menimang anak. Apakah seindah itu meninggalkan masa kecil?

Sialnya, ketika mereka semua beranjak besar dan memasuki fase remaja ataupun dewasa, mereka benar-benar tidak diharapkan untuk me-reka ulang apa yang telah mereka lewati. Sekali saja mengulang masa kecil mereka, maka tak jarang terderang sahutan, “Lo waktu kecil main apa aja deh?” ataupun “Masa kecil lo kurang bahagia, ya?”.

Semua orang gue rasa sudah cukup paham bahwa kedewasaan tidak bisa diukur dengan satuan umur. Apa yang anak kecil mau (dan jawab) ketika mereka masih kecil adalah “menjadi besar”, bukan “menjadi dewasa” mengingat sangat jarang orang bertanya “Kalo udah dewasa nanti mau apa?”. Setuju? Meskipun maksud kata ‘gede’ atau ‘besar’ yang terucap dari para penanya adalah ‘dewasa’, namun kedua hal ini tentunya tidak bisa disamakan. Maka jangan salahkan mereka bila tumbuh hanya menjadi besar dan (kurang) dewasa sesuai umurnya.

Jika merujuk pada arti kata yang tersurat, maka sukseslah seluruh anak kecil itu ketika mereka tumbuh besar dan berhasil mengendarai motor dan mobil, ataupun menimang anak pada waktu dan proses yang salah. Toh itulah harapan mereka secara tersurat. Mereka besar dan tidak seorangpun menjamin kedewasaan dalam diri mereka.


Melihat hal ini, gue jadi makin percaya bahwa setiap pelajar dan mahasiswa berhak untuk lulus di waktu yang tepat, bukan cepat-cepat. Sama perlakuannya dengan alasan para ‘anak besar’ untuk menikah di waktu yang tepat ketika banyak orang menggoda mereka untuk cepat-cepat. Semua (akan) selalu indah pada waktunya.

Minggu, 20 Juli 2014

Darat, Laut, dan Udara

Gue rasa yang namanya hidup itu selalu saja penuh dengan perbedaan, pertentangan, dan juga penerimaan. Setiap orang, termasuk kalian yang lagi membaca tulisan ini, pasti pernah dan akan selalu menemukan perbedaan pada setiap individu, pertentangan pada setiap kelompok, dan juga penerimaan pada setiap pasangan. Boleh jadi, ini adalah hal yang matriks. Boleh jadi, mereka yang berpasang-pasangan, menghadapi pertentangan (bahkan perceraian) dikarenakan perbedaan dan hilangnya penerimaan. Boleh jadi pula, mereka yang bersaudara dan berlandaskan satu kesamaan kemudian memutuskan untuk menjadi berbeda dan memulai pertentangan, seperti yang dilakukan kacang ketika ia melupakan kulitnya.

Semua itu mungkin, dan apa yang membuat itu semua menjadi sebuah kemungkinan ialah kehidupan itu sendiri. Albert Einstein menyimpulkannya dengan sebuah kalimat: Satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Sebuah titik perbedaan akan terus mendorong kita kepada dimensi yang berbeda pula, maka jangan remehkan satu jengkal pun perbedaan dan jangan pernah heran bila itu mendorong kalian ke perbedaan sebesar jurang di kemudian hari.

Darat, laut, dan udara. Semuanya fakta. Masing masing diantaranya menganggap satu sama lain adalah alam fana. Manusia, dengan ilmunya berusaha untuk tidak hanya hidup berdampingan di tiga alam berbeda, namun juga hidup di dalamnya, maka terciptalah gantole dan olahraga scuba-diving. Namun tetaplah jelas bahwa perbedaan lingkungan hidup tidak dapat dihilangkan meskipun dengan usaha yang sedemikian rupa.

Seorang teman berpendapat bahwa yang namanya selera itu tidak ada sekolahnya. Kalimat aktif ini benar, dan saya memilih untuk mengucap ulang kalimat tersebut secara pasif: Tapi sekolah tentunya menentukan selera (setiap orang). Maka jelaslah ikan-ikan di akuarium mungkin akan bahagia berenang di tempat yang ‘segitu-gitu aja’ selama ia tidak pernah melihat lautan. Jelas pula bahwa seseorang tidak akan berpikir membeli Gucci bila seumur hidupnya tidak pernah mengerti apa itu Gucci.

Lalu kemudian akan muncul perbedaan, pertentangan, dan (mungkin juga) penerimaan diantara makhluk-makhluk tidak-matriks ini. Manusia darat akan merasa paling hebat dan menceritakan gunung dan hutan ketika berpendapat melawan ikan laut yang mengagung-agungkan luasnya lautan dan kehidupan terumbu karang didalamnya. Segala hal ini tidak akan menemukan titik terang hingga ada keputusan untuk melakukan penerimaan terhadap setiap individu terkait.

Tentunya kalian pernah bersahabat dengan orang yang sombong, dan kalian berusaha untuk mengingatkannya dengan melakukan beberapa aksi dan cara yang berbeda namun tidak berhasil.

Tentunya kalian pernah bersahabat dengan orang yang tidak percaya diri, dan kalian berusaha meningkatkan kepercayaan dirinya dengan beragam trik berbeda namun tidak berhasil

Atau mungkin kalian juga pernah bersahabat dengan orang yang comel, yang kalian tidak begitu suka dengan sifat tersebut dan berusaha mengingatkannya bahwa itu tidaklah bijak, namun tidak berhasil.

Apakah kalian harus berhenti bersahabat dengan mereka-mereka semua, yang jelas berbeda dengan diri anda, dan jika diruntut alasannya maka akan tercipta begitu banyak cerita yang berujung pada perbedaan lingkungan hidup? Gue rasa, jangan.

Jika anda seorang bos besar yang memiliki karyawan yang tidak pintar, maka mungkin mudah untuk memberhentikannya dari pekerjaan. Namun jika anda adalah orang tua yang memiliki anak yang tidak pintar, apakah anda berpikir untuk memberhentikannya (dari sekolah)?

Penerimaan adalah jawabannya. Sulit, namun pasti bisa. Gue pernah berujar pada seorang teman (yang dia sepakati) kira-kira seperti ini: Kadang-kadang kepikiran, daripada selamanya jadi buntut naga, mendingan jadi kepala ayam?


Gimana menurut lo?

Rabu, 09 April 2014

Media Kita

Orang bijak seringkali berkata bahwa gajah mati meninggalkan belang, dan sepantasnya manusia mati meninggalkan tulisan. Pada masa masa terdahulu, sangat dimungkinkan bahwa yang dimaksud dengan tulisan adalah sesuatu yang ditulis oleh individu itu sendiri, namun sekarang gue percaya bahwa yang dimaksud tulisan itu bisa berupa apapun yang tertulis berkaitan dengan dirinya. Ketika Harper Lee meninggalkan novel legendarisnya To Kill A Mockingbird, dan Adam Smith meninggalkan Wealth Of Nations di dunia ini, maka dua buah karya tulis beda jenis ini mampu merefleksikan banyak hal mengenai mereka semasa hidupnya, yang mungkin begitu dicari oleh orang-orang yang hidup di zaman setelahnya, termasuk gue (mungkin).

Namun hari ini semua berubah sedemikian rupa. Teknologi lagi lagi menjadi jawabannya. Media menjadi binatang buas di alam nyata, ketika jeruji tidak lagi sama, sehingga kebun binatang pun adalah hal yang fana. Layar kaca menampilkan kita beragam suka dan duka ketika kertas koran bertuliskan berita kesenangan dan juga kesengsaraan. Semua menjadi begitu biasa, tak terkecuali fitnah dan alih kata.

Sebenarnya apapun bahasa dan apapun yang tertulis di luar sana, semua akan menjadi sah-sah saja karena tulisan menjadi salah satu karya seni manusia. Tidak semua orang suka menulis dan lo bisa tanya sama orang terdekat lo, apakah dia suka menulis atau tidak. Gue juga gak bilang bahwa menulis adalah hal yang sakral, sulit, atau anti-mainstream, karena setiap orang berhak memilih apakah dia mau menulis atau tidak.

Yang menjadi masalah hari ini ialah, apakah segala yang tertulis itu adalah benar? Plagiarisme menjadi objek yang paling sensitif dalam setiap jenis karya seni manusia. Namun menulis sebuah fakta (menurut saya) telah menjelma menjadi problema di setiap manusia hari ini. Percayakah Anda?

Bagi gue yang suka menulis, gue menyarankan kalian semua, para pembaca, untuk tidak mempercayai seluruh hal dari apa yang kalian baca. Tulisan terkadang fana, hiperbola, bahkan anti-fakta. Seluruh tulisan harus kalian baca, namun tidak seluruh tulisan harus kalian cerna. Dulu pernah ada senior gue berkata bahwa dalam berteman, lo harus coba berteman dari yang ‘sajadah’ hingga ‘haram jadah’. Gue pikir hal ini juga berlaku dalam membaca. Bacalah dari yang ‘sajadah’ hingga ‘haram jadah’, maka selanjutnya lo bisa memilih apa yang menarik perhatian lo untuk dibaca.

Membaca tulisan juga mempengaruhi pola pikir manusia, terutama generasi instan. Gen Y, yang katanya adalah generasi saya (yang mencerminkan kehidupan instan dan anti-loyalitas), adalah generasi yang akrab dengan quotes-quotes orang terkenal, tokoh-tokoh besar Gen X, dan sering menumpahkannya dalam jejaring sosial. Sebutlah Path atau Tumblr, hingga orang tersebut mengakhiri hari nya dengan “Anjir ini gue banget”, atau mungkin “Gila sumpah gue pernah giniiii”.

Semua yang beredar disana itu kan sebenarnya adalah ‘katanya’, dan hanya sekedar ‘katanya’, tanpa ada bukti jelas yang berbicara. Gue gak bilang seluruhnya, tapi sebagian besar demikian adanya. Dimana kalian baca quotes-quotes terkenal? Share gambar dari jejaring sosial? Seberapa banyak yang mengecek ulang kebenarannya? Bukankah lo semua juga tau bahwa sebegitu mudahnya melakukan edit foto hari ini?

Bahkan beberapa kali gue mendapatkan fakta bahwa ada aja orang yang memajang foto orang lain sebagai foto dirinya dengan menyamarkan muka ‘orang di foto tersebut’ dengan gambar muka kucing. Crazy world.

Gue tidak mengajak kalian untuk tidak percaya, tapi hanya mengingatkan bahwa segala kata-kata yang ada diluar sana itu tentunya gak seluruhnya benar. Sir Alex Ferguson dalam autobiografinya menjelaskan bahwa media seringkali merangkai ulang kata-katanya ketika press conference menjadi menarik untuk headline, namun membuyarkan arti inti dari kalimatnya. Karena gue telah menakut-nakuti lo semua terhadap validitas tulisan, untuk yang ini silahkan cek di bab XX.

Masih mau gampang percaya?


Kamis, 27 Maret 2014

Terserah Bapak Saja...

Seminggu terakhir ini gue selalu mendengarkan satu channel radio yang sama setiap harinya, terutama di jam-jam hectic dalam hidup gue. Kisaran jam 5-7 dan 17-20, gue setiaaaaaa banget sama salah satu radio yang kalo pagi dihebohkan dengan ocehan Farhan dan Asri. Gue rasa, gue kurang banyak selera dalam memilih channel radio, karena pilihan gue sebenernya ‘itu itu aja’, sampe akhirnya gue seminggu ini gak tergoda untuk mengutak atik radio mobil.

Selama gue dengerin seluruh bagian dan ocehan yang keluar dari radio itu, termasuk lagu-lagu terbaiknya, gue hampir tidak menemukan bagian yang menjadi ciri khas dari siaran radio itu. Terkecuali pagi, sih. Soalnya tiap pagi tentunya pembawa acara radio kan berbeda-beda. Yaaa, well, tetep aja itu bukan sebuah ciri khas sih bagi gue, dan gue juga gak butuh ciri khas. Yang penting enak, gue denger.

Sore ini sesuatu terjadi. Ada sebuah ocehan jokes baru yang belum pernah gue denger sebelumnya selama berminggu-minggu dari radio ini. Kira-kira begini ceritanya:

Pada suatu hari, terdapat sepasang pemuda bukan homo yang hendak mengabdi untuk negaranya. Mereka berdua berjuang melalui jalur interview agar mampu berkontribusi bagi nusa dan bangsa. Sampe nya barengan, dan mereka bertemu seorang lagi disana. Lima menit kemudian orang pertama dipanggil masuk ke interview.

“Mas, seratus tambah seratus berapa?” kata yang nanya.

“Dua ratus, Om!” jawab orang pertama.

“Yyyyyaaaaaa, maaf mas gak diterima. Kalo gini caranya, Mas bisa korupsi!” jawab yang nanya dengan lantang dan menggema.

Keluar deh orang pertama, lalu orang kedua masuk bergantian.

“Siapa bro nama lo?” kata yang nanya.

“Karmin, Om. Saya keterima gak jadinya?” jawab orang kedua.

“Ooooh bentar-bentar. Seratus tambah seratus berapa ya bro?”

“Seratus lima puluh, Om! Keterima gak nih??” kata orang kedua yang mulai penasaran.

“Gagal. Keluar lu. Yang kaya lu nih bro, ini bisa me-ru-gi-kan negara, tau ga?”

Maka banting pintu lah si orang kedua ini, sehingga masuklah yang ketiga.

“Pak, saya mau interview, Pak, hehe, pertanyaannya apa ya, Pak?” kata orang ketiga yang kayaknya agak kampungan.

“Seratus tambah seratus berapa cepet jawab!”

“Ooohhh, kalo yang begitu sih saya sih gimana bapak aja pak, saya ngikut pak berapa aja saya tetap oke! Hehe” jawabnya dengan cengengesan.

“Nnnnaaahhhh, ini yang saya cari. Pas nih kamu buat negara. Mantap jaya! Hahahaha minggu depan langsung masuk ya!” jawab sang penanya dengan sumringah.

Maka diterimalah orang ketiga, yang tidak salah namun tidak mampu menjawab dengan benar dalam interview.

Gue agak terkesima sedetik-dua detik setelah denger cerita dialog diatas dari radio. Mungkin disini kurang lucu, tapi di radio itu sumpah lucu. Dan bukan karena hal lucu nya yang membuat gue terkesima, tapi intisari dari percakapan itu sendiri.

Apa bener para pejabat negara sekarang tidak butuh orang yang benar, melainkan yang ikut-ikut saja agar sang pejabat terus diatas dan memperluas kekuasaannya? Apakah politik sekarang begitu polos untuk meneruskan sebuah dinasti? Gue pikir sih dimana-mana pasti begitu. Kolusi adalah praktik yang seringkali terjadi, terutama dalam hubungan keluarga. Namun bila kolusi tersebut berubah jadi konspirasi yang tidak akan mampu menghasilkan sesuatu yang signifikan, apakah boleh ditolerir?

Seringkali gue denger kalo di Indonesia jangan jadi orang yang pinter-pinter amat, nanti digulingkan macam Habibie. Seringkali juga gue denger jangan jadi orang yang terlalu jauh cari ilmu, nanti cuma jadi pengangguran bergelar Phd. Dan seringkali pula saya mendengar bahwa kesuksesan itu berasal dari asas melayani dan jilat muka sana-sini.

Sayangnya, di dialog diatas tidak menceritakan momen dimana seseorang yang memiliki jawaban benar mampu dikalahkan oleh seseorang yang ‘tidak mampu menjawab’. Dialog diatas hanya menggambarkan bahwa orang yang mentalnya ngikut, melayani, dan tidak mampu menjawab adalah orang yang berhasil. Dalam kacamata gue, seharusnya tidak seorangpun diterima karena jelas pertanyaan mudah itu tidak ada yang berhasil jawab. Tapi pria muda yang manut dan bermental ngikut itu, ditambah modal cengengesan tebar senyum pesona, mengalahkan pesaing lainnya.

Apakah seperti itu politik kita? Apakah perlu mengorbankan intelektual dan/atau memilih untuk tidak mengutamakan kemampuan, tapi mendahulukan muka dan mental pelayan? Adanya seorang warga negara kita yang mampu bercerita seperti itu membuat gue berpikir, “Apakah bener ada orang yang berpikir sesempit itu, ya?”


Tentunya pemimpin bukanlah seorang bermental pelayan, tapi seorang yang mampu bertindak benar dan mampu melayani.

Sabtu, 22 Maret 2014

Ekspektasi

Pernah denger lagu Khalayan Tingkat Tinggi? Lagu yang populer dengan suara Ariel, vokalis Peterpan, ini sedikit banyak bercerita mengenai apa yang dinamakan dengan mimpi dan harapan. Dalam liriknya yang bisa lo semua cek di google, tersurat seluruh harapan sang penyanyi terhadap seorang gadis idaman.

Tidak jauh dari itu, rasanya hampir semua lagu jaman sekarang seringkali bercerita mengenai cinta, sampai-sampai Cholil dari Efek Rumah Kaca mungkin bosen dan terinspirasi menciptakan Lagu Cinta Melulu. Gue rasa semua cinta itu berasal dari harapan yang terkadang terlihat fana namun bisa jadi benar adanya

Dari kacamata gue, gue merasa sebenarnya seluruh hidup kita itu berawal dari harapan. Hal Lindsey berujar, "Man can survive 40 days without food, 3 days without water, 8 minutes without breathing, but only a sec without hope". Harapan selalu menjadi kunci dari segalanya, karena tampa adanya harapan memperoleh makanan, air, ataupun bernafas, segalanya menjadi sia-sia saja.

Terus apa sih yang dimaksud dengan harapan? Harapan bagi gue sudah sewajarnya memperlihatkan keinginan dan kegigihan untuk mencapai kehendak yang ingin dilakukan. Harapan juga sepantasnya menciptakan kemampuan dan mengakali segala permasalahan menjadi sebuah proses penyelesaian. Harapan bukanlah sesuatu yang independen, melainkan kontrol. Harapan harus diciptakan, kecuali lo melawan Tuhan.

Seminggu terakhir ini ada sebuah pertanyaan terlempar dari mulut pengisi materi training di kantor. Beliau berujar, "Apa sih yang menggerakkan harga pasar (saham)?". Maka beberapa saat kemudian terlempar pula beragam jawaban, dan jawaban paling tepat ialah 'ekspektasi'. Orang yang menggerakan harga. Tepatnya jutaan orang pemain saham lah yang menggerakannya. Sesuai dengan cara berpikir seorang ekonom, penawaran dan permintaan lah yang akan mempengaruhi harga suatu komoditi. Pengisi materi pun menambahkan bahwa banyak jawaban yang mampu menjelaskan perubahan harga saham, namun kata 'ekspektasi' menjadi yang terbaik. Idem bagi gue.

Lucunya, dalam kehidupan seringkali orang berpikir bahwa ekspektasi itu menyakitkan. Dalam tulisan gue sebelumnya, jauh sebelum posting ini, gue pernah membahas apa yang sebut batas atas dan batas bawah sebuah ekspektasi. Mungkin ada baiknya gue ulang sekali lagi. Bandingkan:

"Bercita-citalah setinggi langit, sehingga jika gagal, maka Anda mendapatkan awan"

"Bercita-citalah setinggi langit-langit, sehingga Anda pasti mampu meraihnya"

Kalimat pertama memiliki ekspektasi tinggi, namun tersirat bahwa keyakinannya adalah hanya mencapai awan. Sedangkan kalimat kedua memiliki ekspektasi rendah, namun amat sangat yakin bahwa ekspektasi tersebut mampu (dan pasti mampu) diraih.

Bagi gue, segala ekspektasi harus diciptakan, dan tidaklah bijak jika mengungkapkan ekspektasi dengan keyakinan tidak mampu memperolehnya. Walau pada akhirnya kita semua harus berserah diri pada Tuhan YME, yang mutlak menentukan pencapaian lo semua, tapi tidak bijak kan jika berujar tanpa keyakinan?

Kasarnya, apa bedanya dengan menipu diri lo sendiri? Gue juga merasa motivasi tidak dilahirkan dengan kata-kata dari diri sendiri, tapi dari ketakutan akan kegagalan.

"Aduh, gue takut nih kalo gak lulus" atau "Kalo gak lulus gimana ye?" gue rasa adalah bagian dari cara setiap pribadi (salah satunya gue) untuk memotivasi diri sendiri. Bukankah setiap kehidupan yang hidup pasti memiliki tantangan? Bukankah hampir semua orang mengatakan bahwa kesuksesan tidak akan berasal dari comfort zone, dan membutuhkan usaha untuk mampu keluar dari sana?

Banyak orang bijak berujar bahwa yang berhasil itu adalah orang yang berfokus diri pada kelebihan, bukanlah kekurangan. Setuju, tapi lebih setuju lagi dengan, "Orang yang berhasil itu adalah orang yang berfokus diri pada tantangan, berekspektasi menyelesaikan tantangan tersebut, dan selesai."

Semoga semua mampu berkhayal tingkat tinggi, dan meraihnya. Amin

Senin, 17 Maret 2014

4.15

Pada dasarnya, hidup gue tiga minggu terakhir ini dimulai pada pukul 4.15. Alarm ponsel berbunyi, maka waktunya untuk segera pergi mandi. Pagi sekali, tapi yaaaaa mau apa lagi. Kereta menanti, busway siap untuk kunaiki. Selamat pagi, Jakarta.

Tapi suer deh di waktu yang amat sangat pagi sekali ini, gue rasa gue mulai lebih menghargai waktu per menitnya. Bagi kalian yang mungkin sudah terbiasa untuk menggunakan Commuter Line Jabodetabek, terutama dari Bogor, maka pasti ngerti deh apa arti telat satu menit untuk satu kursi demi satu jam sauna.

Hal yang paling menarik dalam hidup gue tiga minggu terakhir ini adalah kemampuan gue untuk melihat lebih jauh sisi kemanusiaan para rombongan kerja. Gue mulai banyak mengetahui seberapa pentingnya kereta bagi mereka semua. Seberapa rela nya mereka berdesakan untuk pekerjaan. Seberapa capek nya seorang ibu tergopoh turun angkot mengejar kereta. Juga seberapa tangguhnya mereka-mereka yang mengurusi perjalanan kereta setiap harinya.

Hari pertama, gue cuma melihat kucuran keringat. Hari kedua, gue cuma melihat ibu-ibu sok lugu memohon kursi pada pria gagah di ujung gerbong kereta. Hari ketiga, gue mulai muak dan merasa kereta bagaikan neraka. Namun hari keempat, gue melihat kehidupan ini semua jauh lebih dalam dari sekedar yang saya lihat.

Pernah nonton "I Don't Know How She Does It"? Film ini menceritakan kehidupan seorang istri, ibu, dan wanita karir yang sukses  namun cukup kesulitan mengatur waktunya karena begitu dibutuhkannya ia dalam setiap detik kehidupan suami, anak, serta bos nya. Sarah Jessica Parker memerankan tokoh utama dengan luar biasa dalam film ini, dan bila ada film seperti itu, maka gue percaya pasti amat sangat banyak orang diluar sana yang memiliki hidup serupa.

Tentunya ibu-ibu yang tergopoh-gopoh turun angkot dan berlari mengejar kereta setiap harinya adalah ibu-ibu yang (sebagian besar) memiliki keluarga. Jika dia jam 5.00 sudah di stasiun, jam berapa ia meninggalkan rumah, keluarga, dan anak-anaknya? Akan amat sangat luar biasa bila ia membereskan semua pekerjaannya sebagai seorang istri dan ibu tepat waktu sebelum berlari ke stasiun kereta. Lalu juga bapak-bapak kaya dengan pangkat tinggi yang masih saja rela berdesakan di kereta sauna untuk menafkahi keluarganya. Bukan tidak mampu bayar transportasi lain, tapi macet di jalanan Jakarta amat sulit untuk di prediksi. Kereta sauna, baginya (dan bagi saya juga), memang terasa neraka namun lebih mudah untuk ditakar waktunya.

Dan semua perjuangan mereka ini belum gue jelaskan dengan adu otot ketika turun kereta nantinya. Sejauh ini, penumpang kereta memang belum banyak mengerti apa definisi dari kata 'antre', walau gue merasa alhamdulillah bila penumpang busway TransJ tidak se-beringas KRL.

Entah kenapa, gue merasa senang aja memperhatikan para penumpang kereta setiap perjalanan pulang dan pergi kantor. Melihat begitu banyak orang berbeda, dengan tujuan naik kereta yang mungkin serupa dengan gue, namun pasti raut muka mereka menggambarkan seperti apa hari yang telah mereka lalui.

Dan menyenangkan bila melihat orang begitu bersemangat turun kereta dan hendak pulang menuju keluarganya. Sedikit sisi humanis ini menggambarkan sungguh banyak rasa sayang mereka terhadap yang menunggu di rumah. Semoga kedepannya Jabodetabek dapat merasakan kualitas perjalanan kereta yang lebih baik lagi, mengingat ribuan orang baik rela mengantre dan menggunakan jasanya.

Selasa, 25 Februari 2014

Aura Gaib

Gue selalu percaya kalo kepercayaan itu sesuatu yang gak bisa lo buat dalam semalem. Kepercayaan itu dilahirkan. Bagi saya, kepercayaan, sesuatu yang muncul dari sebuah proses, adalah ukuran dari harga sebuah pribadi di mata masyarakat. Dengan kepercayaan, beragam hal dapat terlihat lebih nyata  dan terprediksi mendekati pengharapan yang ada.

Kayaknya udah berulang kali dalam beragam tulisan gue menjelaskan apa definisi kepercayaan tersebut bagi gue pribadi. Berulang kali juga gue menjelaskan bahwa kepercayaan itu diawali dengan 'hamil' dan 'melahirkan'. Yang jadi pertanyaan gue saat ini, seberapa jelas blue-print dari sebuah definisi 'hamil' dan 'melahirkan' kepercayaan tersebut? Apakah semua kepercayaan berasal dari kandungan yang serupa dan dilahirkan melalui media yang sama?

Agak sukar gue menjelaskan ini karena pada dasarnya gue melihat bahwa penilaian sebuah kepercayaan itu bermacam-macam. Gue punya teman dengan tipikal orang yang gampang percaya, yang juga berarti gampang ditipu. Ada pula orang yang susah percaya dan merasa tidak begitu yakin bila belum melihat dan mengerti sepenuhnya, contohnya bokap gue. Pendekatan kedua macam orang itu berbeda pula. Yang pertama lebih menghargai pertemanan dan jiwa sosial, sedangkan yang kedua lebih logis, teknis, dan well-planned.

Dari dua macam manusia yang berbeda cara memandang arti dari sebuah kepercayaan, kepercayaan tetap hadir dalam kehidupan mereka. Maka jelaslah proses 'hamil' nya berbeda karena cara pandang yang berbeda pula. Ketika salah satu hanya perlu berkata, "Eh gue nitip mobil ya di rumah lo? Sabi kan?", dengan asumsi dia sendiri belum pernah datang melihat garasi dan tingkat keamanan rumah tersebut, ketika orang yang lainnya harus, "Bro, lo di rumah ga ntar sore? Gue main dong. Ada rencana mau nitip mobil nih di rumah lo kalo aman. Boleh ga?"

Hal yang menurut gue menarik adalah, gue percaya bahwa hal yang paling jujur yang menentukan kepercayaan sebuah kepercayaan adalah aura.

Gue sendiri gak begitu paham apa sih arti dari sebuah aura manusia. Ada yang menjelaskan bahwa aura adalah energi positif yang terpancang dari dalam diri. Selain itu juga banyak rumor bila aura tuh banyak macam warnanya, dan melambangkan kepribadian setiap manusia. Bukannya gue gak percaya, tapi gue gak bisa liat warna apapun jadinya gak bisa yakin juga terhadap warna-warna tersebut.

Namun walau gue gak begitu mendalami pengertian dari aura tersebut, gue tetap percaya bahwa aura itu ada, aura itu terpancar dari dalam diri manusia, dan aura mampu menentukan kepercayaan orang lain terhadap diri kita. Kenapa? Karena bagi gue, aura itu dibentuk oleh perjalanan waktu.

Beberapa waktu yang lalu alhamdulillah gue diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang saham. Melalui penelusuran yang gue lakukan di berbagai media, perusahaan ini adalah nomor wahid di seantero Indonesia. Gue percaya, dan jika kalian bertanya sama gue apakah gue udah pernah kesana atau belom pada saat memutuskan untuk percaya, maka jawabannya adalah, "Belom. Bahkan punya kenalan disana aja kaga".

Mungkin itu cukup simpel karena melihat dari sisi gue, pencari kerja, yang sebenarnya memang tidak mencari-cari alasan untuk tidak percaya pada perusahaan. Tapi gimana kalo dilihat dari sisi mereka, si perusahaan?

Dalam perjalanan proses seleksi, gue melalui beragam tahapan termasuk psikotes dan beberapa wawancara. Yang menarik, sebagai fresh-graduate yang ijazahnya belom jadi, mereka tetap percaya gue adalah fresh-graduate, tanpa sedikitpun berkas asli kelulusan yang gue tunjukan, contohnya surat tanda lulus. Satu-satunya hal yang gue perlihatkan adalah CV dan fotokopi KTP.

Aura. Ya, gue pikir mungkin selama ini tidak pernah ada yang mencoba menipu mereka, dan gue pun gak nipu karena emang udah lulus, tapi aura yang menjawab itu semua. Apa yang mereka cari tentunya adalah kandidat terbaik untuk perusahaan tersebut. Bagi gue, definisi terbaik juga termasuk dalam proses 'mampu memberi lebih banyak dari apa yang perusahaan beri'. Mereka harus mengetahui seluk beluk orang tersebut sebelum menerimanya karena mereka akan berinvestasi sumber daya manusia.

Dan proses melihat potensi investasi tersebut tergambarkan dari rangkaian seleksi yang dijalani, utamanya wawancara. Maka ketika gue diterima, pertanyaan gue terletak pada, "Apa ya yang membuat gue diterima?". Bukannya gimana gimana, tapi proses wawancara terkadang proses yang cukup gaib untuk diramalkan.

Contohnya, sebagian pihak pernah menjelaskan pada saya bahwa kadang terlalu ambisius itu buruk, seperti bila menjelaskan bercita-cita menjadi direktur di perusahaan tersebut bila diterima. Nyatanya, selalu ada juga cerita teman diterima dengan menjawab seperti itu, walau tentunya ada juga yang tidak.

Contoh lainnya, sebagian pihak berusaha keras menampilkan yang terbaik dalam proses wawancara dan mengikuti segala yang diminta oleh pewawancara, termasuk menunjukan kemampuan berbahasa asing. Banyak dari kalian tentu berpikir bahwa bila tidak mampu menunjukan dengan baik, maka logisnya itu sudah menjadi nilai buruk dari wawancara kalian. Nyatanya, gue punya teman yang menawar, "Boleh dengan bahasa saja, Pak?" dalam proses wawancara ketika diminta untuk berbahasa Inggris, dan diterima.

Gaib, dan gue pikir Aura lah yang menjawab semua itu (dan tentunya doa).


Kamis, 20 Februari 2014

Ikan-Ikan Politik

Sejujurnya, saya bukanlah orang yang banyak mengerti seluk beluk politik Indonesia. Bagi saya, politik seringkali terlihat baik dan seringkali pula terlihat buruk. Prestasi politik di mata saya ini agaknya mudah untuk dibayangkan sebagai grafik yang sangat fluktuatif: Senin baik, Selasa hancur. Sebagai bagian dari pemuda non-partai, masyarakat sipil, mahasiswa ekonomi, dan calon pemilih pada Pemilu 2014, kebanyakan pengetahuan politik saya peroleh dari berita-berita yang beredar di media massa.

Tidak pernah rasanya saya tertarik bicara panjang soal politik karena saya selalu lebih tertarik berbicara soal pemikiran-pemikiran manusia dalam hidupnya. Kali ini, saya pikir sebuah keputusan politik telah mengecewakan saya sebagai penduduk Indonesia.

Berita #SaveRisma santer beredar di masyarakat hampir dua minggu terakhir ini. Semua pihak, dari kacamata saya melalui pemberitaan media massa, menyayangkan rencana pengunduran diri salah satu pemimpin terbaik pilihan Tempo 2013 ini. Dari yang saya coba telaah, beliau tampaknya telah bersiap diri untuk mundur dari kursinya terkait sederet isu politik yang menerpa kewajiban, hak, dan juga pribadinya.

Dari sisi kewajiban, beliau tampaknya memperoleh tekanan begitu kuat atas penolakan proyek pembangunan tol di Surabaya. Menurut Risma, proyek tol, yang telah 'gol' oleh walikota sebelumnya, tidak tampak cukup baik untuk mengentaskan permasalahan lalu lintas Surabaya. Dalam beberapa kesempatan, beliau tampak gigih untuk lebih memprioritaskan proyek trem yang direncanakan berjalan tahun ini. Agaknya, permasalahan ini juga pernah terjadi di Bandung, ketika gerakan #SaveBabakanSiliwangi akhirnya berhasil mencapai tujuannya melalui Ridwan Kamil.

Saya berpikir bahwa jelaslah setiap pemimpin memiliki cara tersendiri untuk memimpin kalangannya, baik itu skala kecil maupun besar. Kewajiban dalam pekerjaan politik seringkali terlihat 'di-sampah-in', salah satunya adalah proyek jalan tol ini. Seharusnya, tidak perlu ada polemik panjang lebar mengenai ini, karena pembangunan dijadwalkan untuk berjalan ketika Surabaya dipimpin oleh Risma, yang menolak. Apakah Risma harus dengan terpaksa meng-iya-kan dan pasrah atas jalannya proyek yang disetujui oleh pendahulunya? Ingat mental kita: Jika berhasil, semua ingat walikota yang lama. Jika gagal, salahkan yang sekarang.

Dari sisi hak dan pribadinya pun Risma tampak terganggu melalui ancaman pembunuhan hingga 'dikadali' oleh 'banteng' perihal pencalonan wakil walikota, yang akan berpasangan dengan Risma.

Atas dasar beberapa hal diatas, mungkin Risma akan memilih untuk mundur. Mundur ketika kewajiban, hak, dan pribadinya terganggu, setelah beliau sendiri mempertaruhkan tiga aspek tersebut demi kepentingan masyarakat. Saya rasa tidak perlu kita berbicara sebesar apa effort dan prestasi beliau selama hampir empat tahun terakhir ini karena seluruh informasi tersebar di media massa.

Namun, bicara mundur, tokoh penting lainnya yang terakhir mundur dari tanggung jawabnya adalah seorang menteri. Gita Wirjawan namanya, Menteri Perdagangan pos nya, Konvensi alasannya. Saya rasa semua juga telah mengetahui polemik ini, yang berisikan pro dan kontra, karena sudah berlalu cukup lama. Namun adakah diantara anda yang bisa memberikan saya alasan logis atas pengunduran dirinya?

Gita berkata bahwa alasan pengunduran dirinya adalah konvensi Partai Demokrat, dengan tujuan akhir memenangkan Pemilu 2014 (Sumber: http://www.merdeka.com/politik/5-cibiran-pada-gita-wirjawan-mundur-gara-gara-konvensi-demokrat.html). Dalam kesempatan lain, beliau juga berkata bahwa 'Saya mundur karena mampu memenangkan konvensi' (Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/02/05/n0iw68-gita-wirjawan-saya-mundur-karena-mampu-menangkan-konvensi).

Terlepas dari keputusannya yang merupakan hak dari setiap individu, pos yang ditinggalkannya adalah pos sentral pembangunan negara ini, dan berada dalam posisi kritis. Kementerian Perdagangan merupakan kunci utama dari penerapan kebijakan pemerintah mengenai pemenuhan kebutuhan, terutama kebutuhan dalam negeri menyangkut sandang dan pangan. Logika saya berbicara: Kalau Anda bisa membenahi masalah ini sekarang, semua akan memandang dan semua tidak akan ragu atas potensi anda dalam memenangkan konvensi.

Keputusan mundur merupakan keputusan mental teri dari seorang politisi berjabatan menteri. Apakah kewajiban, hak, dan pribadinya telah terganggu sebagamana yang terjadi pada Risma? Menurut pemberitaan media massa, saya pikir tidak. Saya juga tidak meragukan pekerjaan beliau, dan saya yakin beliau selama ini menjalankan kewajiban-kewajibannya. Namun hal ini akan berujung pada satu pertanyaan: Berhasil gak?

Mungkin pertanyaan 'Berhasil gak?' itu terkesan sangat simpel, instan, dan tidak mempertimbangkan proses di balik layar. Jelek dan saya bukanlah orang yang pro terhadap kebijakan instan. Tapi bila ada sebagian orang yang berkata instan adalah buruk, bukankah kebijakan impor demi pemenuhan kebutuhan dalam negeri selama ini adalah instan?

Mundur selalu menjadi jalan terakhir yang harus ditempuh, bila memang benar-benar harus ditempuh. Selalu ada akhir dari setiap perjalanan, namun memilih untuk mengakhiri dengan self-intention selalu tampak tidak baik bagi saya.

Melihat kejadian-kejadian politik seperti ini, tampaknya kita semua dapat melihat beberapa sendi pemikiran masyarakat dalam memandang hidup. Penolakan terhadap pengunduran diri Risma tentunya bukan tanpa alasan: Beliau berhasil. Supply creates its own demand. Risma menawarkan banyak hal di masa depan setelah berhasil di masa kini, dan itu menciptakan gelombang permintaan masyarakat yang berjerit, "Bu, jangan mundur, KBS jadi kuburan kalau ibu mundur!".

Salah satu bagian favorit saya dalam perkuliahan adalah diagungkannya mahasiswa ilmu ekonomi sebagai 'peramal masa depan' dengan apa yang sering disebut forecasting. Ekonomi menjelaskan bahwa high-risk, high-return adalah hal yang sewajarnya terjadi, dan ini pun berlaku dari sisi sumber daya manusia. Semakin tinggi tanggung jawab seseorang, maka semakin besar pula dua hal yang terkait padanya: keberhasilan dan kegagalan.

Di sisi lain juga terlihat pihak-pihak yang merasa alasan pengunduran diri Gita adalah hal yang dapat dimaklumi dan tidak. Sebagian yang maklum mungkin tidak melihat masa depan berdasarkan masa kini, dan sebagain yang tidak maklum mungkin melihat masa depan berdasarkan masa kini. Untuk kasus ini, mari kita lihat apakah menteri yang pede ini mampu memenangkan konvensi atau tidak, karena otak politik sempit saya sekali lagi ingin berteriak: Kalo lo gagal (lagi), terus apa konsekuensi dari status eks-Menteri Perdagangan anda, yang akan dibawa hingga akhir hayat nanti?

Masa depan, tetaplah di depan dan teruslah tergantung di depan, karena jika sekarang adalah masa depan, maka apa lagi yang harus diperjuangkan?

Kamis, 13 Februari 2014

Mati Suri, Hidup Lagi

Kehidupan yang hidup ialah kehidupan yang menghidupkan

Saya selalu percaya bahwa kehidupan yang hidup ialah kehidupan yang menghidupkan. Apapun itu, tak terkecuali diri Anda sendiri. Kehidupan yang menghidupkan ialah kehidupan yang tidak melulu bicara tentang bagaimana Anda hidup, bagaimana Anda menjalani hari-hari Anda, dan bagaimana Anda beranjak tua. Kehidupan yang hidup, menurut saya, sudah seharusnya dapat membawa kehidupan bagi setiap hal yang terkait dengan Anda yang hidup dan menjalani kehidupan ini.

Merujuk pada shared-link dalam akun Facebook salah satu dosen favorit saya, ada sebuah satir menyentuh karya Seno Gumira Ajidarma:

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa.

Sebuah kalimat suram yang dituangkan penulisnya dalam karya yang berjudul Menjadi Tua di Jakarta ini, dalam kacamata saya, telah "mematikan kehidupan yang seharusnya hidup". Kasarnya, secara hiperbolis diwakili dengan "memilih kematian dalam hidup". Tentu selalu ada pro dan kontra dari setiap karya dan mahakarya di dunia ini, mengingat itu adalah sifat dasar manusia yang secara alamiah mencintai adanya perbedaan. Sebagian dari kalian mungkin terpesona dengan satir diatas, dimana sebagian lagi mencibir sembari ngedumel, "Kayak udah pernah pensiun aja!".

Apapun itu, saya pribadi telah merasakan bahwa kehidupan yang tidak menghidupkan sesuatu terasa sia-sia, dan bahkan sangat mungkin lupa untuk merasa hidup kembali.

Persoalan pertama saya menulis tulisan ini ialah ketika saya menyadari bahwa saya sudah amat sangat meninggalkan dunia ketik-mengetik di blog ini, dengan terlalu asyik menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang sifatnya kewajiban: tugas, skripsi, presentasi, dan lainnya. Tetek bengek itu mungkin cukup mewakili sepenggal satir diatas untuk refleksi dari kata-kata "tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat" dan "kehidupan seperti mesin". Saya merasa sudah tidak lagi hidup dalam dunia ini, dan cukup kesulitan untuk memulainya kembali.

Empat tahun terakhir, selama masa perkuliahan, saya memang merasa cukup sulit meluangkan waktu pribadi dan berjam-jam duduk di depan laptop, meluangkan waktu untuk mengetik apapun yang tersirat. Saya merasa telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih banyak membaca dari sebelumnya, dan juga lebih sering menceritakan segalanya kepada mereka-mereka yang ada dalam kehidupan saya, dan melupakan gairah untuk menumpahkannya dalam tulisan.

Saya rasa saya telah mematikan salah satu kehidupan saya dengan tidak menghidupkan dunia tulisan, dan kesulitan untuk memulainya kembali karena tidak banyak hal yang belum saya tumpahkan di melalui ketukan jemari di keyboard ini, hingga saya benar-benar memaksakan diri untuk menulis dengan menceritakan kesulitan saya dalam menulis ini.

No one ever takes a picture of something they want to forget

Quote diatas, yang saya temukan dari akun instagram seorang sahabat (dan ternyata berasal dari sebuah film), saya pikir juga berlaku bagi setiap sisi kehidupan dan hobi manusia. Sebagai seorang yang seringkali mengaku hobi menulis, saya ingin meninggalkan kesan dari setiap tulisan. Lebih jauh, saya ingin mampu mengingat segala sesuatu yang pernah saya rasakan dengan membaca ulang setiap tulisan.

Menulis telah menjadi emosi pribadi, dan sudah seharusnya hal itu terjadi bagi setiap hobi yang Anda miliki. Seluruh harapan dan keinginan ada di sana,dan harus selalu dihidupkan selama Anda bisa, karena sekali mati, cukup sulit untuk hidup kembali.

Sabtu, 22 Juni 2013

Dualisme Esa

"Dunia itu dua suara. Tersurat dengan banyak pena kekuasaan"

Sejak pertama gue bikin blog, cuma quote itu yang gue pikir mewakili manusia di mata manusia lainnya. Gue seringkali berpikir, bahkan hampir selalu, bahwa memang cuma ada dua hal yang bisa diperbincangkan di dunia ini. Entah itu benar atau salah, mau atau tidak, hingga jadi atau enggak.

Dalam kisaran sepuluh tahun yang lalu gue masih duduk di bangku es-de, yang kebetulan es-de gue swasta bernuansa islami. Pendidikan agama menjadi momok utama dengan beragam ustad yang ada. Tapi tetep, namanya males sholat ya tetep aja males. Well, kembali pada pribadi masing-masing pada akhirnya. Namun diluar bahasan teknis mengenai cara lo, gue, dan kita semua beribadah, bahkan diluar bahasan apa agama lo, semua sebenarnya mengerucut pada satu hal: Esa.

Esa sendiri dalam Bahasa Indonesia digolongkan sebagai salah satu sifat Tuhan, dan tampaknya begitu pula bila di translate ke dalam bahasa-bahasa di dunia ini. Esa menjadi 'satu-satunya', dan 'tiada duanya' bagi setiap umat manusia. Guru agama di es-de saya, sepuluh tahun yang lalu, seringkali berujar bahwa "Kalo Tuhan ada banyak, nanti berantem dong?"

Gue dalem hati saat itu cuma bergumam, "Iya juga ya, kalo ada dua gimana ceritanya kita bisa masuk surga?" dan "Kalo masuk surga, surga-Nya siapa?". Sejak itu gue menjadi lebih yakin dan mengimani bahwa Tuhan memang satu adanya, begitu pula surga dan neraka yang dimiliki-Nya.

Tapi sebenernya bukan soal keagamaan yang mau gue bahas disini. Gue cuma lagi sering berpikir tentang sifat ke-Esa-an itu di dalam kehidupan manusia, tanpa membawa-bawa aspek ketuhanan. Maksud aspek ketuhanan ialah, gue ga perlu nanya siapa Tuhan lo, apa agama lo, lo rajin ibadah atau engga, dan sebagainya. Yang dibahas cuma satu: Manusia tuh punya sifat Esa gak sih?

Gue sendiri berpikir ya pasti gak punya lah. Tapi kalo memang gak ada seorangpun yang 'Esa' dalam suatu lingkup kehidupan, lalu siapa yang dapat menjadi imam? Bagaimana kalo gue bikin arti kata 'Esa' menjadi 'orang yang paling pintar dalam setiap ruangan'?

Dalam film fiksi berjudul 'Now You See Me', tokoh dalam film bertutur bahwa syarat mutlak sebuah trik sulap adalah menjadi yang ter-pintar dalam sebuah ruangan. Apapun bentuknya, pesulap harus satu, dua, atau tiga langkah di depan para penontonnya. Jika tidak, maka tiada orang yang tertipu disana.

Jika memang akhirnya 'Esa' adalah begitu adanya, apa pantas dualisme menjadi dilema kehidupan manusia? Dualisme, sebuah keadaan dimana lo harus punya dua imam, yang kadang suara takbirnya beda kencengnya, gak sama timing bacaannya, bahkan terkadang bentrok di depan jamaahnya. Apa yang terjadi dengan dua buah imam ini? Tebakan gue ada beberapa: Seorang 'Esa' dan seorang 'biasa' atau dua-duanya adalah 'biasa'.

Jika imam-imam ini adalah Tuhan, tentu gue bakal bingung mampus milih jalan mana yang harus ditempuh. Tentu lo bingung kan kapan harus sujud walau cuma ada gap dua detik antara dua imam yang memimpin lo?

Untunglah Tuhan itu selalu satu, dan imam-imam ini adalah manusia-manusia sama seperti para jamaahnya. Walau dibalik keuntungan ini terselip sebuah pertanyaan: "Haruskah anda butuh seseorang yang 'Esa'?" dan "Apakah bisa hidup dengan dualisme di depan mata?". Kalooooooooooo boleh gue milih, gue mending milih satu imam yang biasa aja walaupun dia gak 'Esa' dibanding dua imam luar biasa tapi berantem di depan mata. Kenapa? Karena gue yakin setiap orang punya potensi menjadi 'Esa', menjadi terpintar di bidangnya, di kehidupannya, dan di ruang lingkup hidupnya, termasuk diri gue sendiri. Dan apabila memang imam anda adalah seseorang yang belum 'Esa', anda dapat menularkan dan/atau bahkan menggantikannya menjadi seorang imam yang 'Esa'.

Dunia bukan trik, namun penuh intrik. Selalu penting untuk menjadi yang 'paling-paling' diantara semua yang 'paling' adalah trik untuk mengatasi intrik-intrik. One decision, two step ahead, three goals to go, four ways to celebrate.

Senin, 08 April 2013

Lekukan Hidup


Kayaknya gak ada di dunia ini yang gak pernah liat pintu. Pintu, lapisan awal dari sebuah sesuatu yang bisa berupa apa saja. Boleh jadi tempat, kamar, ruangan, garasi, gerbang, sampe hati. Pintu menjadi sebuah kunci, dan terkadang emang punya lubang kunci untuk menggunakannya. Ada sih yang gak ada lubangnya, tapi pada intinya tetap saja pintu menjadi ‘lapisan awal’.

Kalo mau masuk kamar pasti buka pintu, soalnya kalo lewat jendela nanti dikira maling. Kalo habis mandi lalu mau ganti baju, biasanya buka pintu lemari. Buat yang satu ini gue yakin banget kalo lemari lo semua pasti ada pintunya. Gak ada yang suka baju atau celana lo di-klepto-in teman kosan atau saudara sendiri, kan? Very well, kalian gak akan bisa ambil baju baru kalo gak buka lemari. Satu langkah menuju inti.

Sekarang, gimana kalo kalian kehilangan kunci? Biasanya bagi kalian yang secure dan ingin aman tentram dari pelaku pencurian celana dalam akan selalu mengunci apapun yang seharusnya tidak menjadi milik orang lain. Misal, ngunci pintu rumah. Jelas lah, kalo gak di kunci mungkin kolor lo bisa ilang dan gak jadi nge-date sama cewek impian. Atau mungkin lo merasa aman karena punya banyak kolor cadangan namun lupa ngunci pintu mobil. So what? Bisa jadi malapetaka karena lo gak memastikan gak ada yang bisa masuk ketika lo lagi ciu*an sama sang cewek impian.

Yaaaa, intinya sih banyak lah macem macem hal yang perlu dikunci. Semua dilakukan agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak menjadi sebuah kenyataan. Tapi sebenernya kunci itu apa sih?

Kunci ya kunci. Lempengan besi tipis dan agak panjang dikit lalu bergerigi. Bahasa lainnya mungkin dotted, ada yang familiar? Semoga tidak. Nah, menurut gue bagian paling penting dari kunci ini adalah gerigi nya itu. Tanpa gerigi, harimau ompong (Itu gigi, benga!). Tapi bener loh, tanpa gerigi tersebut tentunya kunci gak akan bisa ‘gigit’. Pernah coba bikin duplikat kunci tiga-rebu-perak? Jangan deh. Asli. Yang ada gembok gue rusak karena kunci nya gak bisa copot setelah ngunci pagar rumah.

Sebenarnya bukan maksud gue mendiskreditkan jasa tukang kunci murahan tersebut, tapi gue harap gak ada lagi tukang kunci yang memberlakukan tarif murah namun menurunkan ketelitian dan kerapihan kerjanya, sehingga gerigi-gerigi kunci menjadi gingsul sehingga bisa masuk tapi gak bisa ngunyah. Bahaya tuh, sob!

Ketelitian setiap pengerjaan duplikat kunci menurut saya sebuah karya seni yang tidak murahan. Kunci yang lo pakai bisa aja dipakai buat menyembunyikan iPhone 5 lo yang lagi di charge dari serbuan keponakan-keponakan cilik, pencurian celana boxer Top Man yang baru dipake dua minggu, atau mungkin laptop murahan yang isinya draft skripsi lo, dan lo belum buat satupun back-up nya di belahan dunia manapun. Lo bayangin dua-belas-rebu-perak jasa tukang duplikat kunci di ujung komplek rumah lo itu, berharga kan? Dan yang berharga dari itu semua cuma satu: lekukannya.

Semua kunci belok-belok memiliki lekukan yang sesuai dengan lubang pasangannya. Setitik nila merusak susu sebelanga. Setetes baygon dapat membuat Anda tak bernyawa. Itulah mengapa detail itu penting untuk menjawab sebuah masalah yang ada. Bukan sekedar harga yang tertera, karena selisih sembilan-ribu-perak sangatlah tak ternilai harganya kalo lo harus kehilangan waktu untuk sesuatu yang di balik pintu.

Akhir kata gue mau berpesan bahwa walau babeh lo bilang, “Jalani hidup itu yang lurus-lurus aja ya, Nak!” kenyataannya gak ada kunci yang lurus. Semua punya tingkat ke-sexy-an yang berbeda-beda dengan lubang pasangan yang berbeda-beda pula. Jadi jangan remehkan selisih walau hanya satu derajat, karena setelah berjalan sekian kilometer, lo bisa ukur seberapa jauh selisih yang terjadi (pake Pythagoras, ya!)

Selasa, 26 Maret 2013

Klasik


Jika ada seseorang bertanya pada saya tentang apa yang paling cepat bergerak di dunia ini, maka saya akan menominasikan kata ‘teknologi’ sebagai jawaban tunggal.

Teknologi menjadi salah satu yang paling cepat di dunia ini. Baik secara definisi kata-kata maupun bukti di dunia nyata. Teknologi menjadi contoh globalisasi terbesar, dimana kata ini mengatur kehidupan jangka pendek (kebanyakan) manusia lebih jauh dari kitab suci mereka semua. Teknologi menjadi semua kualitas tinggi, dan contoh riil dari kata ini menjadi sangat sulit ditetapkan dalam waktu yang lama.

Waktu terus bergulir tanpa kenal siapa anda, berapa manusia yang lahir dan mati, ataupun manusia yang beranjak gila. Waktu melahirkan mereka-mereka yang jenius untuk memimpin dunia, baik nyata maupun maya. Waktu membicarakan para jenius dengan inovasi yang mereka punya, baik audio maupun visual. Waktu menjadi segalanya.

Ketika orangtua kita takjub melihat mobil purwarupa di film James Bond tahun 1980-an, maka kita sudah melihat purwarupa tersebut di jalanan ibukota. Berisikan mereka para orang-orang kaya (yang mungkin juga membawa narkoba). Pertanyaan besar ialah, “Apa yang dijanjikan waktu, selain teknologi, kepada para manusia?”

Saya memiliki seorang sahabat yang gemar membeli buku catatan. Buku bagus kelas premium yang tidak anda dapatkan di tukang fotokopian seberang jalan. Alangkah takjubnya ia ketika mendapati aplikasi di iPad yang menawarkan fitur dan fungsi yang persis sama. Baik tampilan cover buku hingga kertas nya serupa dengan wujud aslinya, hanya saja ini berupa fitur digital yang disuguhkan oleh teknologi dan waktu, yang dikendalikan para jenius di luar sana. Dengan perangkat pulpen layar sentuh stylus, anda dapat menulis sama dengan aslinya.

Waktu membuat segalanya tidak pernah sama. Inovasi tiada henti membuat manusia pun tidak seperti beberapa waktu yang lalu. Hitungan bulan dapat merubah manusia sesuai dengan dunianya, dan member efek baik dan buruk pada beberapa pihak: makhluk dunia nyata.

Saya pikir dunia kehilangan sisi klasik. Ketika alat tulis klasik pun tidak lagi klasik, tentunya ada yang hilang disana, baik cerita ataupun esensi nyata. Pertanyaan besar kedua ialah, “Apakah dunia butuh sisi klasik?”

Ketika saya mendefinisikan kata ‘klasik’ sebagai ‘dasar’, maka akademisi tentu membutuhkannya. Jika tidak, maka para calon akuntan saya pikir tak lagi perlu banyak menghitung dengan kalkulator, karena tersedianya program-program instan. Pernah nonton film Along With Polly? Cowo yang membandingkan mantan isteri dengan pacar barunya menggunakan software penghitung risiko? Ketik, enter, selesai. Itulah bahasa teknologi.

Seinstan itukah dunia ini? (Seharusnya) tidak. Kehidupan memiliki aturan, dimana sungguh tidak baik bermain ponsel pada jam makan malam keluarga. Transparansi pesan singkat tidak hanya sekedar delivered, tapi merambah pada read dan typing. Akuntabilitas provider tercermin jelas dari transparansi ini, dimana secara angka-angka profit ekonomi menguntungkan. Namun, dimana batas kebebasan?

Bila memang para jenius mengendalikan ruang dan waktu, tolong kembalikan sedikit sisi klasik dunia ini, karena manusia (harus) tetap lahir dari rahim ibunya, dan semua manusia akan kembali ke tanah bumi sebagaimanya-Nya.