Dunia itu dua suara, tersurat dengan banyak pena kekuasaan

Senin, 26 Desember 2011

Teh dan Cinta

Bercerita mengenai lebih dari satu tahun yang lalu, hal yang teringat oleh saya mungkin hanya satu: masuk kuliah. Setelah menjalani hampir setengah dari semester tiga, artinya saya telah memakan sedikitnya lebih dari dua semester di sini. Waktu terasa cepat, secepat flashback ingatan yang diceritakan ulang oleh secangkir teh yang menemani malam saya belakangan ini.


Akhir-akhir ini? Hmmmm singkat cerita, teh rasa cinta ini benar-benar sebuah momen re-behaviour atas apa yang saya lakukan dahulu, mungkin lebih dari satu bulan lamanya. Mungkin tidak baik untuk meng-egois-kan dan memukul rata fakta atas hal yang baru saja terjadi, tapi sejujur-jujurnya teh yang saya ceritakan kali ini memiliki cinta di dalamnya.


Jika pembaca meniliki notes saya jauh jauh sebelum notes ini, mungkin pembaca mengerti bahwa setelah ujian nasional tahun lalu, saya pergi merantau ke Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar. Tidak merantau sepenuhnya, karena saya tidak tinggal sendiri seperti banyak anak rantau 'asli' di sana.


Jalan Kejaksaan di Bandung adalah rumah Enin saya. Akrab rasanya. Hampir pusat kota letaknya. Ramai isinya. Sederhana kehidupannya. Basah pelukannya. Dan satu hal yang tidak terlupakan: luar biasa teh nya.


Satu tahun lebih saya disana ketika balita, dan satu bulan lebih saya (kembali tinggal) disana sekiranya satu tahun lalu, atas nama perjuangan pendidikan dan masa depan. Saya tidak menyangka akan benar-benar kuliah di Bandung pada akhirnya, dan Bandung yang memang kampung halaman saya menjadi lebih akrab terlebih dahulu sebelum akhirnya saya benar-benar (kembali) tinggal di Bandung.


Satu hal yang absolutely tradisi disini: teh hangat. Sebenarnya ini sebuah teh biasa yang proses penyajiannya bukan merupakan teh celup, melainkan teh rebus (daun teh keringnya dimasukan ke dalam poci dan di rebus beserta air di dalamnya). Bahkan saya tidak ingat berapa gelas air putih yang sebenarnya bening itu saya teguk setiap harinya, karena begitu seringnya teh hangat tersedia di meja makan, lengkap dengan pilihan gula di sebelah poci teh tersebut.


Gula pasir, batu, hingga merah tersedia disana. Sejujurnya, rasa manis menjadi favorit saya sejak kecil, dan pedas (masih) menjadi musuh hingga saat ini. Hal ini membuat preferensi saya selalu memilih teh hangat dan manis nan enak itu dibandingkan lain-lainnya, bahkan segelas susu yang seyogyanya menjadi menu sarapan saya.


Mungkin seumur hidup saya, saat itu adalah masa masa yang cukup berat untuk dijalani, dan masa masa itu dilalui dengan bercangkir-cangkir teh setiap pagi dan malamnya. Teh menjadi pelengkap sarapan, penghibur sore hari, dan akrab dengan lampu belajar serta soal-soal pada malam hari. Banyak manusia berasumsi, sebuah masa berat yang telah terlewati membuat kesan yang berarti, dan sepertinya (untuk saya) hal ini terangkum pada teh hangat.


Rasa cinta mereka, penghuni Kejaksaan, dalam dukungan moril pada saya tercermin dari teh hangat yang tersedia. Tanpa bisa dipungkiri, itu kebiasaan mereka, dan saya beradaptasi dengan baik pada hal itu.


Dan teh kembali hadir minggu ini, menemani saya, juga dengan rasa cinta namun dari pihak yang tidak sama. Selamat minum teh bagi kalian yang menyukainya, semoga kehangatan selalu bersama anda semua!

Senin, 14 November 2011

Optimistis, Realistis

Akal manusia terkadang tidak terbatas imajinasinya. Susah untuk menakar jangkauan imajinasi manusia, walau memang sangat terbatas kemampuan manusia itu sendiri untuk menjawab segala pertanyaan yang ada. Namun, manusia terkadang dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok sifat berbeda, optimistis dan realistis.


Pada dasarnya, optimis pasti diartikan oleh pembaca sekalian sebagai sifat untuk berpikiran positif, percaya diri, yakin atas kemampuan, dan masih banyak lagi definisi lainnya. Terserah! Tapi satu hal yang pasti, optimis mencerminkan harapan.


Di samping itu, realistis juga memiliki sederet arti dalam lingkup pribadi. Sebagian orang menilai realistis sebagai sesuatu yang mendekati realita, mencerminkan asa dalam segala posibilitas kehidupan, dan juga kemampuan akan sesuatu yang dapat diperbuat olehnya. Satu hal yang menurut saya menjadi ciri dari realistis itu sendiri: kemungkinan


Jika diharuskan untuk memilih, anda akan mendahulukan harapan atau kemungkinan? Secara kasat mata, kedua kata ini mungkin tampak memiliki arti yang serupa, tapi serupa tidak pernah bisa menggantikan arti kata 'sama'. Hal Lindsey mengatakan: "A man can survive 40 days without food, 3 days without water, 8 minutes without breathing, but only a sec without hope". Tersurat bahwa harapan adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan manusia. Lalu bagaimana dengan 'kemungkinan'? Telusuri saja seberapa besar kemungkinan objek manusia tersebut untuk menghadapi keadaan 40 hari tanpa makanan, 3 hari tanpa air, 8 menit tanpa oksigen, serta 1 detik tanpa harapan.


Lalu sebenarnya apa yang kita bicarakan?


Ambil contoh, ada sebuah atraksi pesulap yang ekstrim. Pada atraksi ini, sangmagician akan beraksi di dalam sebuah tabung, dan menenggelamkan dirinya pada tabung tersebut, dengan tangan dan kaki terikat pada borgol, dan harus melepaskan diri sebelum dirinya meninggal, tanpa kunci! Berapa besar harapan serta kemungkinan yang ada untuk atraksi ini?


Kemungkinan, dari awal atraksi, selalu besar karena predikat magician yang melekat pada orang tersebut. Semua orang jelas beranggapan bahwa segala trik yang dipertunjukan pasti telah di coba secara berulang, dan pesulap itu telah paham seluk beluk trik tersebut. Namun, jika kita bicara mengenai harapan, hal tersebut bergantung pada satu hal: kemampuan.


Selalu ada kemungkinan bagi Indonesia untuk menembus babak final Piala Dunia, namun soal harapan, sepertinya tidak. Kenapa mungkin? Jelas karena Indonesia terdaftar sebagai anggota FIFA, dan mengikuti seleksi Pra-Piala Dunia. Tapi soal harapan, tentu kita bicara kemampuan, dan sayangnya hal itu masih banyak diragukan.


Optimis dan realistis menjadi dua kata yang mendeskripsikan manusia dalam keadaan apapun yang dihadapinya.


Ketika pesulap tersebut tidak dapat lolos dari jeratan borgol yang membuatnya kehabisan nafas lalu meninggal, maka akan banyak faktor berbicara. Nasib, kemampuan, kerasionalan, hingga proses latihan. Semua faktor tersebut sebenarnya tidak muncul ketika sang pesulap telah gagal, tapi terlihat ketika dia memang sudah terlalu lama tidak dapat menyelesaikan tantangan yang ada. Asumsinya, ekspektasi yang ada seharusnya dalam 3 menit atraksi tersebut telah berakhir, namun ketiga memasuki menit keempat, tentu tingkat optimis para panitia dan penonton berkurang, dan pikiran bahwa tantangan ini realilistis untuk dapat diselesaikan juga berkurang.


Ada sebuah quote yang menarik soal ini. Semoga bisa menjadi penutup kata yang baik, dan tetap menumbuhkan semangat yang kuat.


"Kadang gue anggep cita-cita gue itu digantung setinggi atap rumah aja, walaupun ga setinggi langit tapi gue pasti bisa menggapainya."

Selasa, 11 Oktober 2011

Kosakata Mereka

Siapa Anda?


Ketika seseorang bertanya kepada anda demikian, jawaban apa yang akan anda berikan? Mungkin akan ada banyak pilihan dan itu seringkali melibatkan keadaan.


Jika yang bertanya adalah sahabat anda, pasti anda mengira dia bercanda. Jika yang bertanya adalah orang tua, bisa saja mereka menganggap anda adalah anak yang telah durhaka. Jika manusia tak dikenal yang bertanya, jelaslah hal wajar karena memang tidak saling kenal antara anda dan dia. (Maaf, penulis ini memang humornya jongkok)


Namun sebenarnya bukan hal itu yang dicari. Tapi kosakata pilihan yang sang penjawab berikan setelah dilemparkan sebuah pertanyaan. Tidakkah anda menyadari bahwa bisa begitu banyak macam jawaban yang bisa diberikan dari pertanyaan diatas yang hanya disusun oleh dua kata?


A: Siapa Anda?

B: Saya B


Itu versi simpel, mari tilik yang satu lagi.


A: Siapa Anda?

B: Saya orang keren yang easy-going


Dua hal berbeda kan? Satu lebih to the point, dan satu lagi lebih ke deskripsi personal secara singkat. Tapi, tidak ada yang bisa menyalahkan dua jawaban tersebut kan? Keduanya sama sama benar, sama sama menjelaskan siapa diri mereka.


Tapi dua jawaban dari satu pertanyaan ini menunjukan pemilihan kosakata yang menarik. Menunjukan kepribadian seseorang yang memang apa adanya. Kesampingkan penilaian baik dan buruk, tapi serously ini menunjukan sedikit sisi siapa mereka.


Contoh lebih real, buat anda yang remaja, coba tilik ketika ada teman yang berkata....

(Gunakan asumsi anda adalah seorang pria yang memiliki pacar bernama Susi. Dan anda memiliki seorang sahabat bernama Tono)


Tono: Mau kemana lo ntar malem?

Anda: Gatau, cabut paling sama cewe gue


Ok, contoh kedua


Tono: Pergi ga lo ntar malem

Anda: Gatau, gimana Susi kalo gue sih


Lagi, contoh ketiga


Tono: Malem kemana lo? Cabut sama cewe lo ga?

Anda: Iya palingan gitu sih

Terakhir nih, contoh keempat


Tono: Malem kemana lo? Susi lo ajak cabut ga ntar?

Anda: Gatau, ga ada duit nih gue


Pada dasarnya semua bukan merupakan problema dan tidak akan mengganggu hidup sebanyak ikan di samudera, tapi jelas setiap kata-kata menunjukan sesuatu yang tidak sama.


Kata ganti 'Susi' dengan 'cewe gue' atau 'cewe lo' merupakan hal kecil yang sama sekali tidak menggeser arti dari obyek yang bersangkutan. Tapi kenapa harus menggunakan kata ganti selagi bisa tidak diganti? Saya bukan jagoan tata bahasa, tapi seingat saya kata ganti dapat digunakan untuk menjelaskan lebih rinci mengenai sesuatu.


Lalu, apakah anda pikir bahwa si Susi itu akan sedih bila tau kalau anda hanya seringkali menyebut namanya, tanpa mengganti namanya dengan kata 'cewe gue' jika berbicara pada orang lain? Bisa ya, bisa juga tidak. Namun pikir ulang, buat apa juga dia sedih, dan buat apa juga dia senang? Toh tetap saja itu mengacu pada dirinya, kan? Lain hal bila objek yang di maksud telah mengalami pergeseran individu (artinya main serong, nyong!)


Hal ini pun terjadi di beragam pembicaraan dalam segala kepentingan bermasyarakat. Maksud-maksud rahasia, curhat, ejekan, pujian, hingga politik dan perbincangan bertopikkan mengenai keluarga seringkali menggunakan apa yang saya sebut sebagai fitur underground-talking.


Seingat saya, orang terlalu banyak bicara juga bukan sesuatu yang baik. Peribahasa mengatakan bahwa diam adalah emas. Walau emas sekarang lebih 'murah' karena seringkali diartikan sekedar 'warna', tapi tetaplah peribahasa itu menyampaikan kasta diam itu sungguh sungguh berharga. Tapi menurut saya sekarang ini dunia memang banyak bicara. Peribahasa tua yang kita tau sepertinya sudah dimakan usia, walau nilai nilai moral nya tetap ada. Singkatnya, diam itu tidak lagi berarti sebuah emas, tapi cukup menganut paham "Tak semua hal perlu dibicarakan".


Sebuah pilihan kata jelas menunjukan makna siapa diri kita, walau hanya kecil yang dibuatnya. Tapi anda jelas tidak menemukan hal yang lebih kecil untuk dapat digunakan melihat seperti apa manusia itu selain dari pilihan katanya walau sebagai sesama manusia sungguh kurang etis untuk saling menilai sesamanya.


Di lain hal, pilihan kosakata merupakan kemerdekaan dalam bersuara. Suka-suka anda, asalkan angan lupa tanggung jawab dan wibawa (juga maksud di dalamnya).

Sang Makna

Mulut untuk bicara

Dua suara, atau tiga

Pikirku, semua ada asa

Malu tuk ungkap semua

Semua? Hanya soal rasa

Yang diselimuti kata kata


Wajar saja

Itulah dunia, wahai manusia

Romansa untuk saya

Cukup diam tanpa kata

Dan lihat semua

Lalu? Lihat siapa yang juara

Raksasa Jumawa

1 September 2011. September ceria. Ya, banyak kepala memerintahkan mulut untuk berdoa agar mereka dapat menjalani kehidupan yang ceria di bulan ini. Saya? Sama dengan mereka, dan rutinitas yang saya lakukan setiap harinya juga tak lupa untuk dilakukan: buka timeline


Sebagian orang sangat anti terhadap twitter. Fergie berkata bahwa masih banyak hal yang dapat anda lakukan dengan manfaat yang lebih banyak daripada membuang waktu untuk twitter-an. Well, sepertinya beliau sedang nyepet pemilik akun @rioferdy5 yang memang memiliki kpentingan lebih dengannya.


Namun bagi saya, twitter adalah sebuah kicauan manusia yang (ok, harus diakuin) terkadang meracau secara kacau. Tapi, itu semua kembali kepada owner dari setiap akun-akun yang ada. Indra Herlambang mengatakan bahwa twitter itu dulunya indah sebelum ada istilah 'eh follback gue dong' dan lain sebagainya. Twitter sekarang menjadi ajang balap gap antara following dan followers. Seharusnya mereka sadar bahwa itu tidak memberi mereka uang, dan tidak pula dapat mengenyangkan isi perut mahasiswa yang belum sarapan.


Buat saya, twitter tetap berguna. Contohnya?


Goenawan Mohamad, pemiliki akun twitter @gm_gm, adalah inspirasi dari notes yang saya ketik ini. Dan sumpah, dia memberi inspirasi ini hanya dengan mengetik dua puluh kata!


"Ide awal dari mobil adalah utk bergerak cepat. Kini mobil adalah ruang utk bisa sedikit nyaman dalam keadaan tak bergerak"


Sehari sebelum tweet ini nongol di timeline saya adalah hari lebaran, yang juga H+1 lebaran, juga H-1 lebaran. Isi hari itu? Selain minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, hape yang tak berhenti berdering dengan sederet ucapan selamat lebaran, dan ada dua huruf 'M' penting yang tak boleh dilupakan: mudik dan macet.


Bukankah sebenarnya mudik itu melibatkan hubungan sakral antar manusia yang terikat dengan ikatan darah dan perkawinan? Adakah ikatan antara manusia dengan mobilnya? Manusia dengan motornya? Dapat dipahami bila disana terdapat hubungan antara manusia dengan moda transportasi, itu jelas. tapi transportasi yang mana?


Sebenarnya, tak hanya mudik untuk mencari contoh kecil dimana manusia menjadi raksasa. Disini kita dapat melihat jelas dimana manusia memanjang hingga hampir dua meter, memiliki berat seratusan kilogram, dan terlapisi oleh kulit fiber. Ya, itu adalah manusia motor.


Di lain kasus, manusia lainnya tumbuh hingga memiliki volume 12m³, dengan bemper pada setiap dengkul kakinya, juga cermin pada telinganya. Kali ini adalah makhluk bernama manusia mobil.


Maka jelas ketika dasarnya manusia menciptakan sebuah kendaraan untuk dapat bergerak lebih cepat, tetapi dengan penggunaan yang salah membuat penemuan ratusan tahun lalu yang terus berkembang ini menjadi sampah. Tak berpikirkah mereka bahwa dunia ini tetap pada ukuran yang sama? Bahkan diprediksi menyempit karena termakan oleh air di luar sana?


Saya juga bukan manusia sempurna yang begitu cinta dunia hingga tidak menggunakan kendaraan untuk aktivitas kemana-mana. Tapi saya berusaha untuk mengurangi ke-eksklusivitas-an dalam berkendara. Mungkin jujur saja bukan karena saya cinta dunia, tapi ekonomi tidak mendukung saya untuk berfoya-foya. Ya, saya masih mahasiswa.


Maka lain halnya bagi mereka, para bapak yang bekerja atas nama cinta keluarga dan negara, yang membawa tiga kursi kosong kemana-mana, padahal ia tau bahwa kursi-kursi tersebut harus senantiasa dibersihkan walau tanpa penghuni. Luar biasa kan manusia ini?


Merekalah para raksasa dunia. Mereka yang tidak memanfaatkan transportasi umum yang ada. Mereka yang dengan senang hati memperbesar ukuran 'badan' mereka dan menari indah di ruas ruas jalan ibukota. Mereka adalah superstar. Tak percaya? Lihatlah, bukankah mereka sampai rela membayar pantat orang untuk duduk di kursi kosong yang mereka bawa kemana-mana hanya untuk melewati sebuah jalan dengan sebuah aturan yang diciptakan pemerintah demi efesiensi mobilitas manusia dan menekan angka kemacetan dalam kota?


Tweet @gm_gm berikutnya ialah: "Makin banyak orang mampu mencari tempat yang sepi -- dan menemukannya sudah tak bisa sepi lagi."


Saya adalah pengguna sepeda motor setiap harinya. Saya mengerti betapa banyaknya sepeda motor yang ada saat ini. Kemudahan memperoleh kuda besi tersebut bahkan mengalahkan kemudahan untuk memperoleh kuda sungguhan yang diciptakan Tuhan. Hingga saya terkadang kesal dengan fasilitas parkiran motor yang sangat tidak menghargai harga motor tersebut....


Wajarkah keluhan saya tersebut? Wajar, mengingat tidak terjaminnya motor anda dari baret gaib yang terkadang ujug-ujug ada.


Namun dengan mengeluh begitu, berarti anda menganggap wajar banyaknya tempat luas yang diciptakan hanya untuk parkiran kendaraan. Ketika parkiran menjadi bisnis yang menggiurkan, maka benar bahwa tempat sepi telah menjadi ramai. Ramai oleh para raksasa...


Negara kita memang masih kelas dua dalam hal moda transportasi umum dan kurang memberi kenyamanan dan keamanan di dalamnya. Namun, ada baiknya anda berusaha mengurangi apa yang bisa anda kurangi. Mungkin dengan membuka nebeng.com? Bukan promosi, karena tak satupun adminnya adalah keluarga saya. Tapi sumpah ini adalah gerakan yang peduli lingkungan.


Ataukah ada diantara kalian yang mampu memperbesar bumi ini? Let's try!

Sabtu, 03 September 2011

Pengukur (Yang) Sempurna

Dunia menyuguhi kita, para manusia, dengan sederet kenyataan yang nyata, fakta, dan tidak (begitu banyak) rahasia. Dunia, yang sering disempitkan artinya oleh manusia awam sebagai 'bumi', adalah sesuatu yang sebenarnya hampa, dan dibuat penuh serta nyata oleh manusia. Ya, kita.


Dalam arti kecil, mungkin saya bisa menyimpulkan bahwa Bogor adalah dunia saya. Lalu saya berekspansi, dan Bandung pun setahun ini begitu akrab dengan saya. Kecilkah dunia saya? Setidaknya bertambah luas, namun tetap saja saya (masih) buta akan ibukota nusantara, Jakarta.


Sebuah dialog lucu dengan Paman saya malam itu memberi inspirasi untuk menulis sebuah catatan kecil ini. Beliau melemparkan sebuah pertanyaan,


"Sal, kamu tahu apa ukuran kemacetan di Jakarta?"

"Engga"


Oke pembaca, apakah menurut kalian saya ini bodoh? (Sebenarnya apa yang bakal kalian jawab kalo dikasih pertanyaan kaya gitu? Pukul rata, situasinya lagi di lampu merah duaratus-an detik?)


Saya cenderung untuk menjawab tidak tahu, padahal terbesit dalam otak saya jawaban yang sungguh-sungguh sophisticated (bukan sok pinter tapi ini serius!).


Hal pertama yang hinggap dalam jalan pikiran saya, yang hampir diutarakan oleh mulut saya, adalah jumlah mobil dan motor yang luar biasa banyak.


Jawaban itu, bila benar-benar saya utarakan, pasti akan saya jelaskan secara simpel karena tentunya malesin banget berbicara soal kredit motor yang sekarang ini begitu murah, perbaikan mutu jalan yang tidak seimbang dengan jumlah pertambahan kendaraan, pajak yang diselewengin oleh para copy-cat maupun founder Gayus Tambunan, hingga jeleknya moda transportasi umum yang ada.


Namun beliau menjawab, "Pengamen".



Kadang-kadang pengamen memang hanya bekerja di sebuah lampu merah. Namun apakah setiap lampu merah itu menjadi kantor bagi para pengamen? Tidak rasanya. Tentu kalian sadar kan bahwa ada beberapa yang menjadi 'kuburan', dan beberapa yang selayaknya 'pertunjukan orkestra'? Terlepas dari faktor satpol pp dan polisi, tentu keramaian kantor lah yang diincar para 'pekerja suara kemiskinan'. Sebuah ukuran yang nyata dan sempurna, bukan?


Bila pengamen digolongkan sebagai pekerjaan resmi, dan setiap pekerjaan berorientasi pada penghasilan, maka pengamen tentunya akan berusaha mengumpulkan penghasilan sebanyak-banyaknya. Bagaimana? Dengan bekerja pada sumber pundi-pundi mereka. Siapa? Para pengguna lalu lintas yang sedang terhenti mobilitasnya.


Tilik lebih dalam! Dunia yang tidak sempurna ini berarti diukur kesempurnaannya oleh manusia-sang-makhluk-sempurna-ciptaan-Tuhan. Ironis?


Dalam kehidupan, sepertinya benar bahwa kita tidak membutuhkan sesuatu yang rumit dan panjang. Mungkin disini kita bisa sama-sama memahami ulang, mengapa dalam ujian sekolah, guru seringkali meminta jawaban yang singkat, jelas, dan padat. Tilik mulai dari hal ter-simpel dan terjarang ditilik oleh orang lain.


Jadilah seorang yang berbeda, karena kita adalah makhluk sempurna di dunia yang tidak.

Minggu, 07 Agustus 2011

8erusaha

Anggap saja saya memiliki lima saudara yang bisa dibilang seumur. Well, rentang usia antara SMA hingga mahasiswa agaknya bisa di bilang sungguh rata. Singkat cerita, mereka akhir-akhir ini sering ngajakin main billiard (Aduh, menurut saya kalo pake istilah 'nyodok' itu sungguh ambigu sekarang-sekarang ini).


Saya sendiri sebenarnya tidak begitu pandai dalam olahraga yang satu ini. Bisa dibilang saya penganut paham 'Asal kena', bukan 'Harus masuk'. Sebelum game pertama, jujur aja saya lupa aturan mainnya! Ada lebih dari satu tahun gak megang stick, membuat saya harus kembali dijelaskan apa yang dinamakan 'Bola Delapan'.


Game ini mengharuskan kita untuk memasukan bola nomor delapan ke dalam enam lubang yang tersedia di setiap sudut meja, namun dengan syarat harus menghabiskan bola nomor-nomor lainnya terlebih dahulu. Singkat cerita, memasukan bola nomor delapan tidak pada waktunya membuat kita kalah dan kehilangan segalanya.


Dan memang bodohnya saya, hari itu saya melakukan hal yang mencetak kekalahan pertama sore itu. Bola delapan masuk sarang dengan cepat.


Pikir saya (sembari mengelak atas kebodohan saya soal aturan permainan dan melakukan pembelaan mati-matian) kalo memang bisa mencetak goal dengan cepat, buat apa berlama-lama mengurusi bola lainnya?


Tiga detik berselang, saya berniat menulis notes sok-bijak ini. Maaf jika tiga detik terlalu lama, tapi saya bisa pastikan tiga detik itu adalah sebuah proses yang tercipta alamiah.


Lupa kah kita semua akan arti dari 'proses'? Alhamdulillah saya hanya lupa hal tersebut selama tiga detik lamanya. Terlepas dari kenyataan dimana aturan game tersebut memang telah demikian adanya, dan hidup yang baik mengajarkan saya untuk mematuhi segala peraturan yang ada, aturan ini mengajarkan kita bagaimana melakukan sebuah 'proses' dan 'berusaha'.


Studi kasusnya: Mari pikirkan oleh Anda. Pemenang game ini adalah siapapun yang memasukan bola delapan paling cepat dan tepat waktunya. Artinya, pemenang adalah dia yang dapat memasukan bola delapan setelah seluruh bola nomor lainnya hilang dari meja. Adakah aturan bahwa sang pemenang haruslah orang yang memasukan bola terbanyak? Adakah constraint yang mengatakan bahwa ia tidak dapat menjadi seorang pemenang apabila hanyan mampu memasukan bola delapan di saat-saat akhir?


Tidak. Dan menurut anda, lebih jago manakah seseorang yang mampu menuntaskan seluruh bola selain bola delapan, lalu terpeleset dan gagal menuntaskan bola delapan, dan sang lawan menjadi pemenang karena bola delapan masuk oleh sodokan stick nya?


Hidup memang kejam. Bila game itu mempertaruhkan gelar juara dunia, tentu orang kedua tetaplah yang juara. Apakah itu adil?


Aturan tetap aturan. Tidak bisa dikondisikan bila memang takdir yang mengatakan demikian. Namun, secara pribadi jelas saya lebih menyukai orang pertama, walau ia menjadi pecundang di hadapan si piala dunia. Saya rasa juga banyak spectator diluar sana berpendapat demikian, bahkan juga mungkin anda yang membaca cerita ini.


Hoki? Ya, sebagian dari manusia berpendapat bahwa keberuntungan adalah bagian dari kemampuan. Boleh jadi saya pun adalah orang-orang yang setuju dengan pemikiran seperti ini, tapi bagaimanapun juga keberuntungan itu tidak akan pernah menjadi bagian dari usaha, kan? Ingat-ingatlah tokoh bernama Untung dalam komik Donal Bebek yang mungkin menjadi santapan anda sebelum beranjak remaja dan dewasa dahulu kala.


Terkadang kita memang terlena dengan segalanya di luar apa yang dinamakan usaha. Hal ini tidak hanya dapat terilustrasikan dalam cabang olahraga billiard.


Sudah lama saya mengharapkan adanya penghargaan yang setara terhadap mereka para top-assist dengan para top-scorer dalam cabang olahraga sepakbola, karena tidak selamanya goal legendaris aksi individu Maradona ke gawang Inggris itu lebih keren daripada dua assist Beckham untuk Ole dan Sheringham ke gawang Muenchen tahun 1999.


Idealisnya, berusaha adalah sebuah kewajiban, dan proses adalah sebuah rangkaian yang menciptakan kehidupan. Berusahalah, toh teori Newton III yang mengatakan "Aksi = Reaksi" masih berlaku, kan?