Dunia itu dua suara, tersurat dengan banyak pena kekuasaan

Selasa, 26 Februari 2013

Dis-


Bagi saya, liburan kali ini penuh dengan kata ‘sakit’. Entah itu saya atau mereka,keluarga atau rekan kerja, bahkan saudara atau ‘bukan siapa siapa’. Sebuah keadaan dimana saya memutuskan untuk menjadi pesakitan hingga hari telah dimulainya perkuliahan ini saya sebut liburan, dimana dua hari di kampung halaman tidaklah cukup bagi saya untuk bersuka cita.

Disgnati nama penyakitnya, orthognati langkah penyembuhannya. Itulah saya di hari ke-29 tanpa mengunyah ini. Entah ketidakberuntungan apa yang terjadi, namun sepertinya Allah memberikan ujian penyakit bagi mereka yang ada di dekat saya, terutama keluarga. Namun disamping hal itu semua, hal yang menjadi akrab bagi saya pada liburan kali ini adalah rumah sakit itu sendiri.

Berkeliling rumah sakit membuat saya lebih dekat dengan mereka yang sakit, juga orang-orang berjasa tinggi yang menjadi tangan Tuhan dalam proses penyembuhan. Melihat mereka yang susah membuat saya melihat bahwa saya ada dalam posisi yang mudah. Melihat mereka yang menyembuhkan membuat saya melihat kuasa Tuhan. Melihat itu semua membuat saya sadar seberapa sakit Indonesia.

Industri rumah sakit tentunya memberikan yang terbaik untuk setiap mereka yang sakit. Namun apa yang mampu mereka perbuat bila tidak memiliki cukup kamar untuk menangani para pesakitan? Ketika saya hendak melakukan operasi, dokter menjadwalkan saya untuk dioperasi pada tanggal 29 Januari. Semua tersusun rapi dan pasti, kecuali satu: kamar inap. Bagi saya yang terjadwal saja, sulit untuk mendapatkannya. Mungkin memang begitu prosedurnya, karena para dokter pun seperti ‘meng-iya-kan’ susahnya memperoleh kamar. Saya jadi berpikir, apa yang terjadi bila segala sesuatunya tidak terjadwal? Korban tabrak lari, misalnya?

Sepertinya dunia pun menyadari pentingnya rumah sakit, maka pembangunan pun dilakukan. Rumah sakit modern menjamur di tengah kota, diiringi dengan mahalnya sekolah-sekolah kedokteran terutama swasta. Begitu mahalnya kehidupan yang sehat, bukan? Saya pikir semua menyadari.

Tapi mengapa rumah sakit yang menjamur, bukan rumah sehat?

Rumah sakit megah berdiri dikelilingi pedagang gorengan kaki lima dengan katel penuh minyak goreng yang nyaru dengan oli mesin. Positif untuk penyembuhan, negatif pada pencegahan. Semua setuju sehat itu mahal, tapi apa harus bayar mahal ketika di rumah sakit?

Ekonomi penuh dengan angka-angka, namun interpretasinya tetaplah sebuah kata-kata yang dipakai dalam kehidupan sosial. Ekonomi adalah ilmu sosial yang tidak pernah berkata bahwa ‘mahal’ adalah ‘uang’, tapi mahal adalah ‘tidak seharusnya’. Ya, tidak seharusnya sehat itu mahal, dan tidak seharusnya sakit itu murah.
Industri ini bergerak para arah yang salah. Pembangunan menandakan sehatnya ekonomi, kemampuan untuk bergerak demi kehidupan yang lebih baik, serta niat untuk lebih sehat. Namun saya pikir kesehatan tidak layak untuk disejajarkan dengan uang, karena profit dari proses penyembuhan itu ialah definisi dari kata ‘sehat’ itu sendiri.

Selasa, 11 Desember 2012

Bandung, Not Bandoeng


Gak perlu ngomong panjang panjang, semua tentu telah memahami mengapa Bandung menjadi tujuan yang diinginkan oleh ribuan anak bangsa. Bandung memiliki ITB, Unpad, dan sederet kampus swasta lainnya. Jangan lupa, Jatinangor juga masih sering ditafsirkan banyak orang sebagai bagian dari Bandung. Ya, ibukota provinsi ini telah di-set sebagai kota pelajar di Jawa Barat. Maka jangan pernah heran bila sangat banyak orang dalam hidup anda yang berbau Bandung.

Tapiiiiiiiiiiiiii, itu dulu. Sekarang Bandung tak ubahnya sebagai kota metropolitan. Ok, tentu parawalanda tidak akan pernah menyematkan nama Parijs van Java bila memang tak ada sesuatu yang berarti disini, tapi dengan penuh rasa hormat, saya pikir Bandung telah terlalu banyak make-up.

Perencanaan pembangunan tentu bukanlah hal yang dapat diselesaikan dengan asal-asalan Keberlanjutan dari suatu program adalah sesuatu yang diharapkan dan juga fungsi dari sebuah sistem. Tentu keputusan untuk mendirikan perguruan tinggi teknik pertama Indonesia di kota ini tidaklah tanpa perhitungan, terutama oleh pihak Belanda. Iklim yang dingin, perkotaan yang penuh dengan bunga, serta aspek geografis lainnya membuat H.W Daendels yakin membuat keputusan untuk menjadikan Bandung sebagai pemukiman terhitung 25 September 1810, yang turut diiringi dengan pembangunan sarana kehidupan lainnya, salah satunya Technische Hoodgeschool te Bandoeng pada 1920. Walau Belanda tidak seperti Inggris yang membangun masyarakatnya selama masa penjajahan, tapi Belanda berperan penting dalam kelahiran Bandoeng.

Hingga akhirnya Indonesia merdeka, Bandung ditetapkan sebagai ratu Jawa Barat. Berbagai pembangunan dilakukan untuk mempersakti citra kota ini. Sekolah, universitas, dan segala hal termasuk masyarakatnya. Salah satu pencapaian yang cukup membanggakan ialah masuknya kota ini sebagai salah satu kota teraman di dunia versi majalah Time pada 1990.

Namun sekarang Bandung bukanlah Bandoeng. Bandung tetaplah kota pelajar, tapi juga kota metropolitan terutama dalam aspek fashion, kuliner, hingga kemacetannya yang luar biasa. Bandung yang kota pelajar ini bahkan telah tidak mampu menghadapi keadaan perayaan wisuda mahasiswa dari kampus-kampus yang ada. Satu wisuda, matilah kota. Wisuda ditambah hujan, hancurlah kota. Wisuda bersamaan dengan demo buruh, hujan, dan awal dari libur panjang adalah neraka.

Bukan asal saya berkata, tapi kata-kata ini dibentuk oleh fakta yang diwakili oleh tarian jemari saya sebagai mahasiswa. Saya yang merupakan mahasiswa semester lima saja sudah cukup penat melihat kenyataan yang ada, apalagi mereka yang tinggal disini dari jaman baheula? Entah solusi apa dari pemerintah kota, tapi usaha dari kampus-kampus yang ada tercermin dari spanduk yang terpampang di Jalan Tamansari sebelah Cafe Halaman. Beragam kalimat yang ada, tapi kira-kira begini bunyinya,

"Mohon maaf perjalanan Anda terganggu dikarenakan adanya Wisuda Gelombang XX di XXYY pada MM-NN-OOOO hingga MM-NN-OOOO"

Selalu saya lihat minimal satu spanduk setiap ada hari wisuda. Kenapa saya begitu memperhatikan? Jelas karena kemacetan, hingga saya bisa menatap cukup lama untuk membaca spanduk tersebut. Yang ada dalam benak saya, apa gunanya memasang spanduk tersebut? Spanduknya sendiri dibaca ketika macet, dan yang ada hanyalah permintaan maaf. Lalu apa?

Bandoeng bukan lagi Bandung, brader! Bandung yang sekarang isinya plat B, dengan sapaan brader (bukan lagi jang). Bandung ini metropolitan, yan tidak lagi digerakkan untuk kota pendidikan. Sungguh tak ada yang dapat melarang kunjungan setiap insan, tapi bila memang menyesakkan, apa masih perlu berteriak-teriak pengusiran?

Setiap saya stuck di macetnya perkotaan Bandung, saya selalu berfikir apa sih yang membuat Jakartans melancong ke Bandung? Bukankah mereka memiliki segalanya di Jakarta sana, termasuk kemacetannya? Bila kita tilik alasannya, sebenarnya riil. Anak mereka menuntut ilmu di Bandung, dan anak mereka memberikan setidaknya satu buah kendaraan kepada anaknya untuk kebutuhan transportasi selama hidup empat tahun diperantauan. Tak jarang, mereka (orang tua) datang berkunjung untuk melancong sekaligus jajan-jajan makanan di seputaran Bandung.

Itu riil. Namun suatu waktu saya pernah berkesempatan berbincang cukup panjang dengan seorang sopir taksi di Bandung, setelah terlalu larut untuk pulang. Awalnya kami tak banyak bicara, hingga tiga-empat mobil plat Jakarta hampir ia tabrak. Lalu, mulailah sang sopir ngedumel. "Sok lah diadu jeung taksi yeuh anj*ng", ujarnya. Alhamdulillah, saya mengerti bahasa itu. Mulailah kami berbincang, dan segala hal yang ia keluhkan ialah seputar kemacetan. "Ya da sekarangmah ada yang bisnis buat makan siang aja ke Bandung, cuma buat makan siang da garelo Jakarta teh", cetusnya. Menurutnya, Bandung memiliki tatakota yang buruk karena terlalu banyak persimpangan di perkotaan, dan Cipularang memperkeruh permasalahan dengan menambah debit mobil dari luar kota secara signifikan. "Apalagi kalo malem minggu Dek, saya mah ga ngerti da aya wae acara teh di Gasibu. Puguh mobil teh loba tapi ongkoh weh jalanan teu meunang liwatGeus kuduna mah teu kudu aya acara tapi meunang liwat"

Kemana jagoan-jagoan planologi yang wisuda hari itu? Apakah mereka 'menata' kota dengan wisuda dirinya hari itu dengan segerombolan mobil (termasuk mobil orang tuanya dari Jakarta) yang stuck tak bergerak? Kemana pula birokrat-birokrat pemerintah kelas kakap ketika mengetahui bahwa (bahkan) diatas jalan layang Pasupati saja bisa terjadi banjir?

Jelas mereka memikirkan toga nya masing-masing, dan dosen-dosennya sedang memesan spanduk untuk dibentangkan di sebelah Cafe Halaman. Solusi tiada henti: Maaf (Bandung bukan lagi Bandoeng)!

Cahaya

Manusia butuh cahaya
Bahkan untuk tidur, manusia butuh cahaya
Gelap hanyalah gelap
Gelap mengiring tidur, namun cahayalah yang membimbing kita untuk tidak pernah mundur
Chris Martin mungkin berujar bahwa cahaya membawa kedamaian
Sekalipun untuk terbang tenggelam
Manusia bilang, jangan pernah sombong kecuali Anda adalah Edison, atau mungkin Watt, yang membuat matahari kedua setelah Tuhan
Orang seringkali lupa bahwa mereka akan beranjak tua dan kehilangan segalanya
Mungkin basi, tapi kalimat lama ‘Hidup adalah pilihan’ sepertinya abadi
Sampai senja tak ada lagi, dan cahaya tak menyala lagi
Mati

Sabtu, 13 Oktober 2012

Asal


Sebenarnya, ada sedikit kesombongan dalam diri saya. Aib ini mungkin merupakan dosa yang sejujurnya memiliki efek positif bagi pribadi, khususnya motivasi diri sendiri. Beberapa tahun silam, sekiranya akhir penghujung SMA, saya mulai berfikir untuk kembali menulis sebuah diary. Ya, diary, sebuah buku rahasia yang identik dengan kecengengan anak perempuan di berbagai masa. Walau rasanya sungguh sulit menemukan diary seutuhnya di zaman tablet seperti hari ini.

Saya coba, namun tidak bisa. Menulis tidak lagi simpel bagi saya, entah kenapa. Sensasinya bergeser ke dunia juru ketik. Sebuah desktop nan kolot di rumah menopang asa saya untuk dapat 'menulis' dan menampung isi diri saya ke dalam sebuah layar sinar yang datar.

Lahirlah beragam notes mengenai kehidupan. Segala tetek bengek kehidupan saya tumpahkan membanjiri isi blog. Kemudian beberapa teman yang beragam memberikan pandangan yang mengambarkan pemikiran mereka mengenai banjir yang telah saya tumpahkan. Sebagian besar berkata bahwa, "Ah tulisan lo berat banget bahasanya, pusing bacanya". Namun sebagian besar dari mereka itu pula yang seringkali memotivasi saya untuk terus menulis, bahkan membuat buku dari kumpulan tulisan saya yang tidak seberapa. Mungkin termasuk cerita yang sekarang sedang saya ketik ini.

Ibu saya, pihak pertama yang berkecimpung dengan jasad saya dari awal saya lahir ke dunia, berkata bahwa menulis merupakan sesuatu yang baik. Paman saya pun berkata demikian. Begitu pula beberapa teman terdekat. Maka hari ini, bahkan di tulisan ini, saya terus memaksakan diri untuk mengetik. Membuat cerita yang tidak jelas arahnya, dan sialnya lagi anda baca, mendingan berenti baca sekarang sebelum nyesel deh ya hahaha.

Kesombongan pun rasanya memesat dalam diri. Mau tau hal bodoh yang seringkali saya paksakan? Saya sangat puas bila dapat mengakhiri kalimat dengan rima yang sama. Pernah belajar puisi kan waktu SD? A-B-A-B sebagai akhiran kata? Dari tulisan pertama yang termuat di blog saya, hal-hal sepele itu dapat anda temukan sedikitnya satu atau dua kalimat.

Namun diluar keterpaksaan ini, saya merasa bersyukur karena mampu menyempatkan diri untuk lebih banyak membaca. Sebagian orang, termasuk saya, percaya bahwa semakin banyak membaca maka anda akan semakin dimampukan dalam menulis, walau hari ini membaca terkadang begitu membosankan, kecuali membaca timeline.

Bagi saya, menulis membutuhkan motivasi yang begitu tinggi, begitu juga dengan membaca. Inspirasi bisa saja datang setiap hari, namun untuk duduk manis dan meluangkan waktu untuk menulis adalah sesuatu yang seringkali hanya menjadi janji manis. Saya pernah (dan masih) termotivasi dengan komentar mereka-mereka yang (mungkin) sering membaca apa yang saya ketik, dan motivasi itu membesar setiap kali saya menyelesaikan tulisan. Entah siapa yang membaca, tapi tulisan itu pasti saya yang pernah menyelesaikannya. Maka, mengapa kali ini tidak bisa menyelesaikan satu tulisan lagi?

Ada yang mau ikut note-ing?

Dinosaurus, Lalu Ayam


Banyak orang di dunia ini percaya bahwa menjadi raksasa dan memiliki hidup selamanya adalah hal yang menarik. Film kartun seringkali bercerita tentang tokoh jahat yang hendak menguasai dunia, dan hidup abadi dengan umur yang muda. Puncak kekuatan menjadi alasannya, dan kekuasaan menjadi tujuannya.

Bila direnungkan, apakah Tuhan memungkinkan kehidupan yang seperti itu? Manusia pada kodratnya adalah makhluk sempurna yang juga diberikan kekurangan. Well, saya sebenarnya tidak menganggap ketidakmampuan manusia untuk dapat terbang adalah sesuatu yang 'kurang' dibandingkan burung elang, namun memang benar kan?

Ibarat ayam yang kalah oleh dinosaurus bila makhluk-makhluk ini hidup pada zaman dan ekosistem yang sama, manusia pun demikian. Makhluk haruslah adaptif untuk bertahan, agar tetap memiliki kekuatan dan kekuasaan, meskipun hanya seekor ayam.

Suatu hari, Ibu saya pernah berusaha menjabarkan skema kehidupan manusia secara singkat. Beliau melakukan penjelasan dengan menjadikan ayahnya sebagai contoh. Kakek saya dapat dikatakan sebagai orang yang berhasil pada zamannya, dan keberhasilan itu tidak membuat dia mati ketika harus berganti zaman dalam kehidupan. Adaptif dan solutif mungkin menjadi dua kata yang mewakili, dimana setelah itu dapat saya simpulkan bahwa kakek saya adalah orang yang non-post-power-syndrome.

Ketika manusia tersiksa dengan sindrom kekuasaan, kala dia menjadi seorang dinosaurus pada zamannya, maka tidak semua mampu menjalani kehidupan seekor ayam pada zaman selanjutnya, zaman dimana anak-anaknya adalah dinosaurus.

Semua orang harus menyadari bahwa tidaklah baik untuk memulai kehidupan dengan ekspektasi yang rendah dan cepat puas, apalagi membatas-batasi diri. Namun disamping itu manusia juga perlu menyadari bahwa suatu saat mereka harus turun gunung, dan menjadi ayam ketika pernah merasakan sekuat dinosaurus.

Sejauh yang saya tahu hingga saat ini, ada dua macam cara orangtua dalam mengajarkan kesuksesan pada anaknya. Yang pertama ialah mengajarkan kesusahan pada anaknya sejak muda, dan yang kedua ialah sangat menjauhkan kesusahan hidup dari anaknya sejak muda. Sorry,  ini hanya berlaku bagi orangtua yang memiliki kehidupan yang sulit pada masa kecilnya.

Dalam sering waktu, Papi saya berulang kali mengatakan dua hal: Hidup susah itu tidak enak, dan belajar hidup susah itu susah.

Tentunya saya sama sekali tidak memiliki hak untuk memberikan penilaian atas cara didik yang paling baik, karena saya percaya bahwa setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Pemukul-rataan cara pendidikan adalah sisi statis disamping kemajuan dunia. Namun, belajar jatuh ketika muda menjadikan kita tidak akan heran bila harus menjadi ayam ketika tua (nantinya). Contoh hidup, ya kakek saya.

Hanya memiliki dua stel pakaian ketika muda, bergelimang harta pada puncak karirnya, dan di umurnya yang menginjak kepala delapan beliau masih tidak keberatan untuk naik angkutan kota.

Dosen saya pernah memberikan pemaparan yang kira-kira seperti ini,

"Semua yang ada di dunia ini penuh dengan luck. Ketika lahir, siapa yang dapat memilih? Itu abstrak. Agama dan ekonomi tidak menjadi pilihan ketika anda lahir ke dunia, walau setelah itu anda dapat mengubah nasib anda sendiri."

Sesuatu yang perlu dihindari ialah bentuk kehidupan yang tidak menghidupkan anda. Jelasnya, kalau bisa, jangan menjadi ayam untuk pertama kalinya ketika tua. Oleh karena itu, saya percaya bahwa kehidupan yang baik ialah kehidupan yang mampu menghidupkan, setidaknya untuk diri anda sendiri.

Jumat, 13 Juli 2012

Leher Botol


Bumi, planet yang konon berumur sekitar 4,5 miliar tahun, adalah planet yang menjadi dunia para manusia. Makhluk yang menempati planet ini karena sebuah dosa ini adalah makhluk yang tergolong dalam kategori paling sempurna. Akal dan hati menjadi titik keunggulan absolut manusia terhadap spesifikasi makhluk ciptaan Tuhan lainnya, tentunya yang hingga sekarang ini telah ditemukan.

Meskipun banyak ilmuwan meragukan bahwa bumi adalah satu-satunya planet yang menjadi dunia kehidupan, dan lubuk hati saya yang memiliki keyakinan jika banyak kehidupan di luar sana, hingga saat ini belum ada publikasi global yang menyatakan bahwa 'dunia lebih besar dari sekedar bumi'. Bahkan setelah 43 tahun Neil Armstrong mencicipi berjalan di atas bulan, dengan jutaan orang menonton secara langsung dari televisi, masih ada jutaan orang yang meragukan kebenarannya.

Apa yang hingga sekarang manusia bicarakan tetaplah terlalu jauh dari kenyataan. Seiring percobaan dan penelitian mengenai kebenaran atas pertanyaan "Adakah planet lain yang mampu dihuni oleh manusia?", alangkah baiknya manusia tetap pada trek pemikiran yang realistis dengan mengasumsikan bahwa 'bumi adalah dunia manusia'.

Sewajarnya manusia ingin tinggal pada lingkungan yang nyaman. Sehat menjadi kunci utama kehidupan, karena kesakitan hanya berujung pada penderitaan. Ketika bersih pangkal sehat, maka sudah seharusnya manusia sadar bahwa bumi nya mereka ini tidaklah sehat karena tidak lah lagi bersih.

Cukupkah itu alasannya? Tidak. Dalam bukunya yang berjudul Hot, Flat, and Crowded, Thomas L. Friedman menjelaskan bahwa bumi telah terlalu panas, terlalu rata, dan terlalu penuh sesak. Seperti kata pepatah, segala sesuatu yang 'terlalu' tidak akan pernah menjadi baik. Dari sudut pandang ekonomi pun, yang berusaha memaksimalkan profit, equilibrium lah yang dicari. Apapun, 'terlalu' tetaplah 'terlalu', tidak akan pernah imbang dan menghasilkan keseimbangan.

Banyak faktor masalah yang mampu menjelaskan mengapa tiga hal tersebut terjadi, namun singkatnya semua mengerucut pada satu jawaban pasti: The world already over-populated.

Badan Pendudukan PBB menyatakan bahwa tahun ini akan ada sekitar 7 miliar kepala manusia yang hidup dalam hari yang sama. Pertumbuhan ini akan terus menggila, seperti fakta yang membuktikan bahwa penduduk dapat bertambah sebanyak satu miliar manusia dalam kurun waktu 12 tahun skala global.

Tidakkah manusia ingat jika ukuran dunia tidak berubah dari 4,5 miliar tahun yang lalu?  Belum lagi jika mengingat manusia hanya mampu bernafas di daratan, yang hanya sepertiga dari ukuran dunia, dan terus menyusut seiring pemanasan global?

Tulisan ini sejujurnya tidak akan pernah dapat membantu sedikitpun dalam penyusutan penduduk, atau apapun. Namun, bolehkah saya bertanya apakah yang dibutuhkan dunia saat ini?

Sesuai dengan hal yang dibahas pada awal tulisan, penelitian mengenai kemungkinan 'dunia luar' untuk ditinggali oleh manusia terus berjalan. Lalu, apalagi?

Dengan volume bumi yang konstan, dan pertumbuhan manusia yang terus melonjak ekstrim, benarkah bila bumi membutuhkan lahan daratan yang lebih luas? Apakah dengan membuang air laut ke laur angkasa? Ataukah hanya seleksi alam yang menentukan, sekiranya seperti yang digambarkan oleh Roland Emmerich pada film 2012?

Yang selama ini diterapkan oleh pola pikir kapitalisme bukanlah regenerasi, tapi kesuksesan instan dengan bermodalkan kekayaan. Bukti? Pemugaran panel surya yang dipasang oleh Jimmy Carter, presiden ke-39 Amerika Serikat, oleh Ronald Reagan, suksesornya, pada tahun 1986. Mungkin sepele, tapi presiden yang melakukan membuktikan sebuah kebijakan negara tersebut.

Meskipun begitu, masih ada negara yang berusaha 'solutif' dengan permasalahan global ini. Connie Hedegaard, menteri iklim dan energi Denmark, mengatakan bahwa negaranya sepakat berpolitik sehat dengan alam.

"Kami memutuskan untuk menggunakan pajak, maka energi dibuat relatif lebih mahal dan (karena itu) orang tergerak untuk berhemat dan berbuat apapun di rumah masing-masing supaya lebih efesien. Itu hasil dari tekad politik. Sebagai contoh, industri angin belumlah sebuah 'apa-apa' pada 1970-an. Kini, sepertiga dari semua turbin angin terestrial di dunia berasal dari Denmark", ujar Hedegaard.

Sedikit materi dalam notes ini telah tertuang dalam tulisan penulis dengan judul "Raksasa Jumawa". Apa intinya? Gerilya industri modern, yang sekarang ini seolah menjadi patokan pembangunan negara maju, membuat manusia semakin raksasa. Ketika diasumsikan satu orang dewasa memiliki satu sepeda motor, maka satu orang di dunia ini memiliki berat lebih dari 110 kg dan ukuran sekiranya dua kali lipat dari normal. Betapa sempitnya dunia ini, bukan?

Rasa ketidakpuasan manusia terkadang menghasilkan sebuah pembunuhan. Mengapa? Mengingat manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu dan dimungkinkan untuk berkembang, namun segala sesuatu yang 'terlalu' akan sangatlah memberatkan, apalagi bila dilakukan secara tidak imbang (antara pembangunan dan pengrusakan alam).

Maka, sepelik apakah dunia hari ini? Klaus Kelinfeld, direktur Alcoa yang merupakan pabrik alumunium kelas dunia, menggambarkannya dengan sebuah kalimat sederhana: "Sekarang, kemanapun Anda berpaling, Anda berjalan menuju ke leher botol"

Bagaimana menurutmu?

Mata Hamka


Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki akal pikiran. Sejengkal otak dalam kepala manusia memiliki kemungkinan yang besar untuk mampu menyelesaikan ribuan persamaan logatirma, dan itulah yang memang terjadi di dunia. Para nama besar ilmuwan yang menopang kehidupan hingga hari ini, selayaknya Einstein dan Thomas Alfa Edison, mungkin dulu tidak banyak berpikir dan bertanya 'Akan jadi apakah saya nantinya?', namun mereka belajar, bukan hanya hidup dan bekerja.

Buya Hamka pernah berkata, "Kalau hidup sekedar hidup,  babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja."

Entah apa solusi yang solutif dari perkataan beliau tersebut, namun saya meyakini bahwa dengan belajar semua dapat terselesaikan. Kuasa manusia atas pikiran dan pandangan adalah anugerah terbesar Tuhan dalam kehidupan, dan beliau berpikir bahwa otak tidak cukup baik jika hanya dimanfaatkan untuk bekerja dan menyambung hidup. Elevasi kehidupan haruslah menjadi sebuah tujuan.

Dalam kehidupan, manusia dianugerahi panca indera untuk dapat terus belajar dan bekerja. Sepasang bola mata ialah salah satu bagian dari indera untuk melihat, yang kerap dimanfaatkan manusia untuk menjalani hari ini untuk besok dan besok untuk lusa.

Namun, bila memang Anda percaya bahwa pernyataan Buya Hamka diatas adalah benar, maka Anda harus percaya jika keberadaan mata (dan juga telinga) ialah untuk meraba. Tangan? Untuk bekerja. Kaki? Berjalan (atau mungkin berlari, yang juga bagian dari 'kerjaan').

Meraba kehidupan menjadi sebuah ide untuk menciptakan pandangan. Situasi perlu untuk dipelajari, sehingga manusia bisa menentukan aksi dan melangkah pasti dengan percaya diri. Semua tahu, perbedaan pandangan adalah hal rutin dalam kehidupan. Argumen menjadi hal yang dianggap manusia dapat 'menyelesaikan', sehingga 'melobi' terkadang menjadi hobi dan politik menjadi sesuatu yang tidak lagi antik dan unik.

Seorang ahli manajemen sumber daya manusia pernah berujar kepada saya, dan juga tujuh orang teman saya (yang memiliki pola pikir tak sama), bahwa sudah menjadi kodratnya bila manusia hidup dengan asas kepentingan dan kebutuhan akan sesuatu. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang 'bekerja' dengan kebutuhan untuk 'melanjutkan hidup'. Setuju? Hingga detik ini saya belum menemukan alasan untuk tidak setuju, seiring dengan kepercayaan ilmu ekonomi bahwa 'people respond to incentive'.

Tapi, satu hal yang pasti, hidup tidaklah hidup bila hanya sekedar 'melanjutkan hidup' dari hari ke hari, tanpa sebuah aksi yang (mungkin) melahirkan opsi dan mosi.