Dunia itu dua suara, tersurat dengan banyak pena kekuasaan

Sabtu, 03 September 2011

Pengukur (Yang) Sempurna

Dunia menyuguhi kita, para manusia, dengan sederet kenyataan yang nyata, fakta, dan tidak (begitu banyak) rahasia. Dunia, yang sering disempitkan artinya oleh manusia awam sebagai 'bumi', adalah sesuatu yang sebenarnya hampa, dan dibuat penuh serta nyata oleh manusia. Ya, kita.


Dalam arti kecil, mungkin saya bisa menyimpulkan bahwa Bogor adalah dunia saya. Lalu saya berekspansi, dan Bandung pun setahun ini begitu akrab dengan saya. Kecilkah dunia saya? Setidaknya bertambah luas, namun tetap saja saya (masih) buta akan ibukota nusantara, Jakarta.


Sebuah dialog lucu dengan Paman saya malam itu memberi inspirasi untuk menulis sebuah catatan kecil ini. Beliau melemparkan sebuah pertanyaan,


"Sal, kamu tahu apa ukuran kemacetan di Jakarta?"

"Engga"


Oke pembaca, apakah menurut kalian saya ini bodoh? (Sebenarnya apa yang bakal kalian jawab kalo dikasih pertanyaan kaya gitu? Pukul rata, situasinya lagi di lampu merah duaratus-an detik?)


Saya cenderung untuk menjawab tidak tahu, padahal terbesit dalam otak saya jawaban yang sungguh-sungguh sophisticated (bukan sok pinter tapi ini serius!).


Hal pertama yang hinggap dalam jalan pikiran saya, yang hampir diutarakan oleh mulut saya, adalah jumlah mobil dan motor yang luar biasa banyak.


Jawaban itu, bila benar-benar saya utarakan, pasti akan saya jelaskan secara simpel karena tentunya malesin banget berbicara soal kredit motor yang sekarang ini begitu murah, perbaikan mutu jalan yang tidak seimbang dengan jumlah pertambahan kendaraan, pajak yang diselewengin oleh para copy-cat maupun founder Gayus Tambunan, hingga jeleknya moda transportasi umum yang ada.


Namun beliau menjawab, "Pengamen".



Kadang-kadang pengamen memang hanya bekerja di sebuah lampu merah. Namun apakah setiap lampu merah itu menjadi kantor bagi para pengamen? Tidak rasanya. Tentu kalian sadar kan bahwa ada beberapa yang menjadi 'kuburan', dan beberapa yang selayaknya 'pertunjukan orkestra'? Terlepas dari faktor satpol pp dan polisi, tentu keramaian kantor lah yang diincar para 'pekerja suara kemiskinan'. Sebuah ukuran yang nyata dan sempurna, bukan?


Bila pengamen digolongkan sebagai pekerjaan resmi, dan setiap pekerjaan berorientasi pada penghasilan, maka pengamen tentunya akan berusaha mengumpulkan penghasilan sebanyak-banyaknya. Bagaimana? Dengan bekerja pada sumber pundi-pundi mereka. Siapa? Para pengguna lalu lintas yang sedang terhenti mobilitasnya.


Tilik lebih dalam! Dunia yang tidak sempurna ini berarti diukur kesempurnaannya oleh manusia-sang-makhluk-sempurna-ciptaan-Tuhan. Ironis?


Dalam kehidupan, sepertinya benar bahwa kita tidak membutuhkan sesuatu yang rumit dan panjang. Mungkin disini kita bisa sama-sama memahami ulang, mengapa dalam ujian sekolah, guru seringkali meminta jawaban yang singkat, jelas, dan padat. Tilik mulai dari hal ter-simpel dan terjarang ditilik oleh orang lain.


Jadilah seorang yang berbeda, karena kita adalah makhluk sempurna di dunia yang tidak.

Minggu, 07 Agustus 2011

8erusaha

Anggap saja saya memiliki lima saudara yang bisa dibilang seumur. Well, rentang usia antara SMA hingga mahasiswa agaknya bisa di bilang sungguh rata. Singkat cerita, mereka akhir-akhir ini sering ngajakin main billiard (Aduh, menurut saya kalo pake istilah 'nyodok' itu sungguh ambigu sekarang-sekarang ini).


Saya sendiri sebenarnya tidak begitu pandai dalam olahraga yang satu ini. Bisa dibilang saya penganut paham 'Asal kena', bukan 'Harus masuk'. Sebelum game pertama, jujur aja saya lupa aturan mainnya! Ada lebih dari satu tahun gak megang stick, membuat saya harus kembali dijelaskan apa yang dinamakan 'Bola Delapan'.


Game ini mengharuskan kita untuk memasukan bola nomor delapan ke dalam enam lubang yang tersedia di setiap sudut meja, namun dengan syarat harus menghabiskan bola nomor-nomor lainnya terlebih dahulu. Singkat cerita, memasukan bola nomor delapan tidak pada waktunya membuat kita kalah dan kehilangan segalanya.


Dan memang bodohnya saya, hari itu saya melakukan hal yang mencetak kekalahan pertama sore itu. Bola delapan masuk sarang dengan cepat.


Pikir saya (sembari mengelak atas kebodohan saya soal aturan permainan dan melakukan pembelaan mati-matian) kalo memang bisa mencetak goal dengan cepat, buat apa berlama-lama mengurusi bola lainnya?


Tiga detik berselang, saya berniat menulis notes sok-bijak ini. Maaf jika tiga detik terlalu lama, tapi saya bisa pastikan tiga detik itu adalah sebuah proses yang tercipta alamiah.


Lupa kah kita semua akan arti dari 'proses'? Alhamdulillah saya hanya lupa hal tersebut selama tiga detik lamanya. Terlepas dari kenyataan dimana aturan game tersebut memang telah demikian adanya, dan hidup yang baik mengajarkan saya untuk mematuhi segala peraturan yang ada, aturan ini mengajarkan kita bagaimana melakukan sebuah 'proses' dan 'berusaha'.


Studi kasusnya: Mari pikirkan oleh Anda. Pemenang game ini adalah siapapun yang memasukan bola delapan paling cepat dan tepat waktunya. Artinya, pemenang adalah dia yang dapat memasukan bola delapan setelah seluruh bola nomor lainnya hilang dari meja. Adakah aturan bahwa sang pemenang haruslah orang yang memasukan bola terbanyak? Adakah constraint yang mengatakan bahwa ia tidak dapat menjadi seorang pemenang apabila hanyan mampu memasukan bola delapan di saat-saat akhir?


Tidak. Dan menurut anda, lebih jago manakah seseorang yang mampu menuntaskan seluruh bola selain bola delapan, lalu terpeleset dan gagal menuntaskan bola delapan, dan sang lawan menjadi pemenang karena bola delapan masuk oleh sodokan stick nya?


Hidup memang kejam. Bila game itu mempertaruhkan gelar juara dunia, tentu orang kedua tetaplah yang juara. Apakah itu adil?


Aturan tetap aturan. Tidak bisa dikondisikan bila memang takdir yang mengatakan demikian. Namun, secara pribadi jelas saya lebih menyukai orang pertama, walau ia menjadi pecundang di hadapan si piala dunia. Saya rasa juga banyak spectator diluar sana berpendapat demikian, bahkan juga mungkin anda yang membaca cerita ini.


Hoki? Ya, sebagian dari manusia berpendapat bahwa keberuntungan adalah bagian dari kemampuan. Boleh jadi saya pun adalah orang-orang yang setuju dengan pemikiran seperti ini, tapi bagaimanapun juga keberuntungan itu tidak akan pernah menjadi bagian dari usaha, kan? Ingat-ingatlah tokoh bernama Untung dalam komik Donal Bebek yang mungkin menjadi santapan anda sebelum beranjak remaja dan dewasa dahulu kala.


Terkadang kita memang terlena dengan segalanya di luar apa yang dinamakan usaha. Hal ini tidak hanya dapat terilustrasikan dalam cabang olahraga billiard.


Sudah lama saya mengharapkan adanya penghargaan yang setara terhadap mereka para top-assist dengan para top-scorer dalam cabang olahraga sepakbola, karena tidak selamanya goal legendaris aksi individu Maradona ke gawang Inggris itu lebih keren daripada dua assist Beckham untuk Ole dan Sheringham ke gawang Muenchen tahun 1999.


Idealisnya, berusaha adalah sebuah kewajiban, dan proses adalah sebuah rangkaian yang menciptakan kehidupan. Berusahalah, toh teori Newton III yang mengatakan "Aksi = Reaksi" masih berlaku, kan?

Jumat, 29 Juli 2011

Flow

Apa yang membuatmu betah melakukan suatu rutinitas? Profesionalisme? Gengsi? Tuntutan beberapa pihak? Atau mungkin kebutuhan hidup? Well, semua orang tentunya memiliki jawaban yang berbeda, karena kehidupan yang dijalani oleh setiap individu selalu berbeda. Mungkin saja serupa, tapi tetap saja kata 'serupa' tidak dapat di definisikan sebagaimana kata 'sama'.


Jika saya boleh bertanya, maka menurut anda darimanakah rasa jenuh akan sesuatu itu datang?


Okay, saya bukan ahli bahasa Indonesia yang juara, maka mari kita samakan arti dari kata jenuh dan bosan hanya di dalam notes ini, selanjutnya silahkan buka kamus besar bahasa kita yang tebalnya sangat jumawa.


Terkadang beberapa orang mendapatkan kehidupannya tidak dengan sebuah rutinitas, namun sebagian besar melakukan rutinitas untuk memperoleh apa yang di inginkannya. Benarkah? Ya, melakukan sesuatu yang berulang setiap harinya, dengan tujuan yang sama, bahkan mungkin dengan misi yang tidak diinovasi dari waktu ke waktu adalah contoh dari sebuah rutinitas. Contoh riil? Menurut Anda, apakah memasak dan makan ketupat saat hari raya Idulfitri adalah sebuah rutinitas tahunan? Sebagian dari Anda mungkin menjawab ya, dimana sebagian lagi menjawab, "Itu sih adat lah!".


Kedua jawaban tersebut mumpuni untuk menjawab pertanyaan yang ada, dan tidak ada keraguan akan itu. Namun, terlepas dari rutinitas atau bukan, apakah anda tidak bosan jika melakukan sesuatu tanpa adanya perubahan?


Sejauh saya mempelajari ilmu ekonomi, salah satu kurva-kurva yang menarik bagi paradigma saya mengenai kehidupan ialah The Law of Diminishing. Hukum ini menjelaskan berbagai hal, misalnyadiminishing of marginal utility, atau mungkin diminishing of marginal product. Ditilik dari arti katanya,diminishing mewakili arti 'adanya pengurangan dari suatu variabel yang diamati'. Hal menarik yang patut dicermati adalah, pengurangan pengurangan yang ada selalu terjadi manakala suatu faktor penentu variabel tersebut telah berada pada titik puncak, sehingga input dan output tidak akan seimbang dengan sama ekspektasi semula dan hasil-hasil sebelumnya.


Sekarang bagaimana bila kita buat studi kasus ini dalam kehidupan keseharian manusia. Pertama, ubah kata 'puncak' menjadi 'titik jenuh', lalu kata 'rutinitas' menggantikan 'suatu faktor penentu variabel tersebut'. Asumsinya, variabel yang diukur adalah 'kesenangan'. Got It? Ubah juga kata 'input' menjadi 'usaha' dan 'output' menjadi 'kesenangan'


Bagaimana redaksi kalimatnya?


Bahkan dengan seyakin-yakinnya saya dapat mengatakan bahwa bagi orang yang loyal sekalipun, sesuatu yang rutin dan telah berlebihan pasti akan menurunkan 'gairah' untuk melakukan hal itu lagi di esok harinya, bahkan mungkin tahun berikutnya! (Ya bayangin aja kalo tiap lebaran nyamperin engkong terus disuguhin ketupat dengan rasa yang sama, meja makan yang sama, orang-orang yang sama, serta isi acara yang sama?)


Flow. Bila saya dapat ciptakan teori The Flow of Spirits and Willingness, mungkin David Ricardo dan Karl Marx akan menertawakan gelar S.E yang insyaallah akan saya peroleh beberapa tahun kedepan karena flow ini juga salah satu yang bersifat diminishing.


Rutinitas tentunya tidak bisa dihindari, tapi wajib untuk diakali. Pengaturan flow adalah salah satu kunci untuk menyelesaikan hal ini. Tentunya disadari atau tidak, inilah yang mendasari sebagian besar manusia berpikir untuk menyisipkan games di tengah-tengah seminar padat karya, membuat janji baju lebaran sewarna untuk satu keluarga besar dan berbeda warna setiap tahunnya (sehingga album foto lebaran keluarga pasti udah kaya pallet cat lukis), atau mungkin menggunakan jatah bolos bagi para mahasiswa karena merasa absensinya masih cukup untuk ikut serta dalam ujian akhir.


Hal-hal baik di luar rutinitas tentunya adalah sesuatu yang terkadang diharapkan. Itulah salah satu alasan mengapa surprise selalu menjadi hal yang menarik dan menyenangkan, walaupun pada hari ulang tahun anda tidak mendapat kue apapun tetapi pulang dengan badan bau comberan. Semua tetap menyenangkan dan berkesan.


Jadi, let it flow and keep up the good flow!

Sabtu, 09 Juli 2011

Alasan (dan Pertanyaan)

Sedikit-sedikit, orang selalu bertanya mengenai alasan atas setiap keputusan yang diambil. Entah itu oleh dirinya sendiri maupun pihak lain. Yang jelas, menurut saya hal ini bersifat sungguh manusiawi, dan sudah menjadi hal lumrah (bahkan sangat lumrah) mendengar, "Kenapa?" atau "Jelasin coba sama gue..." dalam setiap kesempatan yang berbau adanya kebutuhan unsur-unsur penjelasan. Ya, pihak penanya mengejar apa yang dinamakan 'alasan'.


Dalam ilmu manajemen, dijelaskan bahwa sesuatu yang dibutuhkan setiap manusia agar termotivasi dengan sempurna ialah 'kebutuhan'. Artinya, kebutuhan manusia itulah yang menjadi alasan dari apa-apa yang mereka lakukan. Simpelnya, alasan mengapa ayahmu pergi gelap dan pulang gelap pasti salah satunya untuk dapat membayar biaya semesteran kuliahmu.


Sebenarnya saya sendiri bingung, kenapa alasan selalu menjadi faktor penting dari setiap keputusan. Menurut Anda, mengapa? Entah, saya yakin pastinya setiap kalangan memiliki definisi tersendiri mengingat pertanyaan ini bukanlah sesuatu yang eksak. Definisi akan hal hal kecil seringkali lahir dari dalam diri secara spontan dan dipengaruhi oleh kata hati dan perasaan. Betul?


Contoh dari dunia remaja? Hmmmm, mari ilustrasikan dalam diri anda....


Ada dua orang remaja yang memiliki keterkaitan cinta (yaaaa, cinta monkey juga gapapa asal mereka pacaran). Lalu, bayangkan mereka putus secara sepihak (misal si pihak pria memutuskan hubungan tiba-tiba). Tebak kelanjutannya, pasti pihak wanita akan bertanya-tanya kan atas keputusan yang ada? Jelas cuma satu yang dikejar, alasan.


Bila di runut ulang sesuai imajinasi dari setiap individu yang membaca tulisan ini, terutama anda yang sekarnang sedang membaca dengan bosan, mungkin aje si cowo itu selingkuh, atau mergokin cewe nya main api kemarin malamnya, mungkin kan? Yaaaa, apapun itu, tentu memiliki alasan. Sulit untuk melakukan sesuatu hal tanpa sebuah alasan.


Yang sebenarnya jadi masalah, seberapa pentingnya sih mempertanyakan sebuah alasan untuk setiap keputusan? Ok, jelas setiap yang diperbuat oleh manusia pasti memiliki alasan. Dalam kasus percintaan diatas, saya sendiri setuju bahwa adanya keharusan untuk menjelaskan alasan, karena hal ini berhubungan antara dua pihak dan harus diselesaikan dengan bijak. Namun, apakah benar bahwa setiap keadaan memerlukan penjelasan alasan?


Semakin dewasa, sewajarnya anda dapat menjawab berbagai pertanyaan yang lahir dalam benak tanpa perlu banyak bertanya, tapi melalui intuisi, membaca raut wajah, perilaku, cara tutur kata, dan lain sebagainya.


Seseorang pernah berkata, 'Segala pertanyaan pada akhirnya akan terjawab sendiri oleh si pemilik pertanyaan'. Entah mungkin saya yang salah tafsir atau bagaimana, tapi yang saya tangkap ialah 'Pada akhirnya sang pemilik pertanyaanlah yang berhak menentukan jawaban mana yang akan disetujui olehnya'. Got this? Selalu lahir banyak jawaban dari sebuah pertanyaan simpel, dan hanya sang pemilik pertanyaan yang berhak memilih jawaban mana yang ia kehendaki dan dirasa memuaskan sel-sel pemikir dalam otak.


Di sisi lain, seperti tulisan saya terdahulu yang berjudul Otak dan Hati, Sugesti dan Sinergi, jangan lupa bahwa dasar kehidupan manusia berasal dari logika dan perasaan, dua hal berbeda yang harus senantiasa berjalan beriringan dalam berbagai macam keadaan. Terkadang, perasaan dapat menentukan sesuatu tanpa sebuah alasan. Sebaliknya, logika selalu mencari sebuah alasan sebelum memutuskan sesuatu dalam sebuah keadaan.


Seorang wanita pernah berkata, 'Love has no reason'. Ada benarnya saya pikir, karena terkadang anda tidak dapat menjelaskan abstraksi perasaan anda karena memang ada hal-hal yang sungguh abstrak untuk diungkapkan dengan kata-kata. Inilah yang dinamakan perasaan, dan anda tidak selalu menemukan alasan dalam setiap perkara mengenai perasaan.


Jadi, masihkah anda merasa bahwa mempertanyakan setiap alasan adalah sebuah keharusan? Ataukah sekarang anda mulai berpikir bahwa beberapa pertanyaan tidak memerlukan alasan? Yang benar adalah setiap perbuatan pasti memiliki alasan, namun tidak setiap alasan perlu dipertanyakan.

Sabtu, 28 Mei 2011

Dua Sisi, Pilihan, dan Konsistensi

Dalam keseharian, selalu terdapat waktu untuk memilih berbagai pilihan dengan sederet kemungkinan yang hasilnya hanya dapat diperkirakan. Kearah manapun anda berfikir, sejauh apapun, sekreatif apapun, tetap saja ketidakpastian itu muncul sebagai sebuah jawaban. Tidak pernah ada sesuatu yang pasti untuk setiap kemungkinan.


Satu-satunya kepastian yang diberikan dari sebuah kemungkinan adalah 'opsi'. Opsi, atau langkah, adalah hal hal yang pasti ada dan harus di pilih sebagai sebuah jawaban dari permasalahan yang hadir. Tanpa melangkah, anda adalah benda mati. Tak perlu hiraukan dahulu apakah anda akan melangkah maju atau mundur, tapi pilihan anda untuk melangkah adalah permasalahan awal yang harus diselesaikan.


Layaknya sepakbola, tidak ada salahnya kan untuk melakukan passing ke belakang? Sebaliknya, melangkah kedepan terlalu jauh dan terlalu cepat adalah sebuah off-sideyang melanggar peraturan.


Lahirnya beragam pilihan bisa saja terjadi pada saat yang bersamaan. Suatu saat anda merasa tidak punya pilihan, dan saat berikutnya anda merasa memiliki beragam pilihan. Sebuah hal yang wajar, mengingat pilihan terkadang tidak hanya output dari pemikiran sendiri, tapi juga dari lingkungan, keadaan, atau mungkin kawan dan rekan-rekan.


Namun, disini kita tidak membicarakan berapa pilihan yang dimiliki, tetapi tentang satu pilihan yang harus dipilih. Konsistensi, cita-cita, atau mungkin goal adalah beberapa kata yang bisa mewakili apa yang dimaksud dari 'hanya sebuah pilihan'


Baik pria maupun wanita, asal mereka masih manusia, rasanya wajib untuk menentukan sebuah pilihan, dan selayaknya pilihan itu harus dipikirkan matang-matang, jangan sampai dirasa baik untuk pribadi sendiri, tapi buruk untuk pihak lain sisi.


Malam ini perhelatan final sepakbola eropa, mari kita ambil contoh dari sisi sepakbola.


Semua tahu Lionel Messi adalah seorang striker kelas dunia milik Barcelona. Andaikan oleh anda, saat ini Barcelona dipimpin oleh seorang pelatih baru. Sang pelatih, entah dari sisi pandang mana, menilai bahwa Messi cocok bermain sebagai seorang pemain belakang.


Messi, yang dikenal sebagai pemain baik hati dan jarang lepas kontrol emosi di dalam dan luar lapangan, menerima keputusan sang pelatih untuk memainkannya sebagai seorang pemain belakang, walau dalam hatinya ia tidak suka tapi ia memilih untuk menerima.


Percobaan pertama, Messi dinilai bermain baik sebagai pemain belakang dan pelatih yang merasa diberi 'angin segar' terus merasa pede dengan keputusannya memainkan Messi sebagai pemain belakang. Ia melihat Messi senang akan keputusannya, walau di sisi lain Messi 'terpaksa menerima' karena tidak enak dan hanya tidak ingin memiliki hubungan buruk dengan pelatih saat ini.


Cerita diatas memperlihatkan apa yang dinamakan dua sisi yang berinteraksi. Interaksi fisik terjadi dengan cover yang baik, tapi entah dengan batin serta hati. Sebuah pilihan selayaknya diprioritaskan untuk menjalani kehidupan, dan harus mempertimbangkan dari dua sisi. Dalam pandangan saya, Messi harus lantang bicara tidak bila memang dia tidak suka, sehingga sang pelatih dapat mengerti dan tidak seperti diberi harapan kosong yang segar oleh seorang striker sekaliber Messi.


Jujur terhadap kata hati adalah sebuah sisi, dan isilah sisi lainnya dengan pilihan yang telah dipertimbangkan matang-matang demi anda dan pihak-pihak lainnya.

Kau Percaya, Maka Berharga

Pernahkah anda membaca sebuah 'cerita rakyat modern'? Sebuah cerita yang beredar dari internet,instant message, e-mail, hingga broadcast message? Mungkin sebagian banyak diantara kalian adalah figur-figur yang pernah membacanya, walau hanya sedikit yang memperhatikan. Namun, pernahkah anda memperhatikan sebuah cerita mengenai kepercayaan?


Cerita itu memiliki inti dimana sebuah kepercayaan tidak ubahnya sebuah paku yang telah ditanamkan ke dinding. Sekali engkau percaya, maka itu akan tertanam kuat. Sekali engkau mengkhianati, hal itu akan dicabut terpaksa dan membekas selamanya.

Sebuah cerita yang menurut saya sederhana, tapi tidak hanya masuk dengan logika, melainkan juga 'ngena' dengan jalan pikiran suara hati. Kepercayaan disini hadir dengan status 'sakral' dan tidak bisa sembarang dibongkar-pasang. Butuh usaha untuk menanamkan, dan sakit ketika harus untuk melepaskan.


Mahal? Jelas!


Sesuatu dikatakan mahal tidak didasari oleh sumber daya maupun power dari calon konsumen, tetapi dari tingkat kebutuhan dan ukuran rasionalitas fungsional. Walaupun anda seorang Richie Rich, atau mungkin Bruce Wayne, yang hartanya memiliki bilangan yang tidak dapat lagi terbilang, pasti akan berfikir puluhan kali untuk membeli sebuah ponsel Nokia 1112 seharga $1000.


Mengapa? Jawabannya adalah sebuah pertanyaan retorik. "Buat apa?"


Setelah itu, saya yakin bahwa mereka-mereka yang bilionaire tidak akan ragu bila menggunakan $1000 untuk membeli sebuah sepeda motor, dengan asumsi mereka benar-benar membutuhkannya, setidaknya untuk pembantunya.


Kepercayaan menjadi sebuah komoditas yang mahal. Terbentuk dengan proses yang tidak dapat digantikan, dialihfungsikan, ataupun dijual kembali!


Bingung? Bagi anda yang k*skus-er, mungkin malah saya yang bingung bila anda tidak mengerti dengan apa yang saya jabarkan diatas. Salah satu situs terpopuler di Indonesia ini menjaring transaksi dan informasi berdasarkan asas kepercayaan.


Online shopping merupakan salah satu aktifitas penuh asas kepercayaan. Beragam cara di gunakan untuk mengukur tingkat kepercayaan, salah satunya dengan status pengguna akun tersebut. Dari'newbie' hingga mungkin 'addict' adalah salah satu tolok ukur seberapa pantaskah kepercayaan anda dipercayakan pada para pihak kedua atau ketiga.


Kepercayaan juga membuat anda dapat memperoleh sesuatu yang benar-benar berharga. Kepercayaan ada dalam setiap lubuk hati, hingga segala aktivitas yang selama ini kita lalui.


Akhir dari segala pencapaian atas dasar kepercayaan, janganlah pernah lupa untuk berucap 'terima kasih!'

Sabtu, 14 Mei 2011

Kamu Bicara Kamu

Inspirasi kembali hinggap dalam kamar mandi sore ini, entah mengapa, tapi ini sering terjadi akhir-akhir ini. Mandi sore membuat saya kembali fresh untuk menyongsong siaran siaran olahraga di malam hari.


Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda, dan sepatutnya setiap insan manusia memaksimalkan apa yang mereka punya. Mengapa? Efesiensi bakat dan efektifitas usaha adalah jawabannya. Menurut saya, usaha untuk mengejar sebuah asa adalam sesuatu yang wajib hukumnya, namun tentu usaha yang dilakukan untuk sebuah hal yang sangat jauh dari kemampuan dan bakat kita membutuhkan energi dan waktu yang lebih lama dibandingkan usaha untuk mengejar sesuatu yang 'mungkin' menjadi bakat kita.


Contoh, seorang yang terampil dalam menggambar mungkin tidak begitu terampil dalam berhitung. Tentu, bila dia berusaha memahirkan skill menggambarnya akan membutuhkan usaha yang tidak sekeras usaha untuk memahirkan berhitung, karena pada dasarnya dia tidak terampil dalam berhitung. Waktu yang dibutuhkan baginya untuk terampil menghitung sebuah soal al-jabar pasti akan jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu yang dia butuhkan untuk terampil menggambar sebuah bajaj.


Yang jadi pokok permasalahan, bagaimana setiap insan manusia dapat menilai dirinya sendiri dalam hal 'bakat' dan 'keunggulan'?


Dunia modern dengan segala teknologi terbarukan tentunya akan menyarankan untuk tes bakat, pergi ke psikolog handal, finger-print, dan segala hal lainnya. Apa ada yang bisa membuktikan seberapa besar kejituan media media penilai bakat tersebut, selain teori teori dasar dari setiap bidangnya?


Seorang psikolog mungkin melandasi segala asumsi yang dia berikan pada kita dengan segala teori-teori perkuliahannya dahulu, dan juga pengalaman-pengalamannya selama ini. Akankah selamanya teori-teori tersebut benar-benar dapat diandalkan?


Disini saya tidak berusaha memberikan pola pikir untuk tidak percaya pada semua media-media penilai bakat tersebut, namun menyarankan anda untuk pede dan sedikitlah bersikap sombong.


Aneh? Tidak menurut saya, karena pada dasarnya yang benar-benar mengetahui diri anda, adalah anda sendiri. Otak anda sejak lahir tidak pernah diganti, dan sejak lahir hanya otak itulah yang menggerakan seluruh jiwa raga anda. Lalu, mengapa anda harus begitu percaya penuh terhadap penilaian dari otak orang lain? Sedikitlah pede dan bersikap sombong.


Di sisi lain, sebenarnya bukan merupakan sebuah kesalahan bila media-media tersebut anda gunakan untuk bahan acuan, penambah wawasan dan pandangan serta pola pikir. Gampangnya, sebagai pihak ketiga untuk input segala hal, serupa seperti diskusi anda dengan kedua orang tua atas suatu masalah. Setuju?


Masalah lainnya, seberapa handalkah anda menilai diri anda sendiri?


Mari kita ambil sebuah contoh. Akuntansi adalah sebuah ilmu yang membutuhkan kesabaran dalam memandang setiap angka, berikut dengan tanda titik dan koma di dalamnya. Ketika anda ingin memilih ilmu tersebut untuk dipelajari, (misal saya memberi dua faktor yang mempengaruhi) lebih penting untuk menimbang 'kemampuan berhitung' atau 'ketelitian kerja' ? Keduanya adalah hal yang penting, mungkin sama pentingnya, dan andalah yang bisa menilai diri anda sendiri.


Hal yang sama juga terjadi pada pendidikan desain. Lebih penting 'pandai menggambar' atau 'pandai berimajinasi'?


Tentu tidak akan menjadi sebuah masalah bila anda menguasai segala faktor-faktor yang harus dipertimbangkan, dan anda adalah salah satu yang terbaik diantara rekan anda lainnya. Namun bila terjadi sebuah ketimpangan pada salah satu faktor, pilihannya cuma satu : Pikir ulang baik-baik, bersikaplah pede dan jangan ragu untuk sedikit sombong atas kemampuan anda.