Dunia itu dua suara, tersurat dengan banyak pena kekuasaan

Jumat, 08 Maret 2013

Suara Selera


Dunia itu dua suara. Ya, saya pikir itulah adanya. Selalu ada 'iya' dan 'tidak' dalam setiap aspek kehidupan, dan setiap orang harus memberikan sikap serta pilihan. Harus? Saya sebenarnya agak-agak gak suka sama kata 'harus'. Walau saya menyadari pekerjaan terbaik dapat saya lakukan dengan dibawah tekanan, saya tetap tidak begitu menyukai kata 'harus'. Kenapa? Karena kata tersebut biasanya menghiasi bagian-bagian hidup saya yang kadang kala ingin saya nikmati tanpa tekanan dan sebuah 'keharusan'.

Kadang, 'harus' layaknya topeng kehidupan. Menguasai pikiran untuk mengatur sebuah pekerjaan yang valid-valid aja kalo dikerjain sambil nyantai. Selalu ada table manner yang sempurna untuk menghadiri jamuan makan malam dengan presiden, tapi hal besar seperti itu tidak perlu dilakukan juga kaaan jika menonton HBO Hits di tengah akhir pekan? Saya yakin kebanyakan dari anda tidak begitu menikmati sebuah keharusan, tapi anda harus selalu memiliki selera.

Lebih jauh dari sekedar kata 'harus' dan definisinya, kadang saya seringkali memikirkan selera dan isi jiwa saya. Saya coba untuk menghilangkan dan tidak memperdulikan kata 'harus', keluar dari aturan, masuk ke zona tidak nyaman, dan berusaha menemukan sebuah selera.

Jeleknya, saya tidak mengerti apa definisi dari sebuah selera. Oh ya, dan juga hal-hal yang membentuknya. Seperti musik dan juga makanan. Saya tidak bisa bermusik (dan juga memasak tentunya). Ok, sekedar indomie goreng tentunya mudah, tapi soal musik, ampun gan, main recorder dari jaman kelas lima SD gakpernah lancar!

Tapiiiiiii, saya tetap memiliki banyak musik yang menurut saya menarik dan memenuhi selera, walau saya tidak bisa memainkannya, menyanyikannya, bahkan mendefinisinya genre musik apakah yang memenuhi selera saya. Seperti ketika banyak teman bertanya, "Tipe cewek lo yang kaya gimana sih?". Maka saya hanya dapat menjawab "Yaaaa asal nyambung aja cukup". Gombal? Muluk? Percaya deh, saya hanya merasa tidak dapat mendefinisikan dan saya tidak merasa hal tersebut harus didefinisikan.

Tanpa sebuah keharusan, saya tetap menemukan selera yang entah darimana asalnya. Seperti berkah natural. Saya, yang tidak mengerti mengapa bisa memiliki sebuah selera (katakanlah selera A), kadang bingung dengan selera orang lain (selera B). Dalam musik, saya benar-benar tidak mengerti mengapa kekasih dapat begitu memuja Marcus Miller dengan tarian jemari pada bass-nya. Asli, hampir ketiduran gue sih. Asli. Tampaknya musik jazz seperti itu bukanlah selera saya, dan saya tidak paham mengapa saya tidak menikmati musik jazz. Bahkan ketika Candil bernyanyi 'Daripada musik metal lebih baik musik jazz', saya lebih menikmati suara itu dibanding petikan-petikan maestro bass yang membuatnya menampilkan 'orgasm-face'.

Saya memahami bahwa jelas tidak semua orang harus menyukai setiap apa apa yang ada dalam kehidupan. Saya hanya sedikit bingung kenapa mereka dapat menikmati, sedangkan saya hampir ketiduran, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyimpulkan bahwa saya tidak harus paham apa alasannya, tapi dengan selera yang saya punya, saya cukup untuk menikmati segala yang ada.

Dunia itu dua suara, dan anda harus coba mendengarkan semuanya.

Minggu, 03 Maret 2013

Butuh


Sejak lama saya tidak pernah menyukai film-film yang inti ceritanya adalah percintaan. Banyak laki-laki mengasumsikan bahwa itu adalah film ‘lenje’. Action selalu menjadi pilihan utama saya, dengan sederet pembunuhan dan tembak-tembakkan, walau saya cenderung takut untuk yang thriller, terror, dan juga horror. Satu hal yang s ebenarnya membuat saya bergairah untuk rela membuang uang demi sebuah film adalah pacar. Kekasih yang satu ini agak freak terhadap film-film cinta. Singkat cerita, salah satu dvd yang ia tawarkan untuk saya coba tonton adalah ‘Before Sunset’ dan ‘Before Sunrise’.

Apapun yang saya lakukan, saya cenderung detail terhadap kata-kata. Ada satu kalimat yang menarik dari salah satu film yang saya tonton (walau tidak selesai) ini. Seorang tokoh dalam film tersebut berkata, “We are sum of each tiny moments of our life”. Setiap memiliki momen untuk mengetahui kalimat menarik seperti ini, saya selalu berfikir ‘Ada benarnya juga ya!’. Hal yang saya pikirkan adalah semua orang pasti butuh ‘terima kasih’, dan begitu pula dengan ‘maaf’.

Minggu lalu, di tengah perjalanan menuju terminal bus, ada seorang pemulung yang berterima kasih pada saya. Karena apa? Karena saya meminta izin untuk langsung membuang sampah botol bekas minum saya tepat ke karung sampah di punggungnya. Saya dan teman saya, Reva, saat itu berfikir bahwa itu adalah hal yang gila. Membuang sampah pada tempatnya sudah seharusnya menjadi kewajiban setiap umat, dan pemulung itu memang ‘berkewajiban’ memulung sampah demi hidupnya. Saya berfikir sebenarnya ia tak perlu berterima kasih karena saya memang melakukan hal yang merupakan kewajiban saya, tapi ia melakukannya. Saya heran, dan tidak bisa bohong kalau hati saya merasa senang.

Saya pikir pemulung itu menyenangkan hati saya, karena kewajiban yang saya tuntas telah membantu kewajibannya. Pertanyaannya, sebenernya harus gak sih mengucapkan ‘terima kasih’ pada mereka yang hanya menjalankan kewajibannya? Yang seharusnya menjadi hal yang biasa saja?
Sebuah buku seharga tiga puluh ribu memberi saya banyak ilmu minggu lalu. Buku yang berjudul Indonesia Di Mata Orang Jepang ini memuat cerita seorang warga negara Jepang yang menjadi ‘Indonesia’ setelah dua puluh tahun bekerja di nusantara. Dari beragam hal yang ia ceritakan, hal yang paling ia kagumi ialah bagaimana mungkin orang Indonesia selalu berkata ‘Gak apa apa, santai saja’ setelah seseorang tidak datang tepat waktu atau melanggar janjinya.

Menurut Anda, haruskah ada kata ‘maaf’ disana?

Sepertinya, tidak ada yang harus meminta maaf ketika salah, berterima kasih ketika telah dimudahkan, atau mungkin ‘tolong’ ketika merasa (akan) merepotkan orang lain. Manusia hanya perlu memahami bahwa setiap orang butuh kata kecil itu, and those tiny words make you more than just a human. Kata-kata yang menyenangkan hati dan melambangkan rendah diri seorang pribadi. Mikroekonomi merangkumnya dengan sebuah kalimat: People respond to incentives.

Selasa, 26 Februari 2013

Dis-


Bagi saya, liburan kali ini penuh dengan kata ‘sakit’. Entah itu saya atau mereka,keluarga atau rekan kerja, bahkan saudara atau ‘bukan siapa siapa’. Sebuah keadaan dimana saya memutuskan untuk menjadi pesakitan hingga hari telah dimulainya perkuliahan ini saya sebut liburan, dimana dua hari di kampung halaman tidaklah cukup bagi saya untuk bersuka cita.

Disgnati nama penyakitnya, orthognati langkah penyembuhannya. Itulah saya di hari ke-29 tanpa mengunyah ini. Entah ketidakberuntungan apa yang terjadi, namun sepertinya Allah memberikan ujian penyakit bagi mereka yang ada di dekat saya, terutama keluarga. Namun disamping hal itu semua, hal yang menjadi akrab bagi saya pada liburan kali ini adalah rumah sakit itu sendiri.

Berkeliling rumah sakit membuat saya lebih dekat dengan mereka yang sakit, juga orang-orang berjasa tinggi yang menjadi tangan Tuhan dalam proses penyembuhan. Melihat mereka yang susah membuat saya melihat bahwa saya ada dalam posisi yang mudah. Melihat mereka yang menyembuhkan membuat saya melihat kuasa Tuhan. Melihat itu semua membuat saya sadar seberapa sakit Indonesia.

Industri rumah sakit tentunya memberikan yang terbaik untuk setiap mereka yang sakit. Namun apa yang mampu mereka perbuat bila tidak memiliki cukup kamar untuk menangani para pesakitan? Ketika saya hendak melakukan operasi, dokter menjadwalkan saya untuk dioperasi pada tanggal 29 Januari. Semua tersusun rapi dan pasti, kecuali satu: kamar inap. Bagi saya yang terjadwal saja, sulit untuk mendapatkannya. Mungkin memang begitu prosedurnya, karena para dokter pun seperti ‘meng-iya-kan’ susahnya memperoleh kamar. Saya jadi berpikir, apa yang terjadi bila segala sesuatunya tidak terjadwal? Korban tabrak lari, misalnya?

Sepertinya dunia pun menyadari pentingnya rumah sakit, maka pembangunan pun dilakukan. Rumah sakit modern menjamur di tengah kota, diiringi dengan mahalnya sekolah-sekolah kedokteran terutama swasta. Begitu mahalnya kehidupan yang sehat, bukan? Saya pikir semua menyadari.

Tapi mengapa rumah sakit yang menjamur, bukan rumah sehat?

Rumah sakit megah berdiri dikelilingi pedagang gorengan kaki lima dengan katel penuh minyak goreng yang nyaru dengan oli mesin. Positif untuk penyembuhan, negatif pada pencegahan. Semua setuju sehat itu mahal, tapi apa harus bayar mahal ketika di rumah sakit?

Ekonomi penuh dengan angka-angka, namun interpretasinya tetaplah sebuah kata-kata yang dipakai dalam kehidupan sosial. Ekonomi adalah ilmu sosial yang tidak pernah berkata bahwa ‘mahal’ adalah ‘uang’, tapi mahal adalah ‘tidak seharusnya’. Ya, tidak seharusnya sehat itu mahal, dan tidak seharusnya sakit itu murah.
Industri ini bergerak para arah yang salah. Pembangunan menandakan sehatnya ekonomi, kemampuan untuk bergerak demi kehidupan yang lebih baik, serta niat untuk lebih sehat. Namun saya pikir kesehatan tidak layak untuk disejajarkan dengan uang, karena profit dari proses penyembuhan itu ialah definisi dari kata ‘sehat’ itu sendiri.

Selasa, 11 Desember 2012

Bandung, Not Bandoeng


Gak perlu ngomong panjang panjang, semua tentu telah memahami mengapa Bandung menjadi tujuan yang diinginkan oleh ribuan anak bangsa. Bandung memiliki ITB, Unpad, dan sederet kampus swasta lainnya. Jangan lupa, Jatinangor juga masih sering ditafsirkan banyak orang sebagai bagian dari Bandung. Ya, ibukota provinsi ini telah di-set sebagai kota pelajar di Jawa Barat. Maka jangan pernah heran bila sangat banyak orang dalam hidup anda yang berbau Bandung.

Tapiiiiiiiiiiiiii, itu dulu. Sekarang Bandung tak ubahnya sebagai kota metropolitan. Ok, tentu parawalanda tidak akan pernah menyematkan nama Parijs van Java bila memang tak ada sesuatu yang berarti disini, tapi dengan penuh rasa hormat, saya pikir Bandung telah terlalu banyak make-up.

Perencanaan pembangunan tentu bukanlah hal yang dapat diselesaikan dengan asal-asalan Keberlanjutan dari suatu program adalah sesuatu yang diharapkan dan juga fungsi dari sebuah sistem. Tentu keputusan untuk mendirikan perguruan tinggi teknik pertama Indonesia di kota ini tidaklah tanpa perhitungan, terutama oleh pihak Belanda. Iklim yang dingin, perkotaan yang penuh dengan bunga, serta aspek geografis lainnya membuat H.W Daendels yakin membuat keputusan untuk menjadikan Bandung sebagai pemukiman terhitung 25 September 1810, yang turut diiringi dengan pembangunan sarana kehidupan lainnya, salah satunya Technische Hoodgeschool te Bandoeng pada 1920. Walau Belanda tidak seperti Inggris yang membangun masyarakatnya selama masa penjajahan, tapi Belanda berperan penting dalam kelahiran Bandoeng.

Hingga akhirnya Indonesia merdeka, Bandung ditetapkan sebagai ratu Jawa Barat. Berbagai pembangunan dilakukan untuk mempersakti citra kota ini. Sekolah, universitas, dan segala hal termasuk masyarakatnya. Salah satu pencapaian yang cukup membanggakan ialah masuknya kota ini sebagai salah satu kota teraman di dunia versi majalah Time pada 1990.

Namun sekarang Bandung bukanlah Bandoeng. Bandung tetaplah kota pelajar, tapi juga kota metropolitan terutama dalam aspek fashion, kuliner, hingga kemacetannya yang luar biasa. Bandung yang kota pelajar ini bahkan telah tidak mampu menghadapi keadaan perayaan wisuda mahasiswa dari kampus-kampus yang ada. Satu wisuda, matilah kota. Wisuda ditambah hujan, hancurlah kota. Wisuda bersamaan dengan demo buruh, hujan, dan awal dari libur panjang adalah neraka.

Bukan asal saya berkata, tapi kata-kata ini dibentuk oleh fakta yang diwakili oleh tarian jemari saya sebagai mahasiswa. Saya yang merupakan mahasiswa semester lima saja sudah cukup penat melihat kenyataan yang ada, apalagi mereka yang tinggal disini dari jaman baheula? Entah solusi apa dari pemerintah kota, tapi usaha dari kampus-kampus yang ada tercermin dari spanduk yang terpampang di Jalan Tamansari sebelah Cafe Halaman. Beragam kalimat yang ada, tapi kira-kira begini bunyinya,

"Mohon maaf perjalanan Anda terganggu dikarenakan adanya Wisuda Gelombang XX di XXYY pada MM-NN-OOOO hingga MM-NN-OOOO"

Selalu saya lihat minimal satu spanduk setiap ada hari wisuda. Kenapa saya begitu memperhatikan? Jelas karena kemacetan, hingga saya bisa menatap cukup lama untuk membaca spanduk tersebut. Yang ada dalam benak saya, apa gunanya memasang spanduk tersebut? Spanduknya sendiri dibaca ketika macet, dan yang ada hanyalah permintaan maaf. Lalu apa?

Bandoeng bukan lagi Bandung, brader! Bandung yang sekarang isinya plat B, dengan sapaan brader (bukan lagi jang). Bandung ini metropolitan, yan tidak lagi digerakkan untuk kota pendidikan. Sungguh tak ada yang dapat melarang kunjungan setiap insan, tapi bila memang menyesakkan, apa masih perlu berteriak-teriak pengusiran?

Setiap saya stuck di macetnya perkotaan Bandung, saya selalu berfikir apa sih yang membuat Jakartans melancong ke Bandung? Bukankah mereka memiliki segalanya di Jakarta sana, termasuk kemacetannya? Bila kita tilik alasannya, sebenarnya riil. Anak mereka menuntut ilmu di Bandung, dan anak mereka memberikan setidaknya satu buah kendaraan kepada anaknya untuk kebutuhan transportasi selama hidup empat tahun diperantauan. Tak jarang, mereka (orang tua) datang berkunjung untuk melancong sekaligus jajan-jajan makanan di seputaran Bandung.

Itu riil. Namun suatu waktu saya pernah berkesempatan berbincang cukup panjang dengan seorang sopir taksi di Bandung, setelah terlalu larut untuk pulang. Awalnya kami tak banyak bicara, hingga tiga-empat mobil plat Jakarta hampir ia tabrak. Lalu, mulailah sang sopir ngedumel. "Sok lah diadu jeung taksi yeuh anj*ng", ujarnya. Alhamdulillah, saya mengerti bahasa itu. Mulailah kami berbincang, dan segala hal yang ia keluhkan ialah seputar kemacetan. "Ya da sekarangmah ada yang bisnis buat makan siang aja ke Bandung, cuma buat makan siang da garelo Jakarta teh", cetusnya. Menurutnya, Bandung memiliki tatakota yang buruk karena terlalu banyak persimpangan di perkotaan, dan Cipularang memperkeruh permasalahan dengan menambah debit mobil dari luar kota secara signifikan. "Apalagi kalo malem minggu Dek, saya mah ga ngerti da aya wae acara teh di Gasibu. Puguh mobil teh loba tapi ongkoh weh jalanan teu meunang liwatGeus kuduna mah teu kudu aya acara tapi meunang liwat"

Kemana jagoan-jagoan planologi yang wisuda hari itu? Apakah mereka 'menata' kota dengan wisuda dirinya hari itu dengan segerombolan mobil (termasuk mobil orang tuanya dari Jakarta) yang stuck tak bergerak? Kemana pula birokrat-birokrat pemerintah kelas kakap ketika mengetahui bahwa (bahkan) diatas jalan layang Pasupati saja bisa terjadi banjir?

Jelas mereka memikirkan toga nya masing-masing, dan dosen-dosennya sedang memesan spanduk untuk dibentangkan di sebelah Cafe Halaman. Solusi tiada henti: Maaf (Bandung bukan lagi Bandoeng)!

Cahaya

Manusia butuh cahaya
Bahkan untuk tidur, manusia butuh cahaya
Gelap hanyalah gelap
Gelap mengiring tidur, namun cahayalah yang membimbing kita untuk tidak pernah mundur
Chris Martin mungkin berujar bahwa cahaya membawa kedamaian
Sekalipun untuk terbang tenggelam
Manusia bilang, jangan pernah sombong kecuali Anda adalah Edison, atau mungkin Watt, yang membuat matahari kedua setelah Tuhan
Orang seringkali lupa bahwa mereka akan beranjak tua dan kehilangan segalanya
Mungkin basi, tapi kalimat lama ‘Hidup adalah pilihan’ sepertinya abadi
Sampai senja tak ada lagi, dan cahaya tak menyala lagi
Mati

Sabtu, 13 Oktober 2012

Asal


Sebenarnya, ada sedikit kesombongan dalam diri saya. Aib ini mungkin merupakan dosa yang sejujurnya memiliki efek positif bagi pribadi, khususnya motivasi diri sendiri. Beberapa tahun silam, sekiranya akhir penghujung SMA, saya mulai berfikir untuk kembali menulis sebuah diary. Ya, diary, sebuah buku rahasia yang identik dengan kecengengan anak perempuan di berbagai masa. Walau rasanya sungguh sulit menemukan diary seutuhnya di zaman tablet seperti hari ini.

Saya coba, namun tidak bisa. Menulis tidak lagi simpel bagi saya, entah kenapa. Sensasinya bergeser ke dunia juru ketik. Sebuah desktop nan kolot di rumah menopang asa saya untuk dapat 'menulis' dan menampung isi diri saya ke dalam sebuah layar sinar yang datar.

Lahirlah beragam notes mengenai kehidupan. Segala tetek bengek kehidupan saya tumpahkan membanjiri isi blog. Kemudian beberapa teman yang beragam memberikan pandangan yang mengambarkan pemikiran mereka mengenai banjir yang telah saya tumpahkan. Sebagian besar berkata bahwa, "Ah tulisan lo berat banget bahasanya, pusing bacanya". Namun sebagian besar dari mereka itu pula yang seringkali memotivasi saya untuk terus menulis, bahkan membuat buku dari kumpulan tulisan saya yang tidak seberapa. Mungkin termasuk cerita yang sekarang sedang saya ketik ini.

Ibu saya, pihak pertama yang berkecimpung dengan jasad saya dari awal saya lahir ke dunia, berkata bahwa menulis merupakan sesuatu yang baik. Paman saya pun berkata demikian. Begitu pula beberapa teman terdekat. Maka hari ini, bahkan di tulisan ini, saya terus memaksakan diri untuk mengetik. Membuat cerita yang tidak jelas arahnya, dan sialnya lagi anda baca, mendingan berenti baca sekarang sebelum nyesel deh ya hahaha.

Kesombongan pun rasanya memesat dalam diri. Mau tau hal bodoh yang seringkali saya paksakan? Saya sangat puas bila dapat mengakhiri kalimat dengan rima yang sama. Pernah belajar puisi kan waktu SD? A-B-A-B sebagai akhiran kata? Dari tulisan pertama yang termuat di blog saya, hal-hal sepele itu dapat anda temukan sedikitnya satu atau dua kalimat.

Namun diluar keterpaksaan ini, saya merasa bersyukur karena mampu menyempatkan diri untuk lebih banyak membaca. Sebagian orang, termasuk saya, percaya bahwa semakin banyak membaca maka anda akan semakin dimampukan dalam menulis, walau hari ini membaca terkadang begitu membosankan, kecuali membaca timeline.

Bagi saya, menulis membutuhkan motivasi yang begitu tinggi, begitu juga dengan membaca. Inspirasi bisa saja datang setiap hari, namun untuk duduk manis dan meluangkan waktu untuk menulis adalah sesuatu yang seringkali hanya menjadi janji manis. Saya pernah (dan masih) termotivasi dengan komentar mereka-mereka yang (mungkin) sering membaca apa yang saya ketik, dan motivasi itu membesar setiap kali saya menyelesaikan tulisan. Entah siapa yang membaca, tapi tulisan itu pasti saya yang pernah menyelesaikannya. Maka, mengapa kali ini tidak bisa menyelesaikan satu tulisan lagi?

Ada yang mau ikut note-ing?

Dinosaurus, Lalu Ayam


Banyak orang di dunia ini percaya bahwa menjadi raksasa dan memiliki hidup selamanya adalah hal yang menarik. Film kartun seringkali bercerita tentang tokoh jahat yang hendak menguasai dunia, dan hidup abadi dengan umur yang muda. Puncak kekuatan menjadi alasannya, dan kekuasaan menjadi tujuannya.

Bila direnungkan, apakah Tuhan memungkinkan kehidupan yang seperti itu? Manusia pada kodratnya adalah makhluk sempurna yang juga diberikan kekurangan. Well, saya sebenarnya tidak menganggap ketidakmampuan manusia untuk dapat terbang adalah sesuatu yang 'kurang' dibandingkan burung elang, namun memang benar kan?

Ibarat ayam yang kalah oleh dinosaurus bila makhluk-makhluk ini hidup pada zaman dan ekosistem yang sama, manusia pun demikian. Makhluk haruslah adaptif untuk bertahan, agar tetap memiliki kekuatan dan kekuasaan, meskipun hanya seekor ayam.

Suatu hari, Ibu saya pernah berusaha menjabarkan skema kehidupan manusia secara singkat. Beliau melakukan penjelasan dengan menjadikan ayahnya sebagai contoh. Kakek saya dapat dikatakan sebagai orang yang berhasil pada zamannya, dan keberhasilan itu tidak membuat dia mati ketika harus berganti zaman dalam kehidupan. Adaptif dan solutif mungkin menjadi dua kata yang mewakili, dimana setelah itu dapat saya simpulkan bahwa kakek saya adalah orang yang non-post-power-syndrome.

Ketika manusia tersiksa dengan sindrom kekuasaan, kala dia menjadi seorang dinosaurus pada zamannya, maka tidak semua mampu menjalani kehidupan seekor ayam pada zaman selanjutnya, zaman dimana anak-anaknya adalah dinosaurus.

Semua orang harus menyadari bahwa tidaklah baik untuk memulai kehidupan dengan ekspektasi yang rendah dan cepat puas, apalagi membatas-batasi diri. Namun disamping itu manusia juga perlu menyadari bahwa suatu saat mereka harus turun gunung, dan menjadi ayam ketika pernah merasakan sekuat dinosaurus.

Sejauh yang saya tahu hingga saat ini, ada dua macam cara orangtua dalam mengajarkan kesuksesan pada anaknya. Yang pertama ialah mengajarkan kesusahan pada anaknya sejak muda, dan yang kedua ialah sangat menjauhkan kesusahan hidup dari anaknya sejak muda. Sorry,  ini hanya berlaku bagi orangtua yang memiliki kehidupan yang sulit pada masa kecilnya.

Dalam sering waktu, Papi saya berulang kali mengatakan dua hal: Hidup susah itu tidak enak, dan belajar hidup susah itu susah.

Tentunya saya sama sekali tidak memiliki hak untuk memberikan penilaian atas cara didik yang paling baik, karena saya percaya bahwa setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Pemukul-rataan cara pendidikan adalah sisi statis disamping kemajuan dunia. Namun, belajar jatuh ketika muda menjadikan kita tidak akan heran bila harus menjadi ayam ketika tua (nantinya). Contoh hidup, ya kakek saya.

Hanya memiliki dua stel pakaian ketika muda, bergelimang harta pada puncak karirnya, dan di umurnya yang menginjak kepala delapan beliau masih tidak keberatan untuk naik angkutan kota.

Dosen saya pernah memberikan pemaparan yang kira-kira seperti ini,

"Semua yang ada di dunia ini penuh dengan luck. Ketika lahir, siapa yang dapat memilih? Itu abstrak. Agama dan ekonomi tidak menjadi pilihan ketika anda lahir ke dunia, walau setelah itu anda dapat mengubah nasib anda sendiri."

Sesuatu yang perlu dihindari ialah bentuk kehidupan yang tidak menghidupkan anda. Jelasnya, kalau bisa, jangan menjadi ayam untuk pertama kalinya ketika tua. Oleh karena itu, saya percaya bahwa kehidupan yang baik ialah kehidupan yang mampu menghidupkan, setidaknya untuk diri anda sendiri.