Sejujurnya, saya bukanlah orang yang banyak mengerti seluk beluk politik Indonesia. Bagi saya, politik seringkali terlihat baik dan seringkali pula terlihat buruk. Prestasi politik di mata saya ini agaknya mudah untuk dibayangkan sebagai grafik yang sangat fluktuatif: Senin baik, Selasa hancur. Sebagai bagian dari pemuda non-partai, masyarakat sipil, mahasiswa ekonomi, dan calon pemilih pada Pemilu 2014, kebanyakan pengetahuan politik saya peroleh dari berita-berita yang beredar di media massa.
Tidak pernah rasanya saya tertarik bicara panjang soal politik karena saya selalu lebih tertarik berbicara soal pemikiran-pemikiran manusia dalam hidupnya. Kali ini, saya pikir sebuah keputusan politik telah mengecewakan saya sebagai penduduk Indonesia.
Berita #SaveRisma santer beredar di masyarakat hampir dua minggu terakhir ini. Semua pihak, dari kacamata saya melalui pemberitaan media massa, menyayangkan rencana pengunduran diri salah satu pemimpin terbaik pilihan Tempo 2013 ini. Dari yang saya coba telaah, beliau tampaknya telah bersiap diri untuk mundur dari kursinya terkait sederet isu politik yang menerpa kewajiban, hak, dan juga pribadinya.
Dari sisi kewajiban, beliau tampaknya memperoleh tekanan begitu kuat atas penolakan proyek pembangunan tol di Surabaya. Menurut Risma, proyek tol, yang telah 'gol' oleh walikota sebelumnya, tidak tampak cukup baik untuk mengentaskan permasalahan lalu lintas Surabaya. Dalam beberapa kesempatan, beliau tampak gigih untuk lebih memprioritaskan proyek trem yang direncanakan berjalan tahun ini. Agaknya, permasalahan ini juga pernah terjadi di Bandung, ketika gerakan #SaveBabakanSiliwangi akhirnya berhasil mencapai tujuannya melalui Ridwan Kamil.
Saya berpikir bahwa jelaslah setiap pemimpin memiliki cara tersendiri untuk memimpin kalangannya, baik itu skala kecil maupun besar. Kewajiban dalam pekerjaan politik seringkali terlihat 'di-sampah-in', salah satunya adalah proyek jalan tol ini. Seharusnya, tidak perlu ada polemik panjang lebar mengenai ini, karena pembangunan dijadwalkan untuk berjalan ketika Surabaya dipimpin oleh Risma, yang menolak. Apakah Risma harus dengan terpaksa meng-iya-kan dan pasrah atas jalannya proyek yang disetujui oleh pendahulunya? Ingat mental kita: Jika berhasil, semua ingat walikota yang lama. Jika gagal, salahkan yang sekarang.
Dari sisi hak dan pribadinya pun Risma tampak terganggu melalui ancaman pembunuhan hingga 'dikadali' oleh 'banteng' perihal pencalonan wakil walikota, yang akan berpasangan dengan Risma.
Atas dasar beberapa hal diatas, mungkin Risma akan memilih untuk mundur. Mundur ketika kewajiban, hak, dan pribadinya terganggu, setelah beliau sendiri mempertaruhkan tiga aspek tersebut demi kepentingan masyarakat. Saya rasa tidak perlu kita berbicara sebesar apa effort dan prestasi beliau selama hampir empat tahun terakhir ini karena seluruh informasi tersebar di media massa.
Namun, bicara mundur, tokoh penting lainnya yang terakhir mundur dari tanggung jawabnya adalah seorang menteri. Gita Wirjawan namanya, Menteri Perdagangan pos nya, Konvensi alasannya. Saya rasa semua juga telah mengetahui polemik ini, yang berisikan pro dan kontra, karena sudah berlalu cukup lama. Namun adakah diantara anda yang bisa memberikan saya alasan logis atas pengunduran dirinya?
Gita berkata bahwa alasan pengunduran dirinya adalah konvensi Partai Demokrat, dengan tujuan akhir memenangkan Pemilu 2014 (Sumber: http://www.merdeka.com/politik/5-cibiran-pada-gita-wirjawan-mundur-gara-gara-konvensi-demokrat.html). Dalam kesempatan lain, beliau juga berkata bahwa 'Saya mundur karena mampu memenangkan konvensi' (Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/02/05/n0iw68-gita-wirjawan-saya-mundur-karena-mampu-menangkan-konvensi).
Terlepas dari keputusannya yang merupakan hak dari setiap individu, pos yang ditinggalkannya adalah pos sentral pembangunan negara ini, dan berada dalam posisi kritis. Kementerian Perdagangan merupakan kunci utama dari penerapan kebijakan pemerintah mengenai pemenuhan kebutuhan, terutama kebutuhan dalam negeri menyangkut sandang dan pangan. Logika saya berbicara: Kalau Anda bisa membenahi masalah ini sekarang, semua akan memandang dan semua tidak akan ragu atas potensi anda dalam memenangkan konvensi.
Keputusan mundur merupakan keputusan mental teri dari seorang politisi berjabatan menteri. Apakah kewajiban, hak, dan pribadinya telah terganggu sebagamana yang terjadi pada Risma? Menurut pemberitaan media massa, saya pikir tidak. Saya juga tidak meragukan pekerjaan beliau, dan saya yakin beliau selama ini menjalankan kewajiban-kewajibannya. Namun hal ini akan berujung pada satu pertanyaan: Berhasil gak?
Mungkin pertanyaan 'Berhasil gak?' itu terkesan sangat simpel, instan, dan tidak mempertimbangkan proses di balik layar. Jelek dan saya bukanlah orang yang pro terhadap kebijakan instan. Tapi bila ada sebagian orang yang berkata instan adalah buruk, bukankah kebijakan impor demi pemenuhan kebutuhan dalam negeri selama ini adalah instan?
Mundur selalu menjadi jalan terakhir yang harus ditempuh, bila memang benar-benar harus ditempuh. Selalu ada akhir dari setiap perjalanan, namun memilih untuk mengakhiri dengan self-intention selalu tampak tidak baik bagi saya.
Melihat kejadian-kejadian politik seperti ini, tampaknya kita semua dapat melihat beberapa sendi pemikiran masyarakat dalam memandang hidup. Penolakan terhadap pengunduran diri Risma tentunya bukan tanpa alasan: Beliau berhasil. Supply creates its own demand. Risma menawarkan banyak hal di masa depan setelah berhasil di masa kini, dan itu menciptakan gelombang permintaan masyarakat yang berjerit, "Bu, jangan mundur, KBS jadi kuburan kalau ibu mundur!".
Salah satu bagian favorit saya dalam perkuliahan adalah diagungkannya mahasiswa ilmu ekonomi sebagai 'peramal masa depan' dengan apa yang sering disebut forecasting. Ekonomi menjelaskan bahwa high-risk, high-return adalah hal yang sewajarnya terjadi, dan ini pun berlaku dari sisi sumber daya manusia. Semakin tinggi tanggung jawab seseorang, maka semakin besar pula dua hal yang terkait padanya: keberhasilan dan kegagalan.
Di sisi lain juga terlihat pihak-pihak yang merasa alasan pengunduran diri Gita adalah hal yang dapat dimaklumi dan tidak. Sebagian yang maklum mungkin tidak melihat masa depan berdasarkan masa kini, dan sebagain yang tidak maklum mungkin melihat masa depan berdasarkan masa kini. Untuk kasus ini, mari kita lihat apakah menteri yang pede ini mampu memenangkan konvensi atau tidak, karena otak politik sempit saya sekali lagi ingin berteriak: Kalo lo gagal (lagi), terus apa konsekuensi dari status eks-Menteri Perdagangan anda, yang akan dibawa hingga akhir hayat nanti?
Masa depan, tetaplah di depan dan teruslah tergantung di depan, karena jika sekarang adalah masa depan, maka apa lagi yang harus diperjuangkan?
Dunia itu dua suara, tersurat dengan banyak pena kekuasaan
Kamis, 20 Februari 2014
Kamis, 13 Februari 2014
Mati Suri, Hidup Lagi
Kehidupan yang hidup ialah kehidupan yang menghidupkan
Saya selalu percaya bahwa kehidupan yang hidup ialah kehidupan yang menghidupkan. Apapun itu, tak terkecuali diri Anda sendiri. Kehidupan yang menghidupkan ialah kehidupan yang tidak melulu bicara tentang bagaimana Anda hidup, bagaimana Anda menjalani hari-hari Anda, dan bagaimana Anda beranjak tua. Kehidupan yang hidup, menurut saya, sudah seharusnya dapat membawa kehidupan bagi setiap hal yang terkait dengan Anda yang hidup dan menjalani kehidupan ini.
Merujuk pada shared-link dalam akun Facebook salah satu dosen favorit saya, ada sebuah satir menyentuh karya Seno Gumira Ajidarma:
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa.
Sebuah kalimat suram yang dituangkan penulisnya dalam karya yang berjudul Menjadi Tua di Jakarta ini, dalam kacamata saya, telah "mematikan kehidupan yang seharusnya hidup". Kasarnya, secara hiperbolis diwakili dengan "memilih kematian dalam hidup". Tentu selalu ada pro dan kontra dari setiap karya dan mahakarya di dunia ini, mengingat itu adalah sifat dasar manusia yang secara alamiah mencintai adanya perbedaan. Sebagian dari kalian mungkin terpesona dengan satir diatas, dimana sebagian lagi mencibir sembari ngedumel, "Kayak udah pernah pensiun aja!".
Apapun itu, saya pribadi telah merasakan bahwa kehidupan yang tidak menghidupkan sesuatu terasa sia-sia, dan bahkan sangat mungkin lupa untuk merasa hidup kembali.
Persoalan pertama saya menulis tulisan ini ialah ketika saya menyadari bahwa saya sudah amat sangat meninggalkan dunia ketik-mengetik di blog ini, dengan terlalu asyik menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang sifatnya kewajiban: tugas, skripsi, presentasi, dan lainnya. Tetek bengek itu mungkin cukup mewakili sepenggal satir diatas untuk refleksi dari kata-kata "tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat" dan "kehidupan seperti mesin". Saya merasa sudah tidak lagi hidup dalam dunia ini, dan cukup kesulitan untuk memulainya kembali.
Empat tahun terakhir, selama masa perkuliahan, saya memang merasa cukup sulit meluangkan waktu pribadi dan berjam-jam duduk di depan laptop, meluangkan waktu untuk mengetik apapun yang tersirat. Saya merasa telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih banyak membaca dari sebelumnya, dan juga lebih sering menceritakan segalanya kepada mereka-mereka yang ada dalam kehidupan saya, dan melupakan gairah untuk menumpahkannya dalam tulisan.
Saya rasa saya telah mematikan salah satu kehidupan saya dengan tidak menghidupkan dunia tulisan, dan kesulitan untuk memulainya kembali karena tidak banyak hal yang belum saya tumpahkan di melalui ketukan jemari di keyboard ini, hingga saya benar-benar memaksakan diri untuk menulis dengan menceritakan kesulitan saya dalam menulis ini.
No one ever takes a picture of something they want to forget
Quote diatas, yang saya temukan dari akun instagram seorang sahabat (dan ternyata berasal dari sebuah film), saya pikir juga berlaku bagi setiap sisi kehidupan dan hobi manusia. Sebagai seorang yang seringkali mengaku hobi menulis, saya ingin meninggalkan kesan dari setiap tulisan. Lebih jauh, saya ingin mampu mengingat segala sesuatu yang pernah saya rasakan dengan membaca ulang setiap tulisan.
Menulis telah menjadi emosi pribadi, dan sudah seharusnya hal itu terjadi bagi setiap hobi yang Anda miliki. Seluruh harapan dan keinginan ada di sana,dan harus selalu dihidupkan selama Anda bisa, karena sekali mati, cukup sulit untuk hidup kembali.
Saya selalu percaya bahwa kehidupan yang hidup ialah kehidupan yang menghidupkan. Apapun itu, tak terkecuali diri Anda sendiri. Kehidupan yang menghidupkan ialah kehidupan yang tidak melulu bicara tentang bagaimana Anda hidup, bagaimana Anda menjalani hari-hari Anda, dan bagaimana Anda beranjak tua. Kehidupan yang hidup, menurut saya, sudah seharusnya dapat membawa kehidupan bagi setiap hal yang terkait dengan Anda yang hidup dan menjalani kehidupan ini.
Merujuk pada shared-link dalam akun Facebook salah satu dosen favorit saya, ada sebuah satir menyentuh karya Seno Gumira Ajidarma:
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa.
Sebuah kalimat suram yang dituangkan penulisnya dalam karya yang berjudul Menjadi Tua di Jakarta ini, dalam kacamata saya, telah "mematikan kehidupan yang seharusnya hidup". Kasarnya, secara hiperbolis diwakili dengan "memilih kematian dalam hidup". Tentu selalu ada pro dan kontra dari setiap karya dan mahakarya di dunia ini, mengingat itu adalah sifat dasar manusia yang secara alamiah mencintai adanya perbedaan. Sebagian dari kalian mungkin terpesona dengan satir diatas, dimana sebagian lagi mencibir sembari ngedumel, "Kayak udah pernah pensiun aja!".
Apapun itu, saya pribadi telah merasakan bahwa kehidupan yang tidak menghidupkan sesuatu terasa sia-sia, dan bahkan sangat mungkin lupa untuk merasa hidup kembali.
Persoalan pertama saya menulis tulisan ini ialah ketika saya menyadari bahwa saya sudah amat sangat meninggalkan dunia ketik-mengetik di blog ini, dengan terlalu asyik menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang sifatnya kewajiban: tugas, skripsi, presentasi, dan lainnya. Tetek bengek itu mungkin cukup mewakili sepenggal satir diatas untuk refleksi dari kata-kata "tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat" dan "kehidupan seperti mesin". Saya merasa sudah tidak lagi hidup dalam dunia ini, dan cukup kesulitan untuk memulainya kembali.
Empat tahun terakhir, selama masa perkuliahan, saya memang merasa cukup sulit meluangkan waktu pribadi dan berjam-jam duduk di depan laptop, meluangkan waktu untuk mengetik apapun yang tersirat. Saya merasa telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih banyak membaca dari sebelumnya, dan juga lebih sering menceritakan segalanya kepada mereka-mereka yang ada dalam kehidupan saya, dan melupakan gairah untuk menumpahkannya dalam tulisan.
Saya rasa saya telah mematikan salah satu kehidupan saya dengan tidak menghidupkan dunia tulisan, dan kesulitan untuk memulainya kembali karena tidak banyak hal yang belum saya tumpahkan di melalui ketukan jemari di keyboard ini, hingga saya benar-benar memaksakan diri untuk menulis dengan menceritakan kesulitan saya dalam menulis ini.
No one ever takes a picture of something they want to forget
Quote diatas, yang saya temukan dari akun instagram seorang sahabat (dan ternyata berasal dari sebuah film), saya pikir juga berlaku bagi setiap sisi kehidupan dan hobi manusia. Sebagai seorang yang seringkali mengaku hobi menulis, saya ingin meninggalkan kesan dari setiap tulisan. Lebih jauh, saya ingin mampu mengingat segala sesuatu yang pernah saya rasakan dengan membaca ulang setiap tulisan.
Menulis telah menjadi emosi pribadi, dan sudah seharusnya hal itu terjadi bagi setiap hobi yang Anda miliki. Seluruh harapan dan keinginan ada di sana,dan harus selalu dihidupkan selama Anda bisa, karena sekali mati, cukup sulit untuk hidup kembali.
Sabtu, 22 Juni 2013
Dualisme Esa
"Dunia itu dua suara. Tersurat dengan banyak pena kekuasaan"
Sejak pertama gue bikin blog, cuma quote itu yang gue pikir mewakili manusia di mata manusia lainnya. Gue seringkali berpikir, bahkan hampir selalu, bahwa memang cuma ada dua hal yang bisa diperbincangkan di dunia ini. Entah itu benar atau salah, mau atau tidak, hingga jadi atau enggak.
Dalam kisaran sepuluh tahun yang lalu gue masih duduk di bangku es-de, yang kebetulan es-de gue swasta bernuansa islami. Pendidikan agama menjadi momok utama dengan beragam ustad yang ada. Tapi tetep, namanya males sholat ya tetep aja males. Well, kembali pada pribadi masing-masing pada akhirnya. Namun diluar bahasan teknis mengenai cara lo, gue, dan kita semua beribadah, bahkan diluar bahasan apa agama lo, semua sebenarnya mengerucut pada satu hal: Esa.
Esa sendiri dalam Bahasa Indonesia digolongkan sebagai salah satu sifat Tuhan, dan tampaknya begitu pula bila di translate ke dalam bahasa-bahasa di dunia ini. Esa menjadi 'satu-satunya', dan 'tiada duanya' bagi setiap umat manusia. Guru agama di es-de saya, sepuluh tahun yang lalu, seringkali berujar bahwa "Kalo Tuhan ada banyak, nanti berantem dong?"
Gue dalem hati saat itu cuma bergumam, "Iya juga ya, kalo ada dua gimana ceritanya kita bisa masuk surga?" dan "Kalo masuk surga, surga-Nya siapa?". Sejak itu gue menjadi lebih yakin dan mengimani bahwa Tuhan memang satu adanya, begitu pula surga dan neraka yang dimiliki-Nya.
Tapi sebenernya bukan soal keagamaan yang mau gue bahas disini. Gue cuma lagi sering berpikir tentang sifat ke-Esa-an itu di dalam kehidupan manusia, tanpa membawa-bawa aspek ketuhanan. Maksud aspek ketuhanan ialah, gue ga perlu nanya siapa Tuhan lo, apa agama lo, lo rajin ibadah atau engga, dan sebagainya. Yang dibahas cuma satu: Manusia tuh punya sifat Esa gak sih?
Gue sendiri berpikir ya pasti gak punya lah. Tapi kalo memang gak ada seorangpun yang 'Esa' dalam suatu lingkup kehidupan, lalu siapa yang dapat menjadi imam? Bagaimana kalo gue bikin arti kata 'Esa' menjadi 'orang yang paling pintar dalam setiap ruangan'?
Dalam film fiksi berjudul 'Now You See Me', tokoh dalam film bertutur bahwa syarat mutlak sebuah trik sulap adalah menjadi yang ter-pintar dalam sebuah ruangan. Apapun bentuknya, pesulap harus satu, dua, atau tiga langkah di depan para penontonnya. Jika tidak, maka tiada orang yang tertipu disana.
Jika memang akhirnya 'Esa' adalah begitu adanya, apa pantas dualisme menjadi dilema kehidupan manusia? Dualisme, sebuah keadaan dimana lo harus punya dua imam, yang kadang suara takbirnya beda kencengnya, gak sama timing bacaannya, bahkan terkadang bentrok di depan jamaahnya. Apa yang terjadi dengan dua buah imam ini? Tebakan gue ada beberapa: Seorang 'Esa' dan seorang 'biasa' atau dua-duanya adalah 'biasa'.
Jika imam-imam ini adalah Tuhan, tentu gue bakal bingung mampus milih jalan mana yang harus ditempuh. Tentu lo bingung kan kapan harus sujud walau cuma ada gap dua detik antara dua imam yang memimpin lo?
Untunglah Tuhan itu selalu satu, dan imam-imam ini adalah manusia-manusia sama seperti para jamaahnya. Walau dibalik keuntungan ini terselip sebuah pertanyaan: "Haruskah anda butuh seseorang yang 'Esa'?" dan "Apakah bisa hidup dengan dualisme di depan mata?". Kalooooooooooo boleh gue milih, gue mending milih satu imam yang biasa aja walaupun dia gak 'Esa' dibanding dua imam luar biasa tapi berantem di depan mata. Kenapa? Karena gue yakin setiap orang punya potensi menjadi 'Esa', menjadi terpintar di bidangnya, di kehidupannya, dan di ruang lingkup hidupnya, termasuk diri gue sendiri. Dan apabila memang imam anda adalah seseorang yang belum 'Esa', anda dapat menularkan dan/atau bahkan menggantikannya menjadi seorang imam yang 'Esa'.
Dunia bukan trik, namun penuh intrik. Selalu penting untuk menjadi yang 'paling-paling' diantara semua yang 'paling' adalah trik untuk mengatasi intrik-intrik. One decision, two step ahead, three goals to go, four ways to celebrate.
Senin, 08 April 2013
Lekukan Hidup
Kayaknya gak ada
di dunia ini yang gak pernah liat
pintu. Pintu, lapisan awal dari sebuah sesuatu yang bisa berupa apa saja. Boleh
jadi tempat, kamar, ruangan, garasi, gerbang, sampe hati. Pintu menjadi sebuah
kunci, dan terkadang emang punya
lubang kunci untuk menggunakannya. Ada sih
yang gak ada lubangnya, tapi pada
intinya tetap saja pintu menjadi ‘lapisan awal’.
Kalo mau masuk
kamar pasti buka pintu, soalnya kalo lewat jendela nanti dikira maling. Kalo
habis mandi lalu mau ganti baju, biasanya buka pintu lemari. Buat yang satu ini
gue yakin banget kalo lemari lo semua
pasti ada pintunya. Gak ada yang suka
baju atau celana lo di-klepto-in teman kosan atau saudara sendiri, kan? Very well, kalian gak
akan bisa ambil baju baru kalo gak
buka lemari. Satu langkah menuju inti.
Sekarang, gimana kalo
kalian kehilangan kunci? Biasanya bagi kalian yang secure dan ingin aman tentram dari pelaku pencurian celana dalam
akan selalu mengunci apapun yang seharusnya tidak menjadi milik orang lain.
Misal, ngunci pintu rumah. Jelas lah,
kalo gak di kunci mungkin kolor lo
bisa ilang dan gak jadi nge-date sama cewek impian. Atau mungkin
lo merasa aman karena punya banyak
kolor cadangan namun lupa ngunci pintu
mobil. So what? Bisa jadi malapetaka
karena lo gak memastikan gak ada yang bisa masuk ketika lo lagi
ciu*an sama sang cewek impian.
Yaaaa, intinya sih
banyak lah macem macem hal yang perlu
dikunci. Semua dilakukan agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak menjadi
sebuah kenyataan. Tapi sebenernya kunci itu apa sih?
Kunci ya kunci. Lempengan besi tipis dan agak panjang dikit
lalu bergerigi. Bahasa lainnya mungkin dotted,
ada yang familiar? Semoga tidak. Nah, menurut gue bagian paling penting dari
kunci ini adalah gerigi nya itu. Tanpa gerigi, harimau ompong (Itu gigi,
benga!). Tapi bener loh, tanpa gerigi tersebut tentunya kunci gak akan bisa ‘gigit’.
Pernah coba bikin duplikat kunci tiga-rebu-perak? Jangan deh. Asli. Yang ada gembok
gue rusak karena kunci nya gak bisa copot setelah ngunci
pagar rumah.
Sebenarnya bukan maksud gue
mendiskreditkan jasa tukang kunci murahan tersebut, tapi gue harap gak ada lagi tukang kunci yang
memberlakukan tarif murah namun menurunkan ketelitian dan kerapihan kerjanya,
sehingga gerigi-gerigi kunci menjadi gingsul
sehingga bisa masuk tapi gak bisa ngunyah. Bahaya tuh, sob!
Ketelitian setiap pengerjaan duplikat kunci menurut saya
sebuah karya seni yang tidak murahan. Kunci yang lo pakai bisa aja dipakai buat
menyembunyikan iPhone 5 lo yang lagi di charge
dari serbuan keponakan-keponakan cilik, pencurian celana boxer Top Man yang baru dipake dua minggu,
atau mungkin laptop murahan yang isinya draft
skripsi lo, dan lo belum buat satupun back-up nya di belahan dunia manapun. Lo
bayangin dua-belas-rebu-perak jasa tukang duplikat kunci di
ujung komplek rumah lo itu, berharga kan? Dan yang berharga dari itu semua cuma
satu: lekukannya.
Semua kunci belok-belok memiliki lekukan yang sesuai dengan
lubang pasangannya. Setitik nila merusak susu sebelanga. Setetes baygon dapat
membuat Anda tak bernyawa. Itulah mengapa detail itu penting untuk menjawab
sebuah masalah yang ada. Bukan sekedar harga yang tertera, karena selisih sembilan-ribu-perak
sangatlah tak ternilai harganya kalo lo
harus kehilangan waktu untuk sesuatu yang di balik pintu.
Akhir kata gue mau berpesan bahwa walau babeh lo bilang, “Jalani hidup itu yang lurus-lurus
aja ya, Nak!” kenyataannya gak ada kunci yang lurus. Semua punya tingkat ke-sexy-an yang berbeda-beda dengan lubang
pasangan yang berbeda-beda pula. Jadi jangan remehkan selisih walau hanya satu
derajat, karena setelah berjalan sekian kilometer, lo bisa ukur seberapa jauh selisih yang terjadi (pake Pythagoras, ya!)
Selasa, 26 Maret 2013
Klasik
Jika ada seseorang bertanya pada saya tentang apa yang
paling cepat bergerak di dunia ini, maka saya akan menominasikan kata ‘teknologi’
sebagai jawaban tunggal.
Teknologi menjadi salah satu yang paling cepat di dunia ini.
Baik secara definisi kata-kata maupun bukti di dunia nyata. Teknologi menjadi
contoh globalisasi terbesar, dimana kata ini mengatur kehidupan jangka pendek
(kebanyakan) manusia lebih jauh dari kitab suci mereka semua. Teknologi menjadi
semua kualitas tinggi, dan contoh riil dari kata ini menjadi sangat sulit
ditetapkan dalam waktu yang lama.
Waktu terus bergulir tanpa kenal siapa anda, berapa manusia
yang lahir dan mati, ataupun manusia yang beranjak gila. Waktu melahirkan
mereka-mereka yang jenius untuk memimpin dunia, baik nyata maupun maya. Waktu
membicarakan para jenius dengan inovasi yang mereka punya, baik audio maupun
visual. Waktu menjadi segalanya.
Ketika orangtua kita takjub melihat mobil purwarupa di film
James Bond tahun 1980-an, maka kita sudah melihat purwarupa tersebut di jalanan
ibukota. Berisikan mereka para orang-orang kaya (yang mungkin juga membawa
narkoba). Pertanyaan besar ialah, “Apa yang dijanjikan waktu, selain teknologi,
kepada para manusia?”
Saya memiliki seorang sahabat yang gemar membeli buku
catatan. Buku bagus kelas premium yang tidak anda dapatkan di tukang fotokopian
seberang jalan. Alangkah takjubnya ia ketika mendapati aplikasi di iPad yang
menawarkan fitur dan fungsi yang persis sama. Baik tampilan cover buku hingga
kertas nya serupa dengan wujud aslinya, hanya saja ini berupa fitur digital yang disuguhkan oleh teknologi
dan waktu, yang dikendalikan para jenius di luar sana. Dengan perangkat pulpen
layar sentuh stylus, anda dapat
menulis sama dengan aslinya.
Waktu membuat segalanya tidak pernah sama. Inovasi tiada
henti membuat manusia pun tidak seperti beberapa waktu yang lalu. Hitungan
bulan dapat merubah manusia sesuai dengan dunianya, dan member efek baik dan
buruk pada beberapa pihak: makhluk dunia nyata.
Saya pikir dunia kehilangan sisi klasik. Ketika alat tulis
klasik pun tidak lagi klasik, tentunya ada yang hilang disana, baik cerita
ataupun esensi nyata. Pertanyaan besar kedua ialah, “Apakah dunia butuh sisi
klasik?”
Ketika saya mendefinisikan kata ‘klasik’ sebagai ‘dasar’,
maka akademisi tentu membutuhkannya. Jika tidak, maka para calon akuntan saya
pikir tak lagi perlu banyak menghitung dengan kalkulator, karena tersedianya
program-program instan. Pernah nonton film Along
With Polly? Cowo yang
membandingkan mantan isteri dengan pacar barunya menggunakan software penghitung
risiko? Ketik, enter, selesai. Itulah bahasa teknologi.
Seinstan itukah dunia ini? (Seharusnya) tidak. Kehidupan
memiliki aturan, dimana sungguh tidak baik bermain ponsel pada jam makan malam
keluarga. Transparansi pesan singkat tidak hanya sekedar delivered, tapi merambah pada read
dan typing. Akuntabilitas provider tercermin
jelas dari transparansi ini, dimana secara angka-angka profit ekonomi menguntungkan.
Namun, dimana batas kebebasan?
Bila memang para jenius mengendalikan ruang dan waktu,
tolong kembalikan sedikit sisi klasik dunia ini, karena manusia (harus) tetap
lahir dari rahim ibunya, dan semua manusia akan kembali ke tanah bumi
sebagaimanya-Nya.
Jumat, 08 Maret 2013
Suara Selera
Dunia itu dua suara. Ya, saya pikir itulah adanya. Selalu ada 'iya' dan 'tidak' dalam setiap aspek kehidupan, dan setiap orang harus memberikan sikap serta pilihan. Harus? Saya sebenarnya agak-agak gak suka sama kata 'harus'. Walau saya menyadari pekerjaan terbaik dapat saya lakukan dengan dibawah tekanan, saya tetap tidak begitu menyukai kata 'harus'. Kenapa? Karena kata tersebut biasanya menghiasi bagian-bagian hidup saya yang kadang kala ingin saya nikmati tanpa tekanan dan sebuah 'keharusan'.
Kadang, 'harus' layaknya topeng kehidupan. Menguasai pikiran untuk mengatur sebuah pekerjaan yang valid-valid aja kalo dikerjain sambil nyantai. Selalu ada table manner yang sempurna untuk menghadiri jamuan makan malam dengan presiden, tapi hal besar seperti itu tidak perlu dilakukan juga kaaan jika menonton HBO Hits di tengah akhir pekan? Saya yakin kebanyakan dari anda tidak begitu menikmati sebuah keharusan, tapi anda harus selalu memiliki selera.
Lebih jauh dari sekedar kata 'harus' dan definisinya, kadang saya seringkali memikirkan selera dan isi jiwa saya. Saya coba untuk menghilangkan dan tidak memperdulikan kata 'harus', keluar dari aturan, masuk ke zona tidak nyaman, dan berusaha menemukan sebuah selera.
Jeleknya, saya tidak mengerti apa definisi dari sebuah selera. Oh ya, dan juga hal-hal yang membentuknya. Seperti musik dan juga makanan. Saya tidak bisa bermusik (dan juga memasak tentunya). Ok, sekedar indomie goreng tentunya mudah, tapi soal musik, ampun gan, main recorder dari jaman kelas lima SD gakpernah lancar!
Tapiiiiiii, saya tetap memiliki banyak musik yang menurut saya menarik dan memenuhi selera, walau saya tidak bisa memainkannya, menyanyikannya, bahkan mendefinisinya genre musik apakah yang memenuhi selera saya. Seperti ketika banyak teman bertanya, "Tipe cewek lo yang kaya gimana sih?". Maka saya hanya dapat menjawab "Yaaaa asal nyambung aja cukup". Gombal? Muluk? Percaya deh, saya hanya merasa tidak dapat mendefinisikan dan saya tidak merasa hal tersebut harus didefinisikan.
Tanpa sebuah keharusan, saya tetap menemukan selera yang entah darimana asalnya. Seperti berkah natural. Saya, yang tidak mengerti mengapa bisa memiliki sebuah selera (katakanlah selera A), kadang bingung dengan selera orang lain (selera B). Dalam musik, saya benar-benar tidak mengerti mengapa kekasih dapat begitu memuja Marcus Miller dengan tarian jemari pada bass-nya. Asli, hampir ketiduran gue sih. Asli. Tampaknya musik jazz seperti itu bukanlah selera saya, dan saya tidak paham mengapa saya tidak menikmati musik jazz. Bahkan ketika Candil bernyanyi 'Daripada musik metal lebih baik musik jazz', saya lebih menikmati suara itu dibanding petikan-petikan maestro bass yang membuatnya menampilkan 'orgasm-face'.
Saya memahami bahwa jelas tidak semua orang harus menyukai setiap apa apa yang ada dalam kehidupan. Saya hanya sedikit bingung kenapa mereka dapat menikmati, sedangkan saya hampir ketiduran, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyimpulkan bahwa saya tidak harus paham apa alasannya, tapi dengan selera yang saya punya, saya cukup untuk menikmati segala yang ada.
Dunia itu dua suara, dan anda harus coba mendengarkan semuanya.
Minggu, 03 Maret 2013
Butuh
Sejak lama saya tidak pernah menyukai film-film yang inti ceritanya adalah percintaan. Banyak laki-laki mengasumsikan bahwa itu adalah film ‘lenje’. Action selalu menjadi pilihan utama saya, dengan sederet pembunuhan dan tembak-tembakkan, walau saya cenderung takut untuk yang thriller, terror, dan juga horror. Satu hal yang s ebenarnya membuat saya bergairah untuk rela membuang uang demi sebuah film adalah pacar. Kekasih yang satu ini agak freak terhadap film-film cinta. Singkat cerita, salah satu dvd yang ia tawarkan untuk saya coba tonton adalah ‘Before Sunset’ dan ‘Before Sunrise’.
Apapun yang saya lakukan, saya cenderung detail terhadap kata-kata. Ada satu kalimat yang menarik dari salah satu film yang saya tonton (walau tidak selesai) ini. Seorang tokoh dalam film tersebut berkata, “We are sum of each tiny moments of our life”. Setiap memiliki momen untuk mengetahui kalimat menarik seperti ini, saya selalu berfikir ‘Ada benarnya juga ya!’. Hal yang saya pikirkan adalah semua orang pasti butuh ‘terima kasih’, dan begitu pula dengan ‘maaf’.
Minggu lalu, di tengah perjalanan menuju terminal bus, ada seorang pemulung yang berterima kasih pada saya. Karena apa? Karena saya meminta izin untuk langsung membuang sampah botol bekas minum saya tepat ke karung sampah di punggungnya. Saya dan teman saya, Reva, saat itu berfikir bahwa itu adalah hal yang gila. Membuang sampah pada tempatnya sudah seharusnya menjadi kewajiban setiap umat, dan pemulung itu memang ‘berkewajiban’ memulung sampah demi hidupnya. Saya berfikir sebenarnya ia tak perlu berterima kasih karena saya memang melakukan hal yang merupakan kewajiban saya, tapi ia melakukannya. Saya heran, dan tidak bisa bohong kalau hati saya merasa senang.
Saya pikir pemulung itu menyenangkan hati saya, karena kewajiban yang saya tuntas telah membantu kewajibannya. Pertanyaannya, sebenernya harus gak sih mengucapkan ‘terima kasih’ pada mereka yang hanya menjalankan kewajibannya? Yang seharusnya menjadi hal yang biasa saja?
Sebuah buku seharga tiga puluh ribu memberi saya banyak ilmu minggu lalu. Buku yang berjudul Indonesia Di Mata Orang Jepang ini memuat cerita seorang warga negara Jepang yang menjadi ‘Indonesia’ setelah dua puluh tahun bekerja di nusantara. Dari beragam hal yang ia ceritakan, hal yang paling ia kagumi ialah bagaimana mungkin orang Indonesia selalu berkata ‘Gak apa apa, santai saja’ setelah seseorang tidak datang tepat waktu atau melanggar janjinya.
Menurut Anda, haruskah ada kata ‘maaf’ disana?
Sepertinya, tidak ada yang harus meminta maaf ketika salah, berterima kasih ketika telah dimudahkan, atau mungkin ‘tolong’ ketika merasa (akan) merepotkan orang lain. Manusia hanya perlu memahami bahwa setiap orang butuh kata kecil itu, and those tiny words make you more than just a human. Kata-kata yang menyenangkan hati dan melambangkan rendah diri seorang pribadi. Mikroekonomi merangkumnya dengan sebuah kalimat: People respond to incentives.
Langganan:
Postingan (Atom)